Saham BBCA Melesat, Laba Bersih Kuartal III/2025 Tembus Rp43,4 Triliun

Shopee Flash Sale

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar Rp43,4 triliun pada kuartal III/2025, naik 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp41,1 triliun. Kinerja positif ini langsung berdampak pada pergerakan saham BBCA yang melejit di awal perdagangan pekan ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, saham BBCA ditutup naik 5% di level Rp7.875 per saham. Sentimen positif berlanjut pada Senin pagi hingga pukul 09.20 WIB, dimana saham ini kembali menguat 4,13% menjadi Rp8.200 per saham, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap performa keuangan perusahaan tersebut.

Kinerja Keuangan dan Prediksi Analis

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas melihat laba bersih yang dicapai BBCA sesuai dengan ekspektasi pasar di tengah tantangan kenaikan biaya operasional (Cost of Credit/CoC) akibat pelemahan daya beli konsumen dan upaya pencadangan yang bersifat proaktif. "BBCA membukukan laba bersih Juli—September 2025 sebesar Rp14,4 triliun karena CoC yang lebih tinggi mengimbangi pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang kuat. Secara kumulatif 9 bulan, net profit mencapai Rp43,4 triliun, naik sekitar 6% YoY sejalan dengan proyeksi dan konsensus," ungkapnya dalam laporan riset terbaru.

Manajemen BBCA menyatakan optimisme mereka untuk kuartal berikutnya dengan harapan peningkatan penyaluran kredit, perbaikan pada dana murah CASA, pendapatan biaya yang lebih tinggi, serta kualitas aset yang makin membaik. Meskipun terjadi tekanan pada net interest margin (NIM) akibat suku bunga rendah, bank tetap optimistis akan mempertahankan performanya. Oleh karena itu, analis mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp11.200, menilai kualitas aset bank sebagai keunggulan kompetitif utama.

Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, turut mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit BBCA per September 2025 mencapai 7,6% year-on-year (YoY) menjadi Rp944 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi kredit yang terjaga kualitasnya serta likuiditas perseroan yang sehat. Dari segi perolehan dana pihak ketiga (DPK), BBCA mencatat kenaikan sebesar 7% secara tahunan yang didominasi oleh dana murah berupa current account dan saving account (CASA).

Secara rinci, kenaikan kredit pada segmen korporasi menjadi yang paling signifikan dengan pertumbuhan sebesar 10,4% YoY, mencapai Rp436,9 triliun. Segmen kredit komersial naik 5,7% YoY menjadi Rp142,9 triliun, disusul kredit usaha kecil dan menengah (UKM) yang tumbuh 7,7% YoY hingga Rp129,3 triliun. Sementara itu, kredit konsumer naik sebesar 3,3% YoY menjadi Rp223,6 triliun, dipicu oleh kenaikan kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 6,4% YoY ke level Rp138,8 triliun.

Dari sisi dana murah, CASA BBCA mengalami pertumbuhan 9,1% YoY mencapai Rp999 triliun. Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas transaksi nasabah yang meningkat sebesar 78% dalam tiga tahun terakhir, menandakan pertumbuhan engagement dan loyalitas nasabah yang terus membaik.

Daya Tarik Saham dan Prospek Ke Depan

Penguatan laba dan peningkatan pos-pos keuangan utama BBCA telah memberikan sinyal positif di pasar modal. Saham BBCA pun menjadi pilihan utama di sektor perbankan, didukung oleh fundamental yang kokoh dan pengelolaan risiko yang prudent. Meskipun ada tekanan dari suku bunga rendah dan kondisi makro ekonomi yang menantang, manajemen dan analis tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan yang berkelanjutan.

Investor disarankan untuk memperhatikan dinamika pasar dan kinerja kuartal ke depan, terutama terkait kebijakan pencadangan, ekspansi kredit, serta perkembangan pendapatan non-bunga. Kinerja BBCA yang solid hingga kuartal III/2025 menunjukkan bank ini terus mampu mengelola tantangan sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan dalam industri perbankan Indonesia.

Disclaimer: Berita ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi.

Source: finansial.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button