Pembiayaan Baru Paylater Akulaku Naik 46%, Populer di Gen Z dan Milenial

Author: Qoo Media

Pembiayaan baru layanan paylater yang disediakan oleh PT Akulaku Finance Indonesia mencatat lonjakan yang signifikan pada tahun ini. Menurut data terbaru yang dikutip dari Bisnis.com, perusahaan ini berhasil mencapai pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 46% secara year on year (YoY) per September 2025. Kenaikan ini menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, dalam memanfaatkan metode pembayaran yang semakin populer di kalangan pengguna digital.

Kontribusi dan Demografi Pengguna

Direktur Keuangan Akulaku, Aan Setiawandi, menjelaskan bahwa bisnis paylater menyumbang sekitar 89% dari total portofolio perusahaan. Mayoritas pengguna berasal dari segmen usia 25 hingga 45 tahun, yang mencerminkan kelompok milenial dan Gen Z. “Sebagian besar pemanfaatan paylater kami fokus pada kebutuhan sehari-hari, dengan penyebaran utama di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat,” jelas Aan. Penetrasi tinggi di area urban ini mendukung dominasi metode pembiayaan digital di kalangan warga yang lebih akrab dengan teknologi dan layanan finansial berbasis aplikasi.

Strategi Perluasan dan Peningkatan Kualitas Pembiayaan

Untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan tersebut, Akulaku secara aktif memperluas kerja sama dengan berbagai marketplace dan merchant offline. Menurut Aan, perusahaan menyeimbangkan ekspansi bisnis dengan pemeliharaan kualitas pembiayaan. Hal ini penting untuk menghindari risiko kredit bermasalah yang dapat mempengaruhi kestabilan keuangan perusahaan. "Kami berupaya memastikan bahwa pertumbuhan penyaluran kredit tetap terjaga sehat dan terkelola dengan baik," tambahnya.

Peluang dan Tantangan Bisnis Paylater

Dalam konteks industri yang lebih luas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi tren positif terhadap layanan buy now pay later (BNPL) di sektor multifinance. Secara nasional, pembiayaan BNPL meningkat hampir 80% menjadi Rp9,97 triliun per Agustus 2025, mencerminkan penerimaan yang sangat baik dari masyarakat. Talent dan teknologi digital yang semakin matang juga menjadi faktor utama kemudahan dan percepatan proses akuisisi nasabah paylater.

Namun, di balik potensi besar tersebut, pengamat industri menyuarakan kewaspadaan terkait risiko kredit macet. Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, mengingatkan bahwa risiko tunggakan pembayaran pernah meningkat hingga 3,78% pada April 2025. Menurutnya, risiko ini terutama disebabkan oleh kurangnya pengawasan terhadap kelompok usia baby boomers yang menggunakan paylater. Heru juga menggarisbawahi fenomena over-indebtedness yang terjadi pada lebih dari 29 juta pengguna paylater, yang berpotensi menimbulkan gelembung kredit nasional jika tidak disikapi dengan filterisasi yang ketat.

Peran Digitalisasi dan Kecenderungan Konsumen

Keberhasilan Akulaku dan pertumbuhan BNPL secara umum erat kaitannya dengan kecanggihan proses digital dalam merespons kebutuhan pengguna. Proses digital yang mudah dan cepat memungkinkan pelanggan dari kalangan muda, yang juga dikenal sebagai digital savvy, untuk melakukan transaksi konsumsi dengan metode cicilan tanpa kartu kredit ini. Hal ini turut mengubah pola konsumsi menjadi lebih fleksibel, sekaligus mempercepat adopsi layanan keuangan alternatif dari perusahaan fintech.

Data Penting:

  1. Pertumbuhan pembiayaan baru paylater Akulaku: 46% YoY (September 2025)
  2. Kontribusi paylater terhadap portofolio Akulaku: 89%
  3. Mayoritas pengguna: usia 25—45 tahun (generasi Z dan milenial)
  4. Wilayah penyebaran utama: Jabodetabek dan Jawa Barat
  5. Total pembiayaan BNPL perusahaan multifinance nasional: Rp9,97 triliun (Agustus 2025), tumbuh 79,91% YoY
  6. Risiko kredit macet tercatat sampai 3,78% pada April 2025

Model pembiayaan paylater yang dihadirkan Akulaku terus menunjukkan pengaruh signifikan dalam industri finansial digital Indonesia. Dengan pemantauan risiko yang tepat dan inovasi layanan yang berkelanjutan, peluang pertumbuhan bisnis ini diyakini masih sangat besar, terutama di kalangan konsumen muda yang semakin mengandalkan teknologi dalam setiap transaksi keuangannya.

Source: finansial.bisnis.com

Terbaru