Ancaman kekerasan digital dan kejahatan siber terhadap perempuan di Indonesia semakin meningkat. Data dari Survei Profil Kekerasan terhadap Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan sekitar 7,2 juta perempuan pernah mengalami kekerasan digital dari non-pasangan. Kelompok usia 15-24 tahun menjadi yang paling rentan terhadap ancaman tersebut.
Dalam merespons situasi ini, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) bekerja sama dengan UNFPA meluncurkan program SHECURE Digital. Program ini bertujuan menciptakan ekosistem digital yang aman dan inklusif, khususnya untuk melindungi hak-hak perempuan dan anak dari risiko kejahatan siber.
Tiga Pilar Utama SHECURE Digital
SHECURE Digital dibangun berdasarkan tiga pilar utama yang relevan dengan kebutuhan kaum perempuan dan remaja:
-
SHECURE CLASS (Edukasi): Memberikan literasi digital kepada perempuan dan remaja. Edukasi mencakup pengelolaan privasi, keamanan akun, serta cara menghadapi berbagai kejahatan siber seperti pelecehan dan penipuan online.
-
SHECURE SHIELD (Perlindungan Teknis): Menghadirkan solusi teknologi yang mengutamakan privasi pengguna. Sistem ini dirancang tanpa pengawasan berlebihan sehingga tetap menjaga ruang privasi individu.
- SHECURE VOICES (Advokasi): Membangun komunitas dan ruang dialog yang mendorong perempuan dan anak untuk bisa berbicara serta mendapatkan dukungan saat menghadapi kekerasan digital. Pilar ini ikut memperkuat keberanian dalam menghadapi masalah siber.
Teknologi Unggulan IntelliBroń Aman
ITSEC Asia menghadirkan teknologi canggih bernama IntelliBroń Aman sebagai penggerak utama pilar perlindungan teknis. Teknologi ini memiliki tiga fungsi utama:
-
Deteksi Dini: Mampu mengidentifikasi tautan berbahaya, aplikasi berisiko, dan aktivitas mencurigakan secara real-time. Hal ini memungkinkan pencegahan dini terhadap potensi serangan siber.
-
Mandiri dan Sadar: Memberikan notifikasi yang mudah dipahami sehingga pengguna dapat membuat keputusan yang aman dan tepat terkait aktivitas digital mereka.
- Privasi Terjaga: Teknologi ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) tanpa mengumpulkan atau memanfaatkan data pribadi pengguna, menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi.
Dukungan Pemerintah dalam Perlindungan Digital
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, yang hadir dalam peluncuran SHECURE Digital menegaskan pentingnya upaya kolaborasi lintas sektor untuk memerangi kekerasan digital. Ia menyatakan bahwa dampak kekerasan siber tidak hanya pada keamanan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial korban.
Menteri Arifah juga menekankan bahwa program seperti SHECURE Digital melengkapi regulasi yang sudah berjalan, termasuk Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan Peta Jalan Perlindungan Anak Online 2025-2029. Ia menyatakan, “Tanggung jawab kita jelas, memastikan perempuan dan anak perempuan dapat berpartisipasi dalam masa depan digital dengan percaya diri dan bermartabat.”
Signifikansi SHECURE Digital bagi Masa Depan
Peluncuran SHECURE Digital menjadi langkah strategis dalam menghadapi lonjakan kejahatan siber yang menyasar perempuan dan anak. Program ini tidak hanya mendidik, tapi juga memberikan perlindungan teknis dan dukungan advokasi yang komprehensif.
Penerapan teknologi IntelliBroń Aman menunjukkan bahwa perlindungan digital dapat dilakukan tanpa melanggar privasi pengguna. Ini sejalan dengan tren global dalam menjaga hak dan keamanan data pribadi di dunia digital.
Dengan pendekatan holistik dari edukasi hingga advokasi serta komitmen pemerintah, SHECURE Digital memberi harapan baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya perempuan dan anak, untuk merasakan ruang digital yang lebih aman dan inklusif ke depan.
