Divisi mobile Samsung dilaporkan berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah rekor prapemesanan seri Galaxy S26, unit bisnis ini justru disebut berisiko mencatat kerugian pertama dalam sejarahnya.
Laporan dari FNNews menyebut Samsung Electronics menempatkan divisi mobile, Samsung MX, dalam mode darurat. Langkah itu memperkuat sinyal bahwa lonjakan penjualan ponsel premium belum cukup untuk menahan tekanan biaya yang kini menghantam bisnis perangkat konsumen perusahaan.
Samsung MX Masuk Mode Darurat
Samsung MX merupakan bagian dari bisnis Device Experience atau DX. Kelompok usaha ini juga mencakup divisi peralatan rumah tangga serta TV dan monitor.
Menurut laporan tersebut, dua divisi lain di bawah DX lebih dulu menjalankan langkah darurat. Kini, seluruh lini DX disebut berada dalam pengawasan efisiensi yang lebih ketat karena tekanan profitabilitas yang makin besar.
Informasi ini muncul hanya beberapa pekan setelah Samsung memperkenalkan seri Galaxy S26. Saat peluncuran, perusahaan menyatakan ponsel flagship terbarunya memecahkan rekor prapemesanan sebelumnya dan mencatat pertumbuhan dua digit di sejumlah pasar.
Kinerja awal itu menunjukkan permintaan konsumen masih kuat di segmen premium. Namun dari sisi keuangan, penjualan tinggi tidak otomatis menghasilkan margin yang sehat ketika biaya komponen meningkat tajam.
Kenaikan Harga Chip Jadi Tekanan Utama
Salah satu sumber tekanan terbesar disebut berasal dari kenaikan harga chip memori. Dalam setahun terakhir, harga chip memori dilaporkan melonjak sekitar 8,5 kali lipat atau 850%.
Kenaikan itu sangat penting bagi Samsung MX karena ponsel kelas atas membutuhkan konfigurasi memori yang lebih tinggi. Artinya, setiap perangkat yang terjual bisa membawa beban biaya yang lebih besar dibanding periode sebelumnya.
Di industri smartphone, margin laba sangat sensitif terhadap perubahan biaya komponen. Ketika perusahaan tetap harus menjaga daya saing harga, kenaikan ongkos produksi biasanya langsung memangkas profit.
Kondisi ini menjelaskan mengapa rekor prapemesanan belum tentu berujung pada hasil akhir yang kuat. Dalam bisnis perangkat keras, volume penjualan yang besar bisa tereduksi nilainya jika biaya bahan baku bergerak lebih cepat daripada pendapatan.
Laba Operasional Terancam Turun Tajam
Data dalam laporan itu menunjukkan Samsung MX membukukan laba operasional KRW 12.9 trillion pada tahun lalu. Tahun ini, laba operasional divisi tersebut disebut bisa turun menjadi sekitar KRW 5 trillion.
Penurunan itu menunjukkan selisih yang sangat besar dalam waktu singkat. Jika proyeksi tersebut terjadi, tekanan pada kinerja DX akan makin terasa karena divisi lain juga menghadapi tantangan yang serupa.
Margin laba Samsung MX juga disebut berpotensi menyusut drastis. Setelah berada di level 11% pada kuartal pertama, margin itu diperkirakan bisa turun menjadi hanya 3%.
Sejumlah sumber internal bahkan menilai menjaga margin 1% saja dapat menjadi tugas sulit pada tahun berikutnya. Dari titik itu, kekhawatiran soal potensi rugi untuk pertama kalinya mulai mencuat.
Bukan Hanya Samsung
Tekanan ini tidak dipandang sebagai kasus yang berdiri sendiri. Laporan yang sama menilai situasi serupa bisa dihadapi banyak merek smartphone lain seperti Honor, OPPO, Vivo, dan Xiaomi.
Hal itu sejalan dengan karakter industri ponsel yang sangat bergantung pada rantai pasok global. Saat harga komponen inti melonjak, dampaknya biasanya terasa luas di hampir semua pemain, terutama yang mengandalkan volume besar dan persaingan harga ketat.
Merek yang fokus pada segmen menengah ke atas bisa sedikit terbantu oleh harga jual yang lebih tinggi. Namun perlindungan itu tidak selalu cukup ketika biaya memori, panel, kamera, dan logistik bergerak naik secara bersamaan.
Langkah Penghematan di Seluruh Divisi
Sebagai respons, Samsung dilaporkan memerintahkan pengurangan biaya sebesar 30% di seluruh divisi. Kebijakan ini menunjukkan fokus perusahaan kini tidak hanya pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga pada pengendalian pengeluaran secara agresif.
FNNews juga melaporkan aturan perjalanan dinas diperketat. Eksekutif DX di bawah level wakil presiden yang sebelumnya masih dapat terbang dengan kelas bisnis kini diwajibkan menggunakan kelas ekonomi untuk penerbangan di bawah 10 jam.
Langkah efisiensi juga dikabarkan menyentuh struktur tenaga kerja. Beberapa karyawan bisa dipindahkan ke unit lain, sementara sebagian staf senior disebut dapat didorong mengambil pensiun dini.
Divisi Digital Appliances yang menangani peralatan rumah tangga serta Visual Display yang membawahi TV dan monitor juga diperkirakan tetap berat. Keduanya disebut berpotensi mencatat kerugian gabungan sekitar KRW 200 billion, mirip dengan kinerja tahun lalu.
Fakta Penting yang Perlu Dicermati
- Galaxy S26 dilaporkan memecahkan rekor prapemesanan Samsung.
- Samsung MX disebut masuk mode darurat menurut FNNews.
- Harga chip memori naik sekitar 850% dalam setahun.
- Laba operasional MX berpotensi turun dari KRW 12.9 trillion menjadi sekitar KRW 5 trillion.
- Margin laba yang sempat 11% bisa turun ke 3%.
- Samsung memerintahkan pengurangan biaya 30% di seluruh divisi DX.
Bagi pasar, perkembangan ini penting karena menunjukkan jurang antara kesuksesan produk dan kesehatan laba perusahaan. Samsung masih bisa menjual banyak ponsel premium, tetapi tantangan yang lebih besar kini ada pada kemampuan mempertahankan margin saat biaya komponen terus menekan bisnis mobile secara langsung.
