BMW resmi menguji robot humanoid AEON di fasilitas iFACTORY Leipzig sebagai bagian dari inovasi dalam produksi mobil listrik. Robot ini didesain khusus untuk mengotomatisasi pekerjaan repetitif dengan presisi tinggi, terutama dalam perakitan modul baterai tegangan tinggi.
AEON dikembangkan oleh Hexagon Robotics asal Swiss dan memiliki tinggi sekitar 1,65 meter dengan bobot 60 kilogram. Berbeda dari robot humanoid konvensional, AEON menggunakan roda sebagai pengganti kaki untuk meningkatkan kecepatan dan stabilitas di lantai pabrik yang rata.
Robot ini bertugas merakit baterai dan melakukan pengencangan baut pada komponen tegangan tinggi. Pekerjaan tersebut biasanya memerlukan ketelitian penuh dan daya tahan fisik tinggi jika dilakukan manusia. Dengan AEON, proses ini menjadi lebih konsisten dan efisien.
Salah satu keunggulan AEON adalah integrasi teknologi “Physical AI” yang memungkinkan robot beroperasi secara mandiri. AEON dilengkapi dengan 22 sensor, termasuk kamera dan mikrofon, yang membantu pemetaan lingkungan secara real-time dan memungkinkan robot menghindari rintangan di sekitar pekerja manusia.
Selain itu, AEON mengandalkan perangkat keras NVIDIA Jetson Orin untuk komputasi data sensor. Chipset ini mengolah informasi dengan kecepatan tinggi, sehingga pergerakan robot bisa halus dan presisi. Sistem baterainya juga dapat mengganti daya secara otomatis tanpa menghentikan operasional robot.
Pengujian AEON di Leipzig merupakan kelanjutan dari program pilot selama 10 bulan di pabrik Spartanburg, Amerika Serikat. Dalam periode tersebut, AEON berhasil menangani lebih dari 90.000 suku cadang dan membantu produksi sekitar 30.000 kendaraan listrik.
Keberhasilan ini mendorong BMW untuk memperluas penggunaan AEON di lini produksi mereka secara global. Rencana pengembangan meliputi skala yang lebih besar demi mengoptimalkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas tinggi produksi mobil listrik BMW.
Penggunaan robot humanoid kini menjadi tren di berbagai produsen otomotif besar. Tesla mengembangkan robot humanoid bernama Optimus, sementara Mercedes-Benz dan Hyundai juga memperkenalkan teknologi serupa. Tren ini menandai transformasi besar dalam industri manufaktur kendaraan listrik.
BMW memandang teknologi ini sebagai standar masa depan untuk manufaktur otomotif. Integrasi mesin cerdas dan sumber daya manusia diharapkan mampu menciptakan proses produksi yang aman, cepat, dan berkelanjutan.
Berikut adalah poin utama soal robot humanoid AEON dalam produksi BMW:
1. Dirancang untuk perakitan baterai dan tugas repetitif dengan akurasi tinggi.
2. Memiliki tinggi 1,65 meter, berat 60 kg, dan bergerak menggunakan roda.
3. Dilengkapi 22 sensor canggih untuk navigasi dan penghindaran rintangan.
4. Menggunakan chipset NVIDIA Jetson Orin untuk komputasi cepat dan gerakan halus.
5. Sistem baterai dapat diganti otomatis, memaksimalkan waktu kerja robot.
6. Sudah diuji coba di pabrik Spartanburg sebelum diperluas di Leipzig.
7. Menunjukkan potensi besar dalam transformasi industri manufaktur otomotif.
BMW juga berencana memulai program percontohan yang lebih masif pada akhir musim panas. Hal ini bertujuan untuk memperluas penerapan robot humanoid sekaligus mematangkan proses operasional di lini produksi global.
Pengujian AEON membuka peluang baru dalam otomasi industri yang memberikan keuntungan berupa peningkatan kualitas, kecepatan produksi, dan pengurangan risiko cedera tenaga kerja. Dengan pengembangan berkelanjutan, robot ini bisa menjadi komponen vital dalam produksi mobil ramah lingkungan masa depan.









