
Ambisi Mark Zuckerberg untuk menjadikan metaverse sebagai ruang virtual utama kini terlihat kian melemah. Penutupan Horizon Worlds memicu pertanyaan baru di pasar, termasuk apakah headset Galaxy XR dari Samsung ikut berada di jalur yang berisiko.
Jawaban singkatnya, tidak secara langsung. Horizon Worlds sejak awal dibangun untuk ekosistem Meta Quest, sehingga penghentiannya tidak otomatis mengganggu strategi Galaxy XR yang dikembangkan Samsung bersama Google dengan pendekatan berbeda.
Metaverse ala Meta kehilangan pijakan
Horizon Worlds pernah diposisikan sebagai pusat pengalaman virtual Meta. Namun setelah bertahun-tahun pengembangan dan pembakaran dana dalam jumlah miliaran dolar, platform itu justru menjadi simbol bahwa adopsi metaverse belum pernah benar-benar kuat di pasar massal.
Situasi ini memberi sinyal penting bagi industri. Gagasan tentang “dunia paralel” digital yang dihuni banyak orang lewat headset VR ternyata belum terbukti menjadi kebutuhan utama pengguna.
Di luar lingkaran kecil penggemar teknologi, minat terhadap metaverse memang cenderung terbatas. Banyak pengguna VR membeli perangkat bukan untuk hidup di dunia virtual permanen, melainkan untuk bermain gim, menonton konten, atau mencoba pengalaman imersif tertentu.
Meta sendiri lama mendorong narasi bahwa metaverse akan menjadi versi baru internet. Namun pendekatan itu dinilai terlalu jauh dari kebutuhan praktis harian, apalagi ketika perusahaan juga dipersepsikan ingin menjadi perantara transaksi digital di dalam ekosistem tersebut.
Mengapa Galaxy XR tidak terikat pada kegagalan Horizon Worlds
Galaxy XR tidak dibangun sebagai salinan Quest dengan dunia virtual tertutup. Samsung dan Google justru menekankan perpaduan VR, AR, dan AI untuk memperluas fungsi dunia nyata, bukan menggantinya sepenuhnya dengan ruang virtual.
Perbedaan inilah yang membuat posisi Galaxy XR relatif lebih aman. Jika Horizon Worlds gagal karena konsep metaverse sulit diterima luas, maka Galaxy XR tidak membawa beban strategi yang sama sejak awal.
Secara teknis, Galaxy XR tetap memiliki kemampuan VR penuh. Namun demonstrasi teknologi yang muncul sejauh ini lebih banyak menonjolkan penggunaan yang dekat dengan realitas, termasuk antarmuka spasial, objek digital di ruang fisik, dan dukungan kecerdasan buatan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah industri yang kini lebih fokus pada AI. Ketika perhatian pasar bergeser dari metaverse ke AI generatif dan pengalaman mobile yang lebih nyata manfaatnya, Samsung dan Google terlihat berada di posisi yang lebih sesuai dengan tren.
Apakah Galaxy XR benar-benar aman?
Aman bukan berarti tanpa risiko. Produk ini tetap masuk kategori perangkat yang pasarnya belum matang sepenuhnya, dengan tantangan di harga, kenyamanan penggunaan jangka panjang, ketersediaan aplikasi, serta alasan kuat bagi konsumen untuk memakainya setiap hari.
Namun jika pertanyaannya apakah Galaxy XR terancam hanya karena Horizon Worlds ditutup, jawabannya cenderung tidak. Risiko terbesar Galaxy XR justru berasal dari tantangan umum pasar XR, bukan dari runtuhnya proyek metaverse Meta.
Ada beberapa alasan yang membuat ancaman itu berbeda:
-
Ekosistemnya berbeda
Horizon Worlds eksklusif untuk Quest, sedangkan Galaxy XR dipersiapkan dalam ekosistem Samsung dan Google. -
Fokus produknya berbeda
Meta mendorong dunia virtual sosial, sementara Galaxy XR lebih diarahkan ke komputasi spasial, AR, dan AI. -
Arah industrinya berubah
Minat investor dan konsumen kini lebih condong ke AI yang fungsinya lebih mudah dipahami. - Use case lebih praktis
AR dan AI berpotensi menawarkan manfaat langsung, seperti layar virtual, navigasi, produktivitas, dan kontrol perangkat rumah.
Masalah utama industri VR belum selesai
Penutupan Horizon Worlds juga menegaskan satu hal yang lebih besar. Industri belum sepenuhnya menemukan jawaban tunggal tentang fungsi utama VR bagi publik luas.
Selama ini VR sering tampil mengesankan dalam demo. Tetapi penggunaan sehari-hari masih terbatas karena banyak orang belum melihat urgensi untuk terus memakai headset dalam waktu lama.
Dalam konteks itu, Samsung tampaknya mencoba menghindari jebakan yang sama. Alih-alih menjual mimpi dunia virtual total, perusahaan ini lebih mungkin menawarkan perangkat yang menempatkan konten digital di atas dunia nyata.
Tetap ada sisi kritis yang perlu dicermati. Jika pada akhirnya Galaxy XR hanya menghadirkan versi baru dari layar, notifikasi, dan objek digital tanpa kegunaan yang benar-benar lebih baik daripada ponsel atau tablet, maka tantangan adopsinya akan tetap besar.
AI bisa menjadi pembeda, tapi belum tentu penentu
Keunggulan yang paling sering disebut untuk Galaxy XR adalah integrasi AI. Ini penting karena AI dapat membantu interaksi yang lebih natural, pencarian kontekstual, asisten visual, hingga pengenalan lingkungan secara real time.
Bagi Samsung, faktor ini memberi nilai tambah dibanding perangkat yang hanya mengandalkan imersi visual. AI membuat headset lebih mudah diposisikan sebagai alat produktivitas dan komputasi, bukan sekadar pintu masuk ke metaverse.
Meta juga mulai mengalihkan sumber daya ke pengalaman mobile dan AI. Namun Samsung dinilai sudah lebih dulu kuat di dua area itu, sehingga Galaxy XR memiliki peluang untuk masuk pasar dengan narasi yang lebih relevan terhadap kebutuhan pengguna saat ini.
Yang jelas, matinya Horizon Worlds bukan vonis otomatis bagi Galaxy XR. Perangkat Samsung itu akan lebih ditentukan oleh seberapa baik ia membuktikan manfaat nyata VR, AR, dan AI dalam kehidupan sehari-hari, bukan oleh kegagalan mimpi metaverse yang dulu dibawa Meta.
Source: www.sammobile.com








