Samsung menegaskan tidak khawatir dengan kemitraan TCL dan Sony di bisnis TV. Pernyataan itu muncul saat persaingan pasar televisi global makin ketat, terutama ketika TCL terus memperkecil jarak dengan pemimpin pasar asal Korea Selatan tersebut.
Di tengah spekulasi bahwa TCL bisa menyalip Samsung dalam waktu dekat, perusahaan menilai posisi bisnis TV-nya masih sangat kuat. Samsung juga menekankan bahwa kekuatan gabungan TCL dan Sony belum tentu langsung mengubah peta persaingan secara signifikan.
Samsung tetap percaya diri
Samsung saat ini masih menjadi merek TV terbesar di dunia. Posisi itu disebut telah dipertahankan selama 20 tahun berturut-turut, sebuah capaian yang menunjukkan dominasi panjang di pasar televisi global.
Namun, tekanan dari para pesaing kini semakin nyata. TCL menjadi salah satu penantang utama karena pertumbuhan pengiriman unitnya berlangsung cepat dan mulai mendekati capaian Samsung.
Kepala Samsung Visual Display, Yong Seok-woo, mengatakan perusahaan tidak melihat kerja sama TCL dan Sony sebagai ancaman besar dalam waktu dekat. Menurut dia, Samsung masih memiliki modal yang cukup untuk bersaing berdasarkan kekuatan sendiri.
Dalam konferensi pers, Yong menilai ukuran bisnis TV Sony masih jauh di bawah Samsung. Ia menyebut pengiriman tahunan Sony diperkirakan sekitar 4 juta unit, atau hanya sekitar sepersepuluh dari volume Samsung.
Yong mengatakan, “Sony’s annual shipments are estimated at 4 million units, about one-tenth of ours. A simple merger alone will not be enough.” Pernyataan itu menegaskan bahwa Samsung memandang skala tetap menjadi faktor penting dalam persaingan industri TV.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi memang mungkin muncul bila teknologi TCL dipadukan dengan nilai merek premium milik Sony. Meski begitu, Samsung menilai keunggulannya tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kekuatan merek, skala produksi, dan posisi pasar.
Data pasar menunjukkan persaingan dua level
Jika dilihat dari sisi pendapatan, Samsung masih memimpin dengan jarak yang cukup lebar. Data Counterpoint Research menunjukkan Samsung menguasai 29,1 persen pangsa pasar TV global berdasarkan pendapatan.
Di segmen premium, dominasi Samsung bahkan lebih kuat. Pangsa pasarnya mencapai 54,3 persen, menandakan posisi perusahaan masih sangat solid pada kategori TV dengan harga dan fitur lebih tinggi.
Akan tetapi, gambaran pasar berubah bila dilihat dari jumlah pengiriman unit. Dalam metrik ini, selisih Samsung dan TCL jauh lebih tipis, sehingga kompetisi terlihat lebih terbuka.
Counterpoint Research mencatat Samsung memiliki pangsa sekitar 15 persen berdasarkan pengiriman. Sementara itu, TCL sudah berada di 13 persen, hanya terpaut tipis dari pemimpin pasar.
Bahkan, TCL sempat melampaui Samsung dalam pengiriman unit pada Desember 2025. Fakta ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Samsung bukan sekadar prediksi analis, melainkan sudah mulai terlihat dalam data pasar.
Mengapa kemitraan TCL-Sony jadi sorotan
Kemitraan ini menarik perhatian karena mempertemukan dua kekuatan yang berbeda. TCL dikenal agresif dalam volume dan teknologi panel, sedangkan Sony punya citra premium yang kuat di banyak pasar.
Bila kedua keunggulan itu benar-benar terintegrasi dengan baik, dampaknya bisa terasa pada segmen menengah hingga premium. Kombinasi efisiensi produksi TCL dan reputasi Sony berpotensi menciptakan tekanan baru bagi para pemain besar.
Meski demikian, integrasi bisnis tidak selalu langsung menghasilkan dampak pasar. Ada faktor produk, distribusi, strategi harga, dan persepsi merek yang menentukan keberhasilan kolaborasi semacam ini.
Samsung tampaknya membaca situasi itu dengan cukup tenang. Perusahaan menilai kemitraan di atas kertas tidak otomatis mengubah loyalitas konsumen atau menggeser posisi pasar yang dibangun selama bertahun-tahun.
Peta kekuatan Samsung saat ini
Ada beberapa alasan mengapa Samsung masih cukup percaya diri menghadapi perubahan ini:
- Skala bisnis global yang jauh lebih besar.
- Posisi kuat di pasar premium berdasarkan pendapatan.
- Rekam jejak panjang sebagai merek TV nomor satu dunia.
- Kemampuan bersaing tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga merek dan distribusi.
Keunggulan itu penting karena industri TV tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Pengiriman unit memang penting, tetapi pendapatan, margin, dan dominasi di kelas premium juga menjadi ukuran utama kekuatan bisnis.
Momentum pasar bisa berubah
Pasar TV global diperkirakan kembali bergairah menjelang FIFA World Cup 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juni dan Juli. Ajang olahraga besar seperti ini biasanya mendorong penjualan TV karena banyak konsumen memilih memperbarui perangkat hiburan rumah mereka.
Momentum tersebut bisa menjadi arena uji baru bagi semua pemain utama. Samsung akan berusaha mempertahankan dominasinya, sementara TCL berpeluang memanfaatkan tren peningkatan permintaan untuk terus menekan jarak, termasuk lewat efek kolaborasi dengan Sony yang kini menjadi perhatian industri.
