Apple diprediksi akan masuk ke pasar ponsel lipat dengan langkah besar melalui iPhone Fold. Laporan Counterpoint Research yang dikutip Techbiz.id menyebut Apple berpotensi merebut 46% pangsa pasar ponsel lipat di Amerika Utara pada tahun pertama kehadirannya.
Proyeksi itu langsung memunculkan pertanyaan baru tentang posisi Samsung. Laporan yang sama memperkirakan pangsa Samsung turun dari 51% pada 2025 menjadi 29% pada 2026, yang berarti dominasi panjang Samsung di segmen foldable bisa mulai tergerus lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Prediksi yang Mengubah Peta Persaingan
Angka 46% bukan sekadar proyeksi biasa karena langsung menempatkan Apple di posisi hampir selevel pemimpin pasar. Jika skenario itu terjadi, Samsung tidak lagi menikmati status dominan seperti selama ini, terutama di pasar Amerika Utara yang sangat penting bagi strategi premium kedua perusahaan.
Namun, prediksi pasar tetap harus dibaca dengan hati-hati karena perilaku konsumen Apple sering kali dipengaruhi ekosistem, loyalitas merek, dan ekspektasi tinggi terhadap produk baru. Dalam kategori ponsel lipat, faktor tersebut bisa membantu Apple, tetapi juga bisa menjadi beban jika produk pertama belum matang.
Samsung Masih Punya Modal Kuat
Samsung tetap memiliki keunggulan yang sulit diabaikan karena sudah melewati tujuh generasi ponsel lipat bergaya buku. Pengalaman itu membuat desain Galaxy Z Fold terus berubah dari waktu ke waktu, mulai dari ketebalan, bobot, hingga kenyamanan saat dilipat maupun dibuka.
Galaxy Z Fold 7 yang terbaru disebut menawarkan desain yang lebih ramping dan ringan, sehingga terasa seperti ponsel biasa saat ditutup. Standar itu akan menjadi tantangan besar bagi iPhone Fold, karena Apple harus menandingi bukan hanya spesifikasi, tetapi juga kematangan desain yang sudah dibangun Samsung selama bertahun-tahun.
Tantangan Desain iPhone Fold
Bocoran yang beredar menunjukkan iPhone Fold kemungkinan hadir dengan ukuran layar yang lebih besar. Di sisi lain, perangkat itu juga diperkirakan bisa lebih tebal dan lebih berat dibanding kompetitornya, sesuatu yang berpotensi mengurangi nilai praktis di mata pengguna premium.
Masalah seperti itu bisa menjadi penentu di pasar lipat, karena konsumen kelas atas biasanya menuntut perangkat yang tipis, ringan, dan nyaman dibawa. Jika iPhone Fold gagal menghadirkan pengalaman fisik yang setara atau lebih baik dari Galaxy Z Fold, maka daya tariknya akan lebih banyak bertumpu pada nama besar Apple semata.
Belajar dari Respons Pasar terhadap iPhone Air
Skeptisisme terhadap iPhone Fold juga muncul karena respons pasar terhadap iPhone Air yang dinilai belum sepenuhnya memuaskan. Produk itu disebut membawa inovasi, tetapi tetap menuntut kompromi pada daya tahan baterai dan fitur kamera, dua hal yang kerap menjadi pertimbangan utama pembeli.
Berikut faktor yang bisa membuat iPhone Fold menghadapi tantangan serupa:
- Konsumen harus menerima kompromi pada baterai.
- Kemampuan kamera bisa tidak setara dengan model Pro.
- Harga tinggi dapat membuat pembeli menunda keputusan.
- Pengguna iPhone kelas atas sudah puas dengan model existing.
Jika pola yang sama terjadi pada iPhone Fold, Apple mungkin kesulitan memaksa pengguna beralih dari iPhone 18 Pro atau iPhone 18 Pro Max. Dalam segmen premium, perubahan besar hanya terjadi bila manfaat yang ditawarkan benar-benar terasa jelas.
Perangkat Lunak Jadi Penentu
Di atas kertas, perangkat lipat tidak hanya dinilai dari desain, tetapi juga dari kemampuan perangkat lunaknya. Apple disebut akan menyiapkan antarmuka baru untuk layar 7,8 inci pada iPhone Fold, namun tantangannya adalah membuat ruang layar besar itu benar-benar berguna dalam aktivitas harian.
Samsung sudah lebih dulu mengubah lini Galaxy Z Fold menjadi perangkat multitasking yang matang. Dukungan menjalankan aplikasi berdampingan dan fitur Samsung DeX memberi nilai tambah yang kuat, terutama bagi pengguna yang ingin pengalaman mendekati desktop.
Apple memang dikenal mampu menyempurnakan perangkat lunak saat masuk ke kategori baru, tetapi publik masih menunggu seberapa jauh iOS 27 bisa memaksimalkan format lipat. Tanpa peningkatan nyata pada produktivitas dan kenyamanan, iPhone Fold berisiko tampil menarik di atas kertas tetapi belum cukup unggul dalam penggunaan harian.
Harga Bisa Menentukan Arah Pasar
Faktor harga juga tidak kalah penting karena pasar foldable masih sangat sensitif terhadap banderol. Jika iPhone Fold diposisikan terlalu tinggi, produk itu bisa menghadapi hambatan serupa dengan Galaxy Z TriFold yang dinilai kemahalan dan sulit menarik pasar lebih luas.
Tekanan harga ini membuat strategi Apple menjadi rumit karena perusahaan harus menjaga citra premium tanpa membuat perangkat terasa tidak masuk akal secara komersial. Dalam kondisi seperti itu, keberhasilan iPhone Fold tidak hanya ditentukan oleh ketenaran Apple, tetapi juga oleh sejauh mana perangkat itu bisa memberi alasan kuat bagi konsumen untuk benar-benar pindah dari ponsel lipat Samsung.







