
Ericsson melaporkan laba operasi inti yang sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar pada triwulan pertama, setelah biaya chip naik akibat lonjakan permintaan kecerdasan buatan. Tekanan juga datang dari perlambatan penjualan di Amerika Utara, pasar yang selama ini menjadi salah satu penopang utama bisnis perusahaan asal Swedia itu.
Kinerja tersebut membuat saham Ericsson tertekan di awal perdagangan di Stockholm. Pasar langsung merespons karena hasil ini menunjukkan bahwa biaya komponen masih menjadi risiko besar bagi produsen peralatan jaringan di tengah persaingan dan perubahan pola belanja operator telekomunikasi.
Biaya chip naik seiring dorongan permintaan AI
Ericsson menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan muncul sebagian karena tingginya permintaan teknologi AI yang ikut mendorong harga semikonduktor. CEO Börje Ekholm mengatakan perusahaan bekerja dengan pemasok untuk menekan dampak kenaikan itu, sementara kepala keuangan Lars Sandström menegaskan bahwa beban biaya juga perlu dibagi dengan pelanggan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga chip tidak hanya memengaruhi produsen perangkat elektronik, tetapi juga perusahaan infrastruktur telekomunikasi. Saat permintaan untuk AI meningkat, rantai pasok komponen ikut ketat dan biaya produksi menjadi lebih sulit dikendalikan.
Laba di bawah ekspektasi pasar
Ericsson mencatat laba operasi disesuaikan sebesar 5,2 miliar krona Swedia, atau sekitar 566 juta dolar AS, tidak termasuk biaya restrukturisasi. Angka itu berada di bawah estimasi rata-rata analis yang disurvei Infront, yakni 5,4 miliar krona.
Kinerja ini memperlihatkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase pemulihan yang tidak mulus. Meski tetap mencatat laba, selisih terhadap ekspektasi pasar cukup untuk memicu perhatian investor terhadap ketahanan margin usaha ke depan.
Penjualan Amerika Utara ikut melemah
Selain biaya chip, Ericsson juga menghadapi penurunan penjualan di Amerika Utara. Sandström menyebut penjualan di wilayah itu turun pada kisaran digit tunggal menengah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika permintaan terkait tarif masih kuat.
Amerika Utara tetap menjadi wilayah penting bagi Ericsson karena perusahaan memiliki eksposur besar di pasar tersebut. Kondisi ini semakin relevan setelah Ericsson memenangkan kontrak senilai 14 miliar dolar AS dengan operator AT&T pada 2023, yang sempat diharapkan membantu menyeimbangkan perlambatan investasi telekomunikasi di pasar lain.
Pendapatan bersih turun dan pasar bereaksi
Secara keseluruhan, penjualan bersih triwulanan Ericsson turun 10% dari tahun sebelumnya menjadi 49,3 miliar krona. Angka itu juga berada di bawah perkiraan pasar yang sebesar 50,7 miliar krona, sehingga menambah tekanan pada sentimen investor.
J.P. Morgan menilai hasil tersebut “lemah hingga sesuai” dan memperingatkan potensi dampak lanjutan pada saham Nokia jika kelemahan yang sama muncul di Amerika Utara. Dalam perdagangan pagi di Stockholm, saham Ericsson tercatat turun 1,6%, sementara saham Nokia di Helsinki juga melemah 1,5% setelah catatan analis tersebut.









