
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi sinyal tekanan baru bagi industri teknologi. Harga smartphone dan laptop berpotensi naik, dengan dampak yang diperkirakan mulai terasa pada kuartal III/2026 saat stok baru masuk dengan biaya impor yang lebih tinggi.
Tekanan itu belum tentu langsung muncul di etalase. Pelaku usaha masih bisa menahan harga sementara lewat stok lama dan kontrak pembelian sebelumnya, tetapi ruang itu makin sempit jika kurs tetap bergerak melemah.
Dampak kurs tidak selalu langsung ke konsumen
Direktur ICT Institute Heru Sutadi menilai penyesuaian harga biasanya baru terlihat ketika produk baru datang dengan struktur biaya yang berbeda. Menurut dia, kondisi tersebut lazim terjadi saat stok lama habis dan pengadaan berikutnya mengikuti kurs yang lebih mahal.
Heru menyebut kenaikan harga umumnya mulai terlihat pada kuartal III 2026. Setelah itu, tekanan harga diperkirakan bisa makin meluas pada kuartal IV, terutama di segmen menengah dan premium.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagian pedagang bisa lebih cepat menaikkan harga dengan alasan menguatnya dolar AS. Hal ini membuat dampak kurs di pasar ritel sering terasa lebih cepat daripada hitungan biaya di hulu.
Pasokan global ikut menentukan arah harga
Selain kurs, faktor global juga ikut membentuk harga perangkat digital. Heru menilai penurunan pengiriman smartphone secara global bisa menahan kenaikan harga untuk sementara karena permintaan melemah.
Namun, kondisi itu bisa berubah jika terjadi kelangkaan chipset atau komponen lain. Saat pasokan mengetat, biaya produksi ikut naik dan beban tersebut biasanya diteruskan ke konsumen.
Heru menekankan produsen sebaiknya tidak agresif dalam menyesuaikan harga. Efisiensi biaya, diversifikasi pemasok, dan promosi dinilai lebih efektif untuk menjaga daya beli pasar.
Ia juga menilai penyesuaian harga sebaiknya dilakukan bertahap agar permintaan tidak terguncang. Pola seperti ini dianggap lebih aman di tengah biaya impor yang terus berfluktuasi.
Segmen menengah dan premium paling rentan
Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community Tesar Sandikapura juga melihat kenaikan harga akan mulai terasa pada kuartal III. Menurut dia, puncak tekanan kemungkinan terjadi pada kuartal IV/2026 ketika model baru masuk dan harga lebih dekat mengikuti kurs.
Tesar menilai selama kuartal III, pasar masih banyak ditopang stok lama. Situasinya bisa berubah cepat ketika produk baru mulai dijual dengan biaya impor yang sudah menyesuaikan kondisi valuta asing.
Ia menambahkan, faktor global bahkan bisa lebih kuat daripada dampak kurs dalam beberapa kasus. Kelangkaan chipset dan suplai yang terbatas dapat mendorong harga naik lebih cepat dan lebih tinggi.
Karena itu, produsen diminta menahan kenaikan harga agar pasar bawah tetap bergerak. Tesar juga menyarankan strategi seperti minim upgrade teknologi dan memaksimalkan bonus atau cicilan untuk menjaga minat beli.
Rupiah bergejolak di tengah sentimen global
Di pasar валютa, rupiah sempat ditutup menguat 0,10% atau 18 poin ke Rp17.211 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/4/2026). Meski demikian, posisi itu masih lebih lemah dibandingkan bulan lalu pada hari yang sama.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa (28/4) kembali fluktuatif dan berpotensi melemah. Ia menyebut kisaran pergerakan rupiah berada di Rp17.210 sampai Rp17.260 per dolar AS.
Ibrahim menyoroti sentimen global yang dipicu gejolak perang AS-Iran. Menurut dia, pasar juga menimbang gangguan pasokan di tengah peluang dimulainya kembali pembicaraan damai antara kedua negara.
Ia menyebut Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang. Dalam usulan itu, Teheran juga disebut menawarkan penundaan negosiasi nuklir demi fokus pada penyelesaian konflik.
Source: teknologi.bisnis.com








