Pasar smartphone Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan pada kuartal II/2026 seiring dua faktor besar yang berjalan bersamaan, yakni krisis pasokan chip dan memori global serta pelemahan rupiah yang menyentuh Rp17.500. Kondisi itu membuat harga ponsel berpotensi naik di pasar nasional, sementara penjualan perangkat juga diperkirakan bergerak lebih lambat.
Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menilai industri smartphone global sedang berada di bawah tekanan biaya yang berat. Ia menjelaskan, produsen semikonduktor kini lebih memprioritaskan pasokan untuk server AI dan pusat data dibanding perangkat konsumen seperti smartphone, laptop, dan komputer pribadi.
Pasokan chip makin ketat
Heru menyebut perebutan chip dengan sektor data center ikut memengaruhi bisnis smartphone. Menurut dia, kelangkaan komponen sudah memunculkan kenaikan harga pada sebagian perangkat, karena pasokan yang tersedia tidak lagi longgar seperti sebelumnya.
“Pasokan chip di dunia sedang bermasalah karena berebutan dengan data center, sehingga ini kan mempengaruhi bisnis smartphone dan ada potensi, bahkan sudah terjadi kenaikan harga karena kelangkaan chip,” ujar Heru kepada Bisnis, Jumat (15/5/2026).
Tekanan ini tidak berhenti pada chip semata. Biaya produksi juga naik karena banyak komponen smartphone masih dihitung dalam dolar AS, sehingga pelemahan rupiah langsung berdampak pada harga pokok perangkat.
Rupiah di atas Rp17.000 menambah beban biaya
Heru menyoroti perubahan kurs yang kini bergerak di atas Rp17.000 per dolar AS. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan periode ketika ponsel banyak dihitung memakai kurs Rp15.000 per dolar AS, sehingga penyesuaian harga dianggap sulit dihindari.
“Kalau dulu rata-rata ponsel dihitung dengan kurs Rp15.000 per dolar AS, sekarang sudah Rp17.000 lebih. Banyak komponen dalam dollar AS sehingga mau tidak mau akan ada penyesuaian harga,” katanya.
Dalam situasi itu, produsen dan distributor diperkirakan harus menimbang ulang struktur harga jual. Jika tekanan biaya berlanjut, pasar Indonesia berpotensi melihat penyesuaian harga pada berbagai kelas smartphone, terutama model yang bergantung pada komponen impor.
Konsumen cenderung menahan belanja
Di sisi permintaan, Heru melihat konsumen semakin berhati-hati dalam membeli perangkat baru. Banyak pembeli disebut memilih sikap wait and see karena kondisi ekonomi yang belum pasti, apalagi jika ponsel lama masih berfungsi dengan baik.
Menurut dia, keputusan mengganti perangkat kini lebih selektif. Konsumen cenderung membeli hanya jika benar-benar membutuhkan, sementara yang masih bisa memakai ponsel lama akan menunda pembelian sampai situasi lebih jelas.
Polemik TKDN ikut membayangi industri
Selain tekanan global dan kurs rupiah, pasar smartphone domestik juga menghadapi isu kebijakan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN. Heru menyoroti kemungkinan pemberian fasilitas bea masuk 0% untuk produk Apple yang dinilai dapat memunculkan persepsi ketidakadilan di kalangan pelaku industri.
Ia menyebut sejumlah pabrikan yang sudah membangun fasilitas perakitan di Indonesia merasa kebijakan itu tidak seimbang. Keluhan tersebut, menurut Heru, mencerminkan kekhawatiran bahwa insentif yang berbeda dapat memengaruhi arah investasi produsen di dalam negeri.
“Kalau mereka menganggap ini ada ketidakadilan,” ujar Heru saat menjelaskan respons sebagian pabrikan terhadap kebijakan tersebut.
Heru menilai ketidakseimbangan implementasi TKDN bisa mendorong perubahan strategi pelaku industri. Jika aturan dianggap tidak setara, produsen dinilai lebih mungkin memilih membangun pusat pelatihan atau akademi ketimbang memperluas investasi manufaktur di Indonesia.
Pasar global masih berat
Tekanan pada pasar smartphone tidak hanya terasa di Indonesia. Secara global, industri ponsel juga masih bergulat dengan biaya tinggi dan persaingan ketat, terutama di segmen harga rendah.
Meski demikian, dua pemain besar, Samsung dan Apple, menjadi satu-satunya vendor di lima besar yang mencatat pertumbuhan tahunan. Samsung memimpin pasar dengan pengiriman 62,8 juta unit dan pangsa 21,7%, naik 3,6% secara tahunan dari 60,6 juta unit.
Apple menyusul di posisi kedua dengan pengiriman 61,1 juta unit dan pangsa 21,1%, tumbuh 3,3% secara tahunan dari 59,1 juta unit. Kinerja keduanya ditopang permintaan kuat pada lini unggulan, meski pasokan masih menghadapi sejumlah hambatan.
Di sisi lain, Xiaomi mencatat penurunan terdalam di antara lima besar dengan pengiriman 33,8 juta unit dan pangsa 11,7%, turun 19,1% secara tahunan dari 41,8 juta unit. OPPO juga turun menjadi 30,7 juta unit, sementara vivo mencatat 21,2 juta unit.
Secara keseluruhan, pengiriman smartphone global pada kuartal I/2026 mencapai 289,7 juta unit, turun 4,1% dari 302,0 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Data itu memperlihatkan bahwa tekanan biaya, pasokan, dan permintaan masih menjadi faktor utama yang membentuk arah pasar ponsel dalam beberapa bulan mendatang.
Source: teknologi.bisnis.com






