Hasan Aula Mengubah Arah Erajaya, Strategi Transformasi yang Mendorong Kinerja Melambung

Author: Qoo Media

Erajaya Swasembada menunjukkan bahwa pertumbuhan besar tetap mungkin dicapai di tengah pasar yang lesu. Perusahaan ini membukukan penjualan bersih Rp76,6 triliun sepanjang 2025, naik 17,35 persen dari Rp65,3 triliun pada 2024.

Kinerja itu ikut mengangkat laba kotor menjadi Rp8,35 triliun dengan margin 10,9 persen. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik menjadi Rp1,20 triliun, atau tumbuh 15,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Hasan Aula dan Arah Transformasi

Di balik penguatan kinerja tersebut, nama Hasan Aula menempati posisi penting. Ia bergabung dengan Erajaya Group pada 2012 dan kini menjabat sebagai Wakil Direktur Utama atau Vice President Director.

Perannya tidak hanya terkait manajemen harian, tetapi juga ekspansi dan transformasi bisnis. Hasan dikenal membawa pengalaman panjang dari industri global sebelum masuk ke Erajaya.

Lulusan IPB itu pernah bekerja di Frisian Flag, Pepsi Cola, Kodak, dan Nokia. Di Nokia Mobile Phones Indonesia, ia memegang sejumlah posisi strategis, mulai dari marketing manager, direktur, executive advisor, hingga country manager.

Pengalaman itu membentuk reputasinya sebagai eksekutif yang memahami pasar ritel dan perubahan perilaku konsumen. Jejaknya di Nokia juga disebut berkontribusi pada keberhasilan merek asal Finlandia itu mempertahankan dominasinya di pasar ponsel Indonesia selama bertahun-tahun.

Ekspansi Gerai dan Perluasan Bisnis

Setelah masuk Erajaya, Hasan mendorong perusahaan untuk terus memperluas jangkauan. Hingga awal 2026, Erajaya mengoperasikan lebih dari 2.300 gerai ritel di seluruh Indonesia.

Langkah ekspansi itu membuat perusahaan semakin kuat sebagai pemain utama ritel, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Kehadiran jaringan gerai yang luas memberi Erajaya ruang lebih besar untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah.

Namun pertumbuhan tidak hanya datang dari penambahan toko. Erajaya juga mengubah struktur bisnis agar tidak terlalu bergantung pada perangkat telekomunikasi yang selama ini menjadi inti usaha utama.

Pada 2021, perusahaan meluncurkan empat vertikal bisnis baru untuk mengikuti perubahan preferensi konsumen. Strategi ini menjadi salah satu titik penting dalam transformasi bisnis Erajaya.

Empat Vertikal Baru yang Mengubah Arah Bisnis

Vertikal pertama adalah Erajaya Digital, yang mencakup produk elektronik konsumen, handset, laptop, komputer, bisnis operator, voucher, dan produk relevan lain. Kanal ini hadir lewat beragam konsep toko, mulai dari multibrand seperti Erafone hingga monobrand seperti iBox, Samsung, dan Mi-store.

Vertikal kedua ialah Erajaya Active Lifestyle. Segmen ini fokus pada produk lifestyle seperti aksesori, Internet of Things atau IoT, sport fashion apparel, dan produk aktivitas luar ruang. Format gerainya juga beragam, termasuk Urban Republic, JD Sports, Asics, DJI, dan Garmin.

Vertikal ketiga adalah Erajaya Beauty & Wellness. Lini ini mencakup gerai Apotek Wellings dan The Face Shop untuk melayani kebutuhan kesehatan dan kecantikan.

Vertikal keempat, Erajaya Food & Nourishment, menghadirkan bisnis makanan lewat Paris Baguette, Sushi Tei, dan supermarket Grand Lucky. Masuknya lini-lini baru ini menandai upaya Erajaya memperluas sumber pertumbuhan di luar perangkat teknologi.

Strategi Premium dan Omnichannel

Perluasan ke segmen baru juga diarahkan ke pasar menengah atas. Erajaya ingin menawarkan pengalaman belanja yang lebih premium sekaligus memperbesar footprint ritel di berbagai daerah.

Pendekatan ini dinilai penting untuk menangkap peluang dari perubahan pola konsumsi masyarakat urban. Di saat yang sama, diversifikasi bisnis membantu perusahaan mengejar margin keuntungan yang lebih baik.

Erajaya juga memadukan belanja offline dan online melalui model online-to-offline atau omnichannel. Strategi ini menjawab dua perilaku konsumen sekaligus, yakni mereka yang mencari informasi lewat internet dan mereka yang tetap ingin melihat produk secara langsung di gerai.

Dengan kombinasi ekspansi gerai, diversifikasi vertikal, dan penguatan omnichannel, Erajaya membangun fondasi pertumbuhan yang lebih tahan banting. Dalam struktur itu, Hasan Aula menjadi figur yang konsisten mendorong perusahaan bergerak lebih adaptif di tengah persaingan ritel yang makin ketat.

Terbaru