Samsung kembali memimpin pasar ponsel pintar global pada kuartal I-2026 saat pengiriman dunia naik tipis 1 persen menjadi 298,5 juta unit. Di tengah permintaan konsumen yang masih lesu, produsen besar justru mendorong distribusi lebih cepat ke kanal penjualan untuk mengamankan stok sebelum biaya komponen naik.
Data riset Omdia menunjukkan Samsung mengapalkan 65,4 juta unit dan menguasai 22 persen pangsa pasar global. Kinerja itu ditopang oleh lini flagship Galaxy S26 serta tingginya permintaan Galaxy A di pasar berkembang.
Apple menempati posisi kedua dengan pengiriman 60,4 juta unit dan pangsa 20 persen, naik 10 persen secara tahunan. Perusahaan itu juga mencatat distribusi yang kuat di Eropa dan Jepang lewat iPhone 17 dan iPhone 17e.
Peta persaingan merek besar
Di bawah dua pemimpin pasar itu, Xiaomi berada di peringkat ketiga dengan 33,8 juta unit dan pangsa 11 persen. Angka tersebut turun 19 persen dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya, terutama karena ketergantungan pada segmen ponsel di bawah 200 dollar AS yang terdampak kenaikan harga komponen global.
Oppo dan Vivo juga mengalami pelemahan. Oppo mengirim 30,7 juta unit dengan pangsa 10 persen, sedangkan Vivo mencatat 21,3 juta unit dan pangsa 7 persen.
Sementara itu, kategori merek lain justru tumbuh 3 persen menjadi 86,8 juta unit. Kelompok ini menyumbang 29 persen pangsa pasar dan menjadi penopang terbesar volume pengiriman global secara agregat.
Dorongan distribusi yang memperbesar angka shipment
Omdia menilai strategi front-loading dari vendor besar menjadi salah satu motor utama kenaikan pengiriman. Langkah ini membuat pabrikan dan kanal distribusi mempercepat pengiriman sebelum terjadi lonjakan harga pada komponen penting seperti memori dan chipset.
Le Xuan Chiew dari Omdia mengatakan front-loading dari vendor dan channel mendorong kenaikan shipment jangka pendek, tetapi juga menciptakan kelebihan stok yang akan membebani kuartal berikutnya. Karena itu, kenaikan pengiriman belum tentu mencerminkan kekuatan permintaan ritel yang sesungguhnya.
Omdia juga menegaskan bahwa data yang dihitung merupakan pengiriman ke kanal distribusi, bukan penjualan langsung ke pengguna akhir. Artinya, pasar terlihat tumbuh, tetapi kondisi di tingkat konsumen masih menunjukkan tekanan.
Tekanan pasar belum hilang
Pertumbuhan tipis ini terjadi di tengah inflasi tinggi yang memperpanjang siklus penggantian perangkat di banyak negara. Konsumen cenderung menahan pembelian baru lebih lama, sehingga penjualan riil tetap tertahan meski pengiriman membaik.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan potensi koreksi pada paruh kedua 2026 karena stok di tingkat distributor belum terserap sepenuhnya. Omdia menilai pasar smartphone sedang memasuki periode disrupsi struktural yang akan terus memengaruhi industri setidaknya dalam dua tahun ke depan.
Gambaran itu juga terlihat dari perbedaan pembacaan pasar antar lembaga riset. Jika Omdia mencatat kenaikan tipis, IDC melaporkan penurunan 4,1 persen dan Counterpoint menyebut pasar turun 6 persen pada periode yang sama.






