Samsung Pecah Rekor Laba Q1 2026, Tapi Krisis Chip Memori Bisa Bertahan Hingga 2027

Samsung Electronics mencatat awal tahun yang sangat kuat dengan pendapatan kuartal pertama 2026 mencapai KRW 133,9 triliun dan laba operasional KRW 57,2 triliun. Keduanya menjadi rekor tertinggi Samsung untuk periode Januari hingga Maret, didorong oleh permintaan global yang tinggi, terutama dari teknologi berbasis AI.

Kinerja itu menegaskan posisi Samsung sebagai pemain utama di tengah lonjakan kebutuhan chip dan perangkat premium. Namun, di saat pencapaian finansial memuncak, perusahaan juga memberi sinyal bahwa tekanan pasokan memori masih jauh dari selesai.

Memori jadi motor utama pertumbuhan

Kontributor terbesar datang dari Divisi Solusi Perangkat atau Device Solutions, terutama bisnis memori. Permintaan chip memori melonjak seiring ekspansi infrastruktur AI dan pusat data global, sehingga Samsung tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar.

Kenaikan permintaan itu memberi dorongan besar pada performa keseluruhan perusahaan. Keunggulan teknologi di segmen memori menjadi faktor penting yang menjaga laju pertumbuhan Samsung tetap kuat.

Bisnis ponsel premium ikut mengangkat kinerja

Divisi Mobile eXperience dan jaringan juga mencatat hasil positif pada kuartal ini. Samsung membukukan pendapatan KRW 38,1 triliun dengan laba operasional KRW 2,8 triliun, didukung kuat oleh penjualan smartphone premium.

Divisi Device eXperience juga mencatat pertumbuhan penjualan kuartalan sebesar 19 persen. Kinerja ini menunjukkan bahwa permintaan untuk perangkat kelas atas masih memberi ruang tumbuh yang besar bagi Samsung.

Tidak semua lini bergerak seragam

Di sisi lain, bisnis foundry dan divisi display mengalami tekanan pada kuartal yang sama. Faktor musiman, kenaikan harga komponen memori, dan meningkatnya biaya produksi menjadi penyebab utama pelemahan di beberapa lini tersebut.

Samsung Display Corporation mencatat pendapatan KRW 6,7 triliun dengan laba operasional KRW 0,4 triliun. Penurunan terutama terjadi pada segmen layar kecil dan menengah, meski permintaan monitor gaming OLED membantu menjaga stabilitas penjualan.

Unit lain terdorong faktor musiman

Divisi Visual Display dan Digital Appliances menghasilkan pendapatan KRW 14,3 triliun dengan laba operasional KRW 0,2 triliun. Sementara itu, Harman juga mengalami penurunan pendapatan akibat faktor musiman dan tekanan biaya.

Meski begitu, Harman diperkirakan akan pulih pada paruh kedua tahun ini. Pemulihan itu ditopang oleh peningkatan permintaan di sektor otomotif dan audio premium.

Peringatan soal krisis chip memori

Di balik rekor keuangan itu, Samsung memberi peringatan penting mengenai pasar chip memori. Dalam laporan yang dikutip Reuters, perusahaan menyebut krisis pasokan chip memori kemungkinan akan berlanjut hingga 2027.

Samsung juga menilai kesenjangan antara permintaan dan pasokan akan semakin melebar. Eksekutif Samsung Kim Jaejune mengatakan permintaan pelanggan saat ini jauh melampaui kapasitas produksi, sementara kebutuhan chip untuk AI terus menambah tekanan di berbagai sektor industri.

Fokus ke teknologi generasi baru

Untuk menjaga pertumbuhan, Samsung tetap menyiapkan ekspansi lewat perangkat flagship, ponsel lipat, dan chip generasi baru. Perusahaan juga menargetkan pengembangan teknologi fabrikasi 1,4nm serta proses 2nm generasi kedua.

Permintaan memori berbasis AI diperkirakan masih menjadi pendorong utama hingga paruh kedua tahun ini. Dengan posisi keuangan yang sangat kuat, Samsung kini menghadapi tantangan ganda: memanfaatkan lonjakan permintaan teknologi masa depan sambil mengatasi keterbatasan pasokan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Terkait