Bocoran terbaru membuat Vivo X Fold 6 jadi sorotan karena perangkat ini disebut akan mengubah dua hal penting sekaligus: chipset dan kamera. Jika informasi itu akurat, Vivo akan meninggalkan Snapdragon yang selama ini dipakai di lini foldable premium mereka dan beralih ke MediaTek Dimensity.
Kabar ini pertama kali mencuat lewat tipster Digital Chat Station di Weibo. Ia menyebut Vivo X Fold 6 kemungkinan memakai Dimensity 9500 atau Dimensity 9500+, menggantikan Snapdragon 8 Gen series yang digunakan pada Vivo X Fold 5.
Perubahan itu menarik perhatian karena Vivo dikenal konsisten memakai prosesor flagship Qualcomm untuk beberapa generasi foldable sebelumnya. Pergeseran ke MediaTek menandai arah baru dalam strategi perangkat lipat mereka.
Di saat yang sama, langkah ini juga memperkuat posisi Dimensity di segmen smartphone ultra-premium. MediaTek dalam beberapa tahun terakhir memang makin agresif menantang Qualcomm lewat lini Dimensity 9000 dan penerusnya.
Kamera 200MP jadi daya tarik utama
Selain dapur pacu baru, Vivo X Fold 6 disebut membawa kamera periskop 200MP. Sensor ini diperkirakan dipakai untuk meningkatkan kemampuan zoom optik dan pemotretan jarak jauh.
Jika benar hadir, kamera tersebut bisa menjadi salah satu resolusi tertinggi yang pernah digunakan pada smartphone lipat komersial. Kehadiran kamera besar ini juga menunjukkan bahwa Vivo ingin menjadikan X Fold 6 bukan hanya perangkat lipat tipis, tetapi juga jagoan fotografi.
Bocoran awal juga menyebut Vivo tetap mempertahankan kerja sama imaging dengan Zeiss. Kolaborasi itu sebelumnya sudah muncul di lini X Fold dan X series premium lewat Zeiss T* Coating dan tuning warna Zeiss untuk membantu kualitas foto dan mengurangi flare.
Masih fokus pada bodi tipis
Di sisi desain, Vivo X Fold 6 diperkirakan tetap membawa bodi tipis dengan bobot yang ditekan serendah mungkin. Arah desain ini sejalan dengan tren pasar foldable yang kini makin menekankan portabilitas agar nyaman dipakai sebagai ponsel harian.
Bocoran lain menyebut perangkat ini kemungkinan memakai layar AMOLED LTPO dengan refresh rate tinggi. Vivo juga disebut menyiapkan baterai berkapasitas besar yang didukung fast charging generasi terbaru.
Fitur lain yang ikut diperkirakan hadir adalah sensor sidik jari ultrasonic di kedua sisi layar. Elemen ini sebelumnya menjadi salah satu pembeda pada perangkat lipat tertentu dibanding kompetitor.
Alasan strategis di balik peralihan chipset
Keputusan beralih ke MediaTek disebut punya beberapa keuntungan strategis bagi Vivo. Selain berpotensi memberi efisiensi daya yang lebih baik, penggunaan Dimensity terbaru juga bisa menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan performa flagship.
Bagi pasar, langkah ini memperlihatkan bagaimana MediaTek semakin dipercaya menangani beban komputasi AI dan grafis di perangkat premium. Hal itu penting karena smartphone generasi baru makin mengandalkan pemrosesan AI on-device untuk fotografi, produktivitas, hingga fitur generative AI.
Di level industri, persaingan foldable juga semakin padat. Samsung masih memimpin pasar global lewat Galaxy Z Fold series, sementara Honor, Oppo, Huawei, Xiaomi, dan Vivo terus memperkuat lini perangkat lipat dengan fokus pada desain yang lebih tipis dan kamera yang lebih baik.
Pasar foldable kini tidak lagi sekadar soal bentuk lipat. Vendor berlomba menghadirkan pengalaman flagship penuh, termasuk performa tinggi, baterai efisien, dan fitur AI yang makin matang.
Hingga saat ini, Vivo belum memberikan konfirmasi resmi mengenai spesifikasi maupun jadwal peluncuran Vivo X Fold 6. Meski begitu, bocoran yang beredar sudah cukup memberi gambaran bahwa model ini bisa menjadi salah satu perubahan terbesar dalam strategi hardware Vivo untuk pasar foldable flagship.
