Demo Kamera AI Xperia 1 VIII Malah Jadi Bumerang, Foto Sampelnya Terlihat Rusak Parah

Peluncuran Xperia 1 VIII justru terseret sorotan negatif setelah demo kamera AI dari akun resmi Xperia di X memicu gelombang kritik. Alih-alih menonjolkan kemampuan fotografi ponsel baru Sony, sampel gambar yang beredar malah viral karena terlihat terlalu overexposed.

Reaksi warganet datang cepat dan meluas. Banyak pengguna menilai hasil “sesudah” pengolahan AI tampak lebih buruk daripada gambar awal, hingga akhirnya materi promosi itu berubah menjadi bahan meme di media sosial.

Masalah utama ada pada rangkaian foto “before and after” yang dipublikasikan untuk memamerkan fitur baru AI Camera Assistant. Pada contoh yang beredar, sorotan cahaya terlihat pecah, warna tampak pudar, dan detail di beberapa area nyaris hilang.

Salah satu sampel potret paling banyak dibahas karena wajah subjek terlihat hampir memudar setelah diproses. Alih-alih memberi kesan peningkatan kualitas, hasil itu justru memunculkan pertanyaan soal cara Sony menampilkan kemampuan kameranya.

Perbincangan makin besar setelah CEO Nothing, Carl Pei, ikut membagikan ulang gambar tersebut. Ia menyertakan komentar, “This must be engagement farming??” yang kemudian makin mendorong atensi publik terhadap unggahan itu.

Setelah itu, sejumlah kreator lain ikut menanggapi dengan nada serupa. Media sosial pun dipenuhi editan satir bergaya “AI enhanced”, termasuk gambar yang dibuat nyaris sepenuhnya putih dengan caption sarkastik yang menyindir “peningkatan” dari Sony.

Situasi ini cukup kontras dengan posisi Xperia 1 VIII sebagai produk yang sejak awal dipasarkan untuk kreator dan penggemar fotografi mobile. Sony sebenarnya mencoba menegaskan kesinambungan fokusnya pada perangkat kelas atas yang mengutamakan pengalaman kamera.

Xperia 1 VIII sendiri diluncurkan pada 13 Mei dengan spesifikasi flagship. Ponsel ini membawa chip Snapdragon 8 Elite Gen 5, kamera dengan branding ZEISS, dukungan penyimpanan yang dapat diperluas, serta jack headphone yang masih dipertahankan Sony saat banyak merek lain sudah meninggalkannya.

Di tengah sorotan pada demo yang gagal, perangkatnya justru tetap mendapat respons yang relatif positif untuk sisi hardware. Pendekatan Sony yang masih mempertahankan fitur-fitur seperti slot ekspansi dan jack audio tetap dianggap menarik bagi segmen pengguna tertentu.

Sony beri klarifikasi

Setelah kritik menyebar luas, Sony kemudian memberi penjelasan soal fungsi AI Camera Assistant. Perusahaan mengatakan fitur itu bukan alat yang otomatis mengedit foto setelah pengambilan gambar.

Menurut penjelasan tersebut, AI Camera Assistant berfungsi memberi saran gaya pemotretan dan pengaturan berdasarkan kondisi adegan. Rekomendasi itu mencakup exposure, color tone, efek lensa, dan penyesuaian bokeh.

Pengguna lalu dapat memilih salah satu gaya yang disarankan atau mengabaikannya sama sekali. Klarifikasi ini penting karena persepsi awal di media sosial sempat mengarah pada anggapan bahwa AI Sony memproses hasil foto secara otomatis dan menghasilkan output yang terlalu terang.

Sony juga membagikan contoh tambahan setelah kontroversi itu mencuat. Sampel baru tersebut terlihat jauh lebih masuk akal dibanding gambar awal yang menjadi bahan kritik.

Langkah itu setidaknya membantu memberi konteks bahwa contoh sebelumnya kemungkinan lebih merupakan masalah pemilihan materi promosi. Namun, karena gambar pertama sudah telanjur viral, klarifikasi tersebut datang setelah narasi negatif lebih dulu terbentuk.

Efek ke peluncuran Xperia 1 VIII

Dampak terbesarnya bukan sekadar kritik pada satu fitur, melainkan pergeseran fokus dari peluncuran produk itu sendiri. Percakapan publik yang seharusnya membahas spesifikasi dan arah kamera Sony malah banyak tersedot ke kualitas materi demo yang dinilai buruk.

Hal ini menjadi sorotan karena Sony selama ini memiliki reputasi kuat di ranah imaging. Ketika materi resmi justru memperlihatkan hasil yang dianggap gagal, perhatian publik mudah beralih dari produk ke kesalahan presentasi.

Belum ada indikasi dalam penjelasan yang beredar bahwa hasil viral itu mewakili proses kamera default yang bekerja setelah foto diambil. Justru, penjabaran Sony menempatkan AI Camera Assistant sebagai alat bantu rekomendasi kreatif, bukan mesin edit otomatis.

Meski begitu, kesan pertama sudah terlanjur membentuk percakapan online. Dalam ekosistem peluncuran gadget yang sangat bergantung pada cuplikan visual singkat, satu contoh yang dinilai janggal dapat dengan cepat menutupi pesan utama yang ingin dibangun merek.

Kasus ini juga menunjukkan risiko saat fitur berbasis AI dipromosikan dengan pendekatan visual yang kurang meyakinkan. Ketika peningkatan tidak terlihat jelas atau malah tampak menurunkan kualitas, publik akan lebih cepat menganggapnya sebagai gimmick ketimbang inovasi yang berguna.

Untuk saat ini, Xperia 1 VIII tetap berdiri sebagai flagship Sony dengan fokus kuat pada kamera dan kebutuhan kreator. Namun dalam beberapa hari setelah peluncurannya, nama ponsel itu lebih banyak dibicarakan karena contoh foto yang dianggap gagal, bukan karena kemampuan yang ingin ditonjolkan Sony.

Source: www.gizmochina.com
Terkait