Persaingan smartphone gaming di Indonesia kini tidak lagi hanya milik satu nama besar. Nubia ikut mengguncang pasar dengan strategi yang menyasar dua lapisan pengguna sekaligus, dari kelas flagship hingga segmen yang lebih terjangkau.
Langkah itu membuat peta persaingan semakin panas karena kebutuhan gamer mobile terus naik. Vendor pun terdorong menghadirkan perangkat dengan spesifikasi yang makin serius untuk menjawab tuntutan permainan yang terus berkembang.
Selama ini, Asus Republic of Gamers atau ROG dikenal mendominasi pasar smartphone gaming karena membawa spesifikasi yang mewah. Namun, beberapa tahun terakhir, merek lain seperti Poco, Infinix, dan iQoo juga mulai aktif menghadirkan produk unggulan di kategori ini.
Dorongan utama di balik ramainya pasar tersebut datang dari pertumbuhan pemain game mobile. Game yang semakin kompleks juga menuntut perangkat dengan ruang memori besar, baik RAM maupun ROM, agar pengalaman bermain tetap lancar.
Spesifikasi jadi medan persaingan utama
Smartphone gaming tidak cukup hanya mengandalkan desain agresif. Perangkat di kelas ini juga membutuhkan baterai jumbo, chipset bertenaga, dan sistem pendingin agar performa tetap stabil saat dipakai bermain dalam waktu lama.
Kombinasi kebutuhan itu membuat harga smartphone gaming cenderung tinggi. Tidak sedikit vendor yang membanderol produknya di level premium karena komponen yang ditanamkan memang dibuat untuk menopang performa berat.
Di tengah kondisi tersebut, Nubia memilih pendekatan yang berbeda. Produsen asal China ini tidak hanya bermain di segmen atas, tetapi juga menyiapkan lini yang lebih ramah kantong bagi pengguna yang ingin merasakan pengalaman gaming serius.
Strategi dua lini Nubia
Untuk segmen flagship, Nubia mengandalkan Redmagic. Sementara itu, untuk kelas yang lebih terjangkau, perusahaan menghadirkan seri Neo sebagai pintu masuk bagi pengguna yang menginginkan perangkat gaming tanpa harus masuk ke kelas paling mahal.
Strategi ini menjadi penting karena Nubia ingin membangun ekosistem gaming yang lebih inklusif. Perusahaan menargetkan pengguna dari berbagai tingkat kemampuan agar bisa menikmati performa optimal sesuai kebutuhan dan gaya bermain masing-masing.
Country Manager ZTE Indonesia Mobile Devices, Zhuang Yongke, menilai pertumbuhan seri Redmagic menunjukkan bahwa Nubia memahami kebutuhan para gamer. Ia menyebut pencapaian itu memperkuat komitmen jangka panjang perusahaan di dunia gaming.
Pada acara Nubia New Year Gathering 2026 di Jakarta, awal tahun ini, Zhuang juga menegaskan bahwa perusahaan ingin menaikkan standar performa gaming mobile. Ia menyatakan tujuan mereka bukan hanya untuk para profesional, tetapi agar semua gamer bisa merasakan pengalaman pro-level gaming.
Redmagic dan Neo sama-sama menekan pasar
Seri flagship terbaru, Redmagic 11 Pro, menjadi salah satu sorotan karena disebut mencatat kenaikan penjualan sebesar 628% pada hari pertama pre-order. Angka itu memperlihatkan bahwa pasar masih sangat responsif terhadap perangkat gaming dengan performa tinggi.
Di sisi lain, Nubia Neo 5 Series dirancang untuk pengguna yang membutuhkan performa stabil, respons cepat, dan daya tahan baterai untuk bermain lebih lama. Nubia juga membawa teknologi gaming utama yang terinspirasi dari REDMAGIC ke dalam Neo Series agar fitur kelas profesional bisa dijangkau lebih banyak pengguna.
Kehadiran dua lini tersebut membuat Nubia tampil dengan posisi yang berbeda dari banyak kompetitor. Di satu sisi, merek ini tetap menjaga citra premium lewat Redmagic, dan di sisi lain membuka akses lebih luas lewat Neo.
Persaingan smartphone gaming di tanah air pun ikut terdorong naik. Dengan makin banyaknya pilihan dari berbagai vendor, pasar Indonesia kini menjadi arena yang lebih sengit bagi brand yang ingin merebut perhatian para gamer mobile.
