Klausul Waze yang Merujuk Hukum Israel Memicu Kekhawatiran soal Privasi

Author: Qoo Media

Ketentuan penggunaan Waze yang menyebut hukum Israel dan pengadilan di Tel Aviv memicu pertanyaan baru di kalangan pengguna. Klausul tersebut ramai diperbincangkan karena sebagian pengguna mengaitkannya dengan kekhawatiran bahwa data navigasi mereka dapat diakses atau dipantau.

Informasi itu tercantum pada halaman bantuan Waze di bagian Governing Law and Jurisdiction. Ketentuan tersebut mengatur rujukan hukum untuk sengketa, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan adanya akses pihak lain terhadap data pengguna.

Kekhawatiran Muncul di Media Sosial

Sejak awal Juli 2026, sejumlah pengguna Waze mempertanyakan hubungan aplikasi itu dengan Israel melalui unggahan di media sosial. Pertanyaan yang muncul berkisar pada kemungkinan pelanggaran privasi dan dugaan Waze memata-matai penggunanya.

Waze merupakan aplikasi navigasi yang digunakan pengendara untuk mencari rute perjalanan. Karena mengandalkan informasi lalu lintas dan lokasi, isu mengenai pengelolaan data pengguna menjadi perhatian yang sensitif.

Google, pemilik Waze, membantah kecurigaan tersebut dalam keterangan kepada Snopes yang dikutip Yahoo!Tech. Perusahaan itu menyatakan bahwa perlindungan data pengguna dijalankan dengan aturan yang ketat.

"Kami beroperasi dengan aturan ketat dan melindungi data pengguna. Sudah menjadi standard bahwa masalah hukum selalu ditangani pengadilan di negara tempat kantor pusat developer app," kata Google.

Penjelasan itu menempatkan klausul hukum sebagai bagian dari mekanisme penyelesaian masalah legal. Namun, keberadaan rujukan ke Israel tetap menarik perhatian karena latar belakang awal pengembangan aplikasi tersebut.

Jejak Waze Berawal dari FreeMap Israel

Sejarah Waze memang berkaitan langsung dengan Israel. Aplikasi ini mula-mula hadir pada 2006 dengan nama FreeMap Israel, yang dibuat oleh Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar.

CNN menyebut para pendiri tersebut merupakan mantan insinyur Unit 8200 dalam militer Israel. Pada 2009, FreeMap Israel berganti nama menjadi Waze sebelum kemudian diakuisisi Google.

Tahun Peristiwa Detail
2006 FreeMap Israel lahir Dibuat oleh Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar
2009 Berganti nama FreeMap Israel menjadi Waze
2013 Diakuisisi Google Nilai akuisisi disebut mencapai USD 1 miliar

Menurut Yahoo!News, Google membeli Waze pada 2013 seharga USD 1 miliar. Sejak itu, aplikasi tersebut tetap dipakai secara luas oleh pengguna di berbagai negara untuk membantu kebutuhan navigasi.

Bukan Kali Pertama Waze Dipertanyakan

Perdebatan mengenai Waze bukan hanya berkaitan dengan klausul hukum dan privasi. Pada 2025, aplikasi ini juga pernah dicurigai membiayai pelantikan Presiden AS Donald Trump.

Dalam konteks pemilihan presiden AS, pendanaan kampanye dari pihak swasta diperbolehkan. Namun, dugaan bahwa perusahaan Israel mendanai calon presiden Amerika Serikat dinilai sebagian publik sebagai hal yang tidak patut.

Peristiwa lain terjadi pada 2016 ketika BBC memberitakan tentara Israel menggunakan Waze saat menggeruduk kamp pengungsi Palestina. Waze saat itu menyatakan para tentara tersebut tidak memakai fitur keamanan untuk menghindari area berbahaya.

Rangkaian peristiwa itu membuat hubungan Waze dengan Israel terus menjadi bahan sorotan setiap kali muncul isu baru. Bagi pengguna, klausul hukum dalam layanan digital perlu dibaca sebagai bagian dari ketentuan penggunaan, sementara klaim terkait privasi tetap memerlukan bukti yang jelas.

Terbaru