Setelah berbulan-bulan jadi bahan perbincangan lewat bocoran spesifikasi dan video teaser, Insta360 akhirnya meresmikan Luna Ultra untuk pasar global. Kehadirannya langsung menarik perhatian karena ini menjadi kamera gimbal pertama Insta360 yang dibuat lewat kolaborasi strategis dengan Leica.
Langkah tersebut menempatkan Luna Ultra sebagai produk flagship yang tidak sekadar mengandalkan nama besar. Perangkat ini datang dengan kombinasi sensor besar, kemampuan video 8K, dan sederet fitur yang dibidik untuk kreator konten, videografer, hingga pengguna solo yang butuh alat kerja ringkas namun serius.
Dua sensor besar, dua pendekatan berbeda
Di sektor kamera, Luna Ultra memakai konfigurasi dual-sensor yang menjadi pusat perhatian. Kamera utamanya membawa sensor Sony LYT-900 berukuran 1 inci dengan resolusi 50MP, aperture f/1.8, dan klaim dynamic range hingga 14 stops.
Di sampingnya, tersedia kamera telefoto sekunder 50MP dengan sensor OV50Q berukuran 1/1.3 inci dan aperture f/2.0. Kombinasi ini mendukung total zoom hingga 12x, termasuk 6x lossless zoom, serta mencakup lima focal length dari ultra-wide sampai setara lensa 240mm.
Insta360 juga menyematkan nama Leica Summicron pada kedua lensa tersebut. Kolaborasi ini membawa colour science khas Leica, filter visual, dan watermark eksklusif Leica yang terintegrasi di dalam sistem kamera.
Video 8K dan dukungan untuk workflow profesional
Untuk perekaman video, Luna Ultra mendukung resolusi hingga 8K dengan Dolby Vision. Kamera ini juga bisa merekam slow-motion 4K pada 120fps, serta 1080p hingga 240fps untuk kebutuhan gerak super lambat.
Bagi pengguna yang sering merekam dalam cahaya rendah, tersedia 4K 60fps PureVideo Mode. Mode ini dirancang untuk menekan noise sekaligus meningkatkan detail dan kecerahan gambar di kondisi yang lebih menantang.
Di sisi pascaproduksi, kamera ini mendukung format 10-bit I-Log+ ACES. DaVinci Resolve sudah mendukung format I-Log Insta360 secara native, sementara Adobe Premiere Pro dan Final Cut Pro juga mendapat integrasi penuh yang diperkuat timecode bawaan untuk sinkronisasi multi-kamera.
Dirancang untuk kreator solo
Insta360 menaruh perhatian besar pada pengguna yang bekerja sendirian. Deep Track 5.0 hadir untuk mengunci dan melacak objek secara presisi, sedangkan in-camera face recognition menawarkan pengaturan tone kulit dan skin smoothing yang bisa disesuaikan.
Ada juga Mini Fill Light yang tertanam langsung pada bodi kamera. Fitur ini membantu memberi pencahayaan tambahan tanpa harus membawa aksesori eksternal.
Untuk kemudahan framing, Luna Ultra memakai sistem gimbal mekanis tiga sumbu. Pengguna juga bisa memantau hasil rekaman lewat layar sentuh OLED 2 inci yang bisa dilepas-pasang.
Foto resolusi tinggi dan baterai tahan lama
Di sisi fotografi, Luna Ultra mampu menghasilkan foto panorama hingga 200MP. Insta360 juga menyertakan mode UltraPhoto 37MP dengan peningkatan detail otomatis berbasis AI.
Selain itu, ada mode Low Frame Photos dan Low Frame Collage yang ditujukan untuk mendorong eksplorasi visual. Fitur-fitur tersebut memperlihatkan bahwa Luna Ultra tidak hanya mengejar video, tetapi juga pengalaman foto yang fleksibel.
Daya tahannya ditopang baterai 1.550 mAh yang diklaim mampu digunakan hingga empat jam dalam sekali isi penuh. Pengisian cepatnya disebut hanya memerlukan sekitar 23 menit, sementara penyimpanan internal 47GB memberi ruang langsung untuk merekam tanpa cepat kehabisan kapasitas.
Harga resmi dan ketersediaan
Untuk pasar global, Insta360 Luna Ultra dibanderol $769 USD atau sekitar Rp11,9 jutaan. Di wilayah lain, harganya tercatat ¥4.358 di Tiongkok, 119.800 yen di Jepang, dan 5.599 HKD di Hong Kong.
Sebelumnya, CEO Insta360 sempat memberi isyarat bahwa harga di Tiongkok akan lebih murah dibanding pasar internasional. Dengan angka resmi yang kini diumumkan, strategi harga lokal itu akhirnya terlihat jelas dalam peluncuran Luna Ultra.
Source: www.gadgetdiva.id






