Apple kini bergerak lebih jauh ke pasar ponsel lipat dengan persiapan produksi awal yang cukup besar untuk iPhone Fold. Di saat yang sama, jadwal peluncuran perangkat ini masih dibayangi satu masalah teknis yang belum sepenuhnya beres: engsel.
Laporan media Korea yang dikutip oleh Forbes menunjukkan bahwa Samsung akan menjadi pemasok eksklusif panel untuk iPhone Fold. Apple juga disebut mengambil langkah hati-hati untuk pesanan awal layar lipat, meski pembicaraan soal peluncuran pada September sudah mulai muncul.
Samsung pegang layar, Apple tetap hati-hati
Menurut The Elec dan ET News, Samsung Display dan LG telah mulai memproduksi panel OLED untuk seri iPhone 18. Namun, khusus untuk iPhone Fold, Samsung disebut akan memproduksi panelnya secara eksklusif.
Kerja sama itu tidak singkat. Apple dan Samsung disebut telah menandatangani kesepakatan eksklusif selama 3 tahun untuk membuat layar OLED handset lipat tersebut. Untuk perangkat generasi awal ini, pesanan pertama diperkirakan mencapai sekitar 3 juta unit.
Langkah itu menunjukkan Apple belum masuk ke segmen lipat secara agresif. Angka 3 juta unit masih tergolong besar untuk produk pertama di kategori baru, tetapi tetap mencerminkan pendekatan konservatif Apple terhadap perangkat yang belum terbukti di pasar.
Teknologi layar sudah siap
Samsung Display bukan pemain baru dalam komponen lipat. Perusahaan itu disebut sudah punya delapan generasi pengalaman membuat layar foldable yang tahan lama dan andal untuk seri Galaxy Z Fold.
iPhone Fold juga dikabarkan akan memakai teknologi CoE atau Color Filter on Encapsulation. Teknologi ini membuat layar lebih tipis, lebih terang, dan hingga 37% lebih efisien.
Selain itu, layar iPhone Fold akan memakai material OLED M16 milik Samsung. Kombinasi tersebut diklaim memberi peningkatan efisiensi daya, performa warna, dan tingkat kecerahan.
Bagi perangkat lipat, efisiensi daya menjadi faktor penting. Pasalnya, dua layar pada satu baterai lithium-ion menuntut konsumsi energi yang lebih hemat agar perangkat tetap praktis digunakan.
Engsel masih jadi tantangan utama
Jika layar tampak siap, bagian engsel justru belum sepenuhnya stabil. Menurut The Elec, iPhone Fold menggunakan engsel hasil cetak 3D, tetapi komponen itu menghasilkan suara yang tidak diinginkan setelah perakitan.
Masalah tersebut diperkirakan dapat menggeser jadwal produksi sekitar 15 hari hingga satu bulan. Seorang pejabat industri yang dikutip The Elec menyebut Apple kesulitan menstabilkan produksi modul engsel untuk ponsel lipat pertamanya.
Pejabat itu juga menegaskan tidak ada masalah pada Samsung Display. Menurut dia, jadwal peluncuran sangat bergantung pada kesiapan komponen Apple, terutama engsel.
Produksi awal 3 juta unit jadi sinyal kuat
Apple disebut akan memproduksi 3 juta unit iPhone Fold dalam putaran produksi pertama. Angka itu menunjukkan kehati-hatian, tetapi juga menandakan bahwa Apple serius membangun kategori baru ini.
Jumlah tersebut sejalan dengan volume produksi yang kabarnya disiapkan Samsung untuk Galaxy Z Fold 8. Total target produksi Samsung untuk seluruh lini Galaxy Z Fold 8, termasuk Ultra, Wide, dan Flip 8, disebut berada di kisaran 5 juta hingga 6 juta unit.
Di dalam hitungan itu, model Wide saja dikabarkan bisa mencapai 2 juta unit. Apple sendiri berencana memproduksi 3 juta iPhone Fold sebelum tahun berakhir.
Peluncuran tetap bergantung pada kesiapan komponen
Meski pembicaraan soal rilis September sudah beredar, sumber-sumber yang dikutip menekankan bahwa jadwal akhir masih sangat bergantung pada kesiapan komponen inti. Engsel menjadi titik paling sensitif karena komponen itu sempat menimbulkan masalah dalam pengujian beberapa minggu lalu.
Apple sebelumnya juga disebut pernah menghadapi tantangan serupa saat mengembangkan engsel pada generasi awal perangkat Fold milik Samsung. Bedanya, kali ini perhatian publik langsung tertuju pada produk lipat pertama Apple, sehingga setiap kendala kecil bisa ikut menentukan persepsi pasar saat debut nanti.
Selain tantangan hardware, perangkat lipat juga menuntut dukungan antarmuka yang matang. Pengalaman pengguna harus mampu mengikuti kebutuhan resize aplikasi dan multitasking di layar fleksibel, sesuatu yang membuat kategori ini lebih kompleks dibanding ponsel biasa.
