5 Teknologi Kamera HP Yang Pernah Heboh, Kini Hilang Karena Kalah Praktis

Selama bertahun-tahun, produsen HP terus mendorong inovasi kamera untuk memberi pengalaman baru kepada pengguna. Namun, tidak semua teknologi yang sempat terlihat canggih berhasil bertahan, karena sebagian justru ditinggalkan setelah masalah praktis, kualitas, dan daya tahan mulai terasa.

Perubahan itu menunjukkan satu hal penting: di kamera HP, ide yang paling futuristis belum tentu menjadi pilihan terbaik. Pasar akhirnya lebih memihak teknologi yang sederhana, stabil, dan benar-benar memberi hasil foto yang konsisten.

Pop-up camera yang cepat meredup

Pop-up camera sempat naik daun pada era 2018 karena menawarkan kamera depan yang tersembunyi di dalam bodi. Saat tidak dipakai, modul kamera masuk ke dalam ponsel, lalu muncul ketika pengguna ingin selfie, tetapi teknologi ini menghilang dari pasaran mulai 2020.

Android Police menyebut pop-up camera gagal karena kurang praktis dan punya risiko kerusakan tinggi. Mekanisme itu juga membuka peluang debu dan air masuk ke dalam HP, serta disebut bisa menguras baterai lebih cepat.

Meski begitu, teknologi ini sebenarnya punya keunggulan tersendiri. Pop-up camera mampu memberi hasil foto yang tajam karena memakai sensor besar, tetapi kelebihannya tidak cukup untuk menutup kelemahannya di penggunaan harian.

Kamera di bawah layar yang kalah oleh kualitas

Under display camera atau UDC dikembangkan untuk memberi layar full screen tanpa potongan kamera. Teknologi ini sempat populer pada awal 2020 dan pernah dipakai di lini Samsung Galaxy Z series, tetapi Samsung meninggalkannya pada model terbaru, Samsung Galaxy Z Fold 7.

SamMobile menilai alasan utamanya ada pada kualitas hasil foto. UDC memang membuat layar terlihat lebih bersih, tetapi hasilnya masih kalah dari kamera selfie konvensional karena warna tampak flat, tone kulit kurang natural, foto cenderung blur, dan ketajamannya turun drastis.

Di sisi lain, teknologi ini belum sepenuhnya hilang dari pasar. nubia REDMAGIC masih setia memakai UDC, tetapi keberadaannya kini lebih terlihat sebagai pilihan niche dibanding standar baru di industri.

Kamera berputar yang rentan aus

Rotating camera sempat hadir di beberapa ponsel seperti Samsung Galaxy A80 dan ASUS Zenfone 8 Flip. Teknologi ini memakai kamera belakang yang bisa berputar ke depan, sehingga pengguna bisa memanfaatkan kamera utama untuk selfie maupun merekam video menghadap depan.

Konsep itu memberi keuntungan yang jelas pada kualitas. Foto dan video selfie bisa terlihat lebih baik karena memakai kamera belakang, tetapi Android Authority menjelaskan bahwa komponen bergeraknya menjadi titik lemah utama.

Engsel rotating camera rawan rusak jika dipakai dalam waktu lama. Komponennya juga bisa aus dan pada akhirnya berhenti bergerak, sehingga keunggulan teknisnya kalah oleh risiko mekanis yang lebih besar.

Xenon flash yang tak sanggup melawan efisiensi

Xenon flash pernah populer pada era 2015-an, terutama di HP Nokia seperti Nokia Lumia dan Nokia 808. Lampu ini mampu menghasilkan cahaya sangat intens dengan spektrum penuh dalam waktu singkat, sehingga cocok untuk memotret di kondisi gelap gulita.

PhoneArena menjelaskan bahwa xenon flash kemudian tergeser oleh LED flash konvensional. LED flash lebih murah, lebih kecil, lebih cocok untuk HP modern yang tipis dan ringan, lebih efisien daya, dan lebih fleksibel untuk berbagai desain perangkat.

Keunggulan visual xenon flash tidak cukup untuk mempertahankan posisinya di pasar. Saat produsen makin mengejar efisiensi dan desain yang ramping, LED flash menjadi pilihan yang lebih masuk akal untuk perangkat massal.

Kamera mikroskop yang lebih dekat ke gimik

OPPO memopulerkan kamera mikroskop lewat OPPO Find X3 Pro dan OPPO Reno 8T. Kamera ini bisa melakukan pembesaran hingga puluhan kali dan dipakai untuk memotret benda sangat kecil, seperti serat kain.

Meski terdengar unik, kamera mikroskop dianggap tidak punya fungsi yang esensial. Resolusinya juga tergolong kecil, sekitar 2 atau 3MP, sehingga hasil foto sering blur dan kurang tajam.

Kondisi itu membuat teknologi ini lebih sering dipandang sebagai gimik ketimbang kebutuhan utama. Dari berbagai contoh tersebut, arah industri kamera HP kini terlihat makin jelas, yakni mengutamakan hasil akhir dan kemampuan processing AI ketimbang inovasi radikal yang sulit dipakai dalam jangka panjang.

Source: www.idntimes.com

Terkait