Apple resmi menaikkan harga sejumlah perangkatnya, termasuk iPad, MacBook, Apple TV, dan Vision Pro. Selisih kenaikannya disebut berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp2 jutaan, sementara iPhone belum terdampak oleh penyesuaian harga tersebut.
Langkah ini muncul di tengah lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan yang menurut Apple sulit lagi ditahan sepenuhnya. Perusahaan menyebut tekanan biaya itu dipicu pembangunan pusat data industri AI yang ikut mengerek harga komponen.
Harga MacBook ikut terkerek
Penyesuaian paling terasa terlihat pada lini MacBook. Apple menaikkan harga MacBook Neo dari US$599 menjadi US$699, hanya beberapa bulan setelah perangkat itu dirilis.
Kenaikan serupa juga terjadi pada varian lain. MacBook Air dengan penyimpanan 512 gigabyte naik US$200, sedangkan MacBook Pro dengan penyimpanan 1 terabyte menjadi US$300 lebih mahal.
iPad dan perangkat rumah pintar juga ikut naik
Apple tidak hanya menyentuh lini laptop dan tablet. Harga iPad juga masuk daftar kenaikan bersama Apple TV dan Vision Pro, serta dua versi speaker pintar HomePod.
Apple mengatakan kenaikan ini tidak bisa dihindari lagi setelah sebelumnya berupaya menahan dampak mahalnya komponen. “Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebanyak ini, secepat ini,” ujar Apple dalam pernyataan yang dikutip Guardian.
Tekanan biaya chip memori makin kuat
Kenaikan harga komponen memori dan penyimpanan telah memberi dampak lebih luas ke industri perangkat elektronik. Apple menyebut selama ini pihaknya masih melindungi pelanggan dari lonjakan biaya, tetapi kondisi sekarang membuat penyesuaian harga mulai diterapkan pada beberapa produk.
Perusahaan juga mengaitkan tekanan tersebut dengan prospek penjualan smartphone dan PC yang ikut tertekan oleh lonjakan harga memori. Dalam situasi itu, iPhone masih menjadi pengecualian dan belum mengalami kenaikan harga seperti perangkat lainnya.
Dampak ke pasar dan pesaing
Pasar merespons kabar ini dengan negatif. Saham Apple dilaporkan turun hampir 5% setelah pengumuman, sementara Dell juga terkoreksi lebih dari 8%.
Pergerakan itu menunjukkan bahwa tekanan biaya komponen tidak hanya memengaruhi Apple, tetapi juga merembet ke perusahaan teknologi lain. Dengan penyesuaian harga ini, Apple kini menghadapi tantangan menjaga daya tarik produk di tengah biaya produksi yang makin tinggi.
