Samsung, Micron, dan SK Hynix Digugat, Kelangkaan RAM Diduga Sengaja Picu Harga Naik

Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology kini menghadapi gugatan class action di pengadilan federal Distrik Utara California. Tiga raksasa memori itu dituduh menciptakan kelangkaan buatan pada chip DRAM standar dan memicu lonjakan harga RAM di tengah permintaan yang tetap kuat dari pasar konsumen.

Perkara ini menarik perhatian karena dampaknya sudah terasa hingga ke harga perangkat sehari-hari. Kenaikan biaya memori disebut ikut menekan harga Mac, iPad, ponsel, dan PC, sehingga persoalan pasokan chip tidak lagi hanya menjadi isu industri semikonduktor.

Para penggugat terdiri dari individu dan pelaku usaha kecil. Mereka menuduh ketiga perusahaan secara sengaja membatasi produksi DRAM utama saat permintaan dari smartphone dan PC masih tinggi.

Menurut gugatan itu, kelangkaan buatan tersebut memicu apa yang oleh sebagian pihak disebut “RAMpocalypse”. Harga DRAM disebut melonjak tajam, dalam beberapa kasus mencapai ratusan persen, jauh di atas yang dinilai wajar jika hanya dijelaskan oleh mekanisme pasar normal.

Dugaan pelanggaran antimonopoli

Gugatan yang diajukan sekitar 25 Juni 2026 itu menuding Samsung, SK Hynix, dan Micron melanggar hukum antimonopoli Amerika Serikat. Dasar yang disebut adalah Section 1 of the Sherman Act, yang berkaitan dengan praktik pembatasan persaingan.

Inti tuduhannya adalah pergeseran kapasitas produksi ke high-bandwidth memory atau HBM untuk server AI. Sementara itu, produksi DRAM standar disebut ditahan, meski pasar perangkat konsumen masih membutuhkannya dalam volume besar.

Tuduhan ini menjadi sangat serius karena posisi tiga perusahaan tersebut di pasar global sangat dominan. Samsung, SK Hynix, dan Micron secara bersama-sama menguasai hampir 95 persen pasar DRAM dunia.

Dominasi pasar itu membuat setiap keputusan produksi mereka berdampak luas pada rantai pasok teknologi global. Karena itu, perubahan alokasi kapasitas ke segmen yang lebih menguntungkan seperti HBM dapat langsung memengaruhi harga komponen untuk perangkat umum.

Dampak ke konsumen dan produsen perangkat

Efek kenaikan harga memori sudah terlihat pada produk akhir. Apple baru-baru ini menaikkan harga Mac, iPad, dan produk lain, sambil secara terbuka menyalahkan lonjakan biaya memori dan penyimpanan yang terkait dengan ledakan AI.

Tekanan serupa juga dialami produsen lain. Sejumlah pembuat PC dan smartphone disebut telah menyesuaikan harga atau menunda peluncuran produk karena situasi pasokan dan biaya komponen yang terus memburuk.

Kondisi ini menunjukkan bahwa DRAM kini menjadi salah satu komponen termahal dalam banyak perangkat elektronik. Saat harga RAM naik tajam, produsen sulit menyerap seluruh beban biaya tanpa meneruskannya ke konsumen.

Bagi pembeli, dampaknya bisa muncul dalam dua bentuk sekaligus. Harga perangkat dapat naik, sementara pilihan produk baru juga bisa tertunda ketika produsen menunggu kondisi pasokan menjadi lebih stabil.

AI jadi pusat perebutan kapasitas

Permintaan besar dari sektor kecerdasan buatan menjadi latar utama perubahan pasar memori saat ini. HBM yang dipakai di server AI menawarkan margin lebih tinggi, sehingga kapasitas produksi cenderung diarahkan ke segmen tersebut.

Dalam gugatan, strategi itu dipandang bukan sekadar penyesuaian bisnis biasa. Para penggugat menilai pengalihan kapasitas ke HBM dilakukan bersamaan dengan penahanan suplai DRAM standar, sehingga menciptakan tekanan harga yang merugikan pembeli lain.

Pasar memori sendiri memang masih berada di bawah tekanan berat. Lenovo memperkirakan pasokan akan tetap ketat hingga 2027–2028 karena pusat data terus menyerap chip dalam jumlah besar, sementara pembangunan pabrik baru membutuhkan waktu.

Artinya, bahkan tanpa proses hukum ini, pasar sudah menghadapi keterbatasan struktural. Namun gugatan tersebut berupaya membedakan antara tekanan pasar yang alami dan dugaan pembatasan pasokan yang disengaja.

Bukan tuduhan pertama

Kasus ini juga menghidupkan kembali sejarah lama industri DRAM. Pada dekade 2000-an, perusahaan-perusahaan yang sama pernah membayar denda miliaran dolar setelah penyelidikan terkait dugaan kolusi serupa.

Latar belakang itu membuat gugatan terbaru sulit diabaikan. Meski tuduhan saat ini masih harus dibuktikan di pengadilan, rekam jejak masa lalu memberi konteks tambahan terhadap kekhawatiran soal persaingan di industri memori.

Sejauh ini, Samsung, SK Hynix, dan Micron belum memberikan tanggapan publik yang rinci atas gugatan baru tersebut. Pada kasus-kasus sebelumnya, mereka membantah melakukan pelanggaran dan menyatakan keputusan produksi serta harga murni merupakan respons terhadap kondisi pasar dan lonjakan permintaan AI.

Perkembangan perkara ini berpotensi memengaruhi lebih dari sekadar tiga pemasok chip besar. Jika DRAM tetap mahal dan pasokannya ketat, tekanan bisa menjalar ke harga perangkat, tingkat persaingan, dan laju inovasi di seluruh industri teknologi dalam beberapa tahun ke depan.

Source: www.gizmochina.com

Terkait