Garansi OnePlus Dipersoalkan, Pengguna Mulai Curiga Merek Ini Sedang Bersiap Pergi

Sejumlah pelanggan OnePlus di Uni Eropa mulai melaporkan masalah garansi yang dinilai serius. Keluhan itu memicu kekhawatiran baru, bukan hanya soal layanan purnajual, tetapi juga soal masa depan operasi OnePlus di kawasan tersebut.

Percakapan pengguna kini ramai di Reddit, tempat beberapa konsumen membagikan pengalaman serupa. Sebagian di antaranya bahkan disebut sudah membawa perkara ini ke European Consumer Center (ECC) dengan dugaan praktik dagang yang menyesatkan dan pelanggaran ketentuan garansi.

Kasus yang banyak disorot berkaitan dengan OnePlus Buds 2 yang sebelumnya didapat sebagai hadiah saat membeli OnePlus 13 hampir dua tahun lalu. Menjelang masa garansi berakhir, perangkat itu mengalami kerusakan lalu dikirim ke OnePlus untuk diperbaiki.

Setelah perangkat diterima, OnePlus disebut menyatakan bahwa Buds 2 sudah mendekati akhir siklus hidup produk atau near-end-of-life. Karena itu, perusahaan disebut tidak bisa memperbaiki atau mengganti unit tersebut.

Sebagai gantinya, pelanggan ditawari voucher senilai €199 untuk digunakan di toko online OnePlus. Tawaran ini justru memicu masalah baru karena voucher itu dinilai sulit dipakai dalam praktik.

Di banyak pasar Eropa, situs OnePlus dilaporkan hampir kosong dari pilihan produk di luar smartphone dan tablet. Produk lain dengan harga mendekati €199 disebut banyak yang habis stok atau sedang berstatus promosi.

Masalahnya, sistem toko online OnePlus disebut tidak mengizinkan penggunaan voucher untuk barang yang sedang diskon. Kondisi ini membuat voucher pengganti terasa nyaris tidak bernilai bagi sebagian pelanggan.

Keluhan serupa tidak berhenti pada satu kasus. Sejumlah pelanggan lain di Uni Eropa juga mengaku menerima voucher sebagai kompensasi, bukan pengembalian dana tunai atau penggantian produk yang setara.

Di forum pengguna, situasi ini memunculkan tuduhan keras terhadap perusahaan. Beberapa konsumen bahkan menyebutnya sebagai “Europe exit scam”, mencerminkan kekecewaan yang semakin dalam terhadap cara OnePlus menangani klaim garansi.

Tanda yang Memicu Spekulasi

Masalah garansi ini dinilai sebagian pengamat dan pengguna bukan sekadar gangguan layanan biasa. Mereka melihatnya sebagai gejala dari kemungkinan OnePlus sedang mengurangi aktivitas bisnisnya di Eropa.

Indikasi yang paling sering disebut adalah memburuknya layanan garansi, banyaknya produk yang habis stok di toko resmi, dan adanya produk yang usianya belum genap dua tahun tetapi sudah dianggap mendekati akhir masa edar. Kombinasi ini membuat spekulasi soal potensi hengkangnya OnePlus dari Eropa semakin menguat.

Kekhawatiran itu makin besar ketika situasi ini dibaca bersama perubahan lain di tubuh perusahaan. Salah satu yang kerap disebut adalah penggabungan OxygenOS dan Realme UI dengan ColorOS.

Bagi sebagian pengguna lama, perubahan itu menambah kesan bahwa identitas OnePlus semakin melebur dengan merek lain dalam grup yang sama. Di saat bersamaan, OnePlus juga dinilai makin sering mendorong perangkat Oppo, sehingga batas antarmerek terlihat semakin tipis.

Ada pula konteks lain yang ikut memperkuat spekulasi. CEO OnePlus di India disebut akan mundur tidak lama setelah muncul rumor bahwa perusahaan itu menutup operasinya di India.

Walau itu bukan bukti langsung soal Eropa, rangkaian peristiwa tersebut membuat banyak pengguna merasa situasinya saling terhubung. Karena itu, keluhan garansi kini dibaca lebih luas sebagai sinyal perubahan arah bisnis perusahaan.

Dampak bagi Konsumen

Bagi pelanggan, inti persoalannya tetap sederhana: garansi seharusnya memberi kepastian ketika produk rusak dalam masa perlindungan. Ketika perbaikan tidak tersedia, penggantian barang tidak diberikan, dan kompensasi sulit digunakan, kepercayaan konsumen langsung tergerus.

Situasi ini juga menjadi sensitif karena menyangkut produk yang diperoleh dalam paket pembelian resmi. Meski OnePlus Buds 2 didapat sebagai hadiah, pelanggan tetap mengharapkan perlakuan garansi yang jelas selama masa perlindungannya belum habis.

Berkumpulnya pengguna di Reddit menunjukkan bahwa masalah ini sudah melampaui pengalaman individual. Ketika keluhan serupa muncul dari banyak negara dan mengarah ke lembaga perlindungan konsumen seperti ECC, isu layanan purnajual berubah menjadi persoalan reputasi regional.

Di sisi lain, belum ada kepastian resmi bahwa OnePlus benar-benar akan meninggalkan pasar Eropa. Namun, kombinasi antara keluhan garansi, keterbatasan stok, dan kebijakan kompensasi berbentuk voucher membuat banyak pelanggan di kawasan itu mulai mempertanyakan komitmen jangka panjang merek tersebut.

Bagi OnePlus, Eropa dulu dikenal sebagai salah satu pasar yang memberi sambutan kuat terhadap merek ini. Karena itu, memburuknya pengalaman purnajual saat ini terasa kontras dengan kesan positif yang sebelumnya pernah dibangun perusahaan lewat perangkat lama dan layanan after-sales yang lebih meyakinkan.

Kini, sorotan tertuju pada bagaimana OnePlus merespons gelombang keluhan ini. Jika pola penanganan garansi tidak berubah, tekanan dari konsumen dan lembaga perlindungan konsumen di Uni Eropa tampaknya akan terus meningkat.

Source: www.gsmarena.com
Terkait