Pasar smartphone global sedang melambat, tetapi dua nama terbesar justru memperlebar jarak dari para rivalnya. Menurut laporan baru Omdia yang dikutip www.gsmarena.com, pengiriman smartphone pada kuartal kedua tahun ini turun 4% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di tengah tekanan itu, Samsung dan Apple berhasil menambah pangsa pasar. Samsung naik dari 20% menjadi 22%, sementara Apple melonjak dari 16% menjadi 20%, sebuah pergeseran yang menunjukkan pasar mulai mengerucut ke merek-merek terbesar.
Rival China Tertekan, Harga Naik Menjadi Beban
Xiaomi, Oppo, dan vivo justru mengalami penurunan pangsa pasar. Xiaomi turun dari 15% menjadi 11%, Oppo dari 12% menjadi 10%, dan vivo dari 9% menjadi 8%.
Omdia menilai kenaikan biaya komponen, terutama akibat krisis memori yang terus berlanjut, ikut mendorong harga perangkat naik. Kondisi ini paling terasa di segmen bawah, saat konsumen makin sensitif terhadap harga.
| Merek | Pangsa Pasar Sebelumnya | Pangsa Pasar Sekarang |
|---|---|---|
| Samsung | 20% | 22% |
| Apple | 16% | 20% |
| Xiaomi | 15% | 11% |
| Oppo | 12% | 10% |
| vivo | 9% | 8% |
Samsung tetap memimpin pasar, tetapi sumber pertumbuhan terbesarnya datang dari segmen budget. Para pesaing asal China disebut mengurangi lini produk dan menaikkan harga, memberi ruang bagi Samsung untuk merebut lebih banyak pembeli di kelas bawah.
Sementara itu, Apple mencatat kuartal kedua terbaik dalam sejarah perusahaannya. Omdia menyebut pencapaian itu ditopang oleh iPhone 17 series dan keputusan Apple yang tidak menaikkan harga.
Segmen Murah Jadi Titik Paling Rentan
Penurunan penjualan paling besar terjadi di rentang harga di bawah $400. Runar Bjorhovde, Principal Analyst Omdia, mengatakan segmen ini paling berat karena pasokannya ketat, margin keuntungannya tipis, dan sensitivitas harga paling tinggi.
Masalah biaya juga makin berat karena memori dan storage kini menyumbang lebih dari 60% bill of materials untuk perangkat budget, serta lebih dari 30% untuk model premium. Itu berarti tekanan harga tidak hanya mengenai ponsel murah, tetapi juga ikut merembet ke kelas atas.
Omdia memperkirakan penurunan penjualan paling tajam akan terjadi pada kuartal ketiga dan keempat. Di saat yang sama, pilihan bagi konsumen dengan anggaran terbatas diprediksi makin menyempit karena vendor cenderung bergerak ke segmen harga yang lebih tinggi.
Dalam kondisi seperti itu, banyak pembeli massal diperkirakan akan menunda pembelian, menurunkan ekspektasi, memakai pembiayaan, atau memilih perangkat refurbished. Sinyal dari pasar ini menunjukkan bahwa pertarungan smartphone ke depan bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga soal siapa yang paling mampu bertahan saat biaya komponen terus menekan harga jual.
