Nothing Melaju 105% di India, Saat Pasar Smartphone Tertekan dan Harga Naik

Nothing mencatat pertumbuhan pengiriman smartphone tertinggi di India pada kuartal kedua, di tengah pasar yang justru mengalami tekanan besar. Pengirimannya melonjak 105% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data Counterpoint Research.

Lonjakan ini menempatkan Nothing sebagai merek smartphone dengan pertumbuhan tercepat di India. Capaian tersebut menonjol karena total pasar smartphone India menyusut 10% pada periode April hingga Juni, menjadi penurunan pengiriman terbesar dalam enam tahun terakhir.

Permintaan Phone (4a) Mengangkat Nothing

Pertumbuhan Nothing didorong oleh permintaan untuk Phone (4a) dan Phone (4a) Pro. Counterpoint Research juga menilai visibilitas tambahan dari status Nothing sebagai sponsor utama tim kriket RCB ikut mendukung performa merek tersebut.

Data yang dikutip www.gsmarena.com memperlihatkan situasi pasar yang tidak merata bagi banyak merek. Saat Nothing tumbuh agresif, sejumlah segmen harga rendah justru paling terpukul oleh kenaikan biaya komponen.

MerekPangsa Pasar Q2Perubahan atau Catatan
vivo17,8%Menjadi 19,5% bila iQOO dihitung
Samsung17,6%Pengiriman naik 2%
Xiaomi9,4%Naik dari 8%
Poco4%Turun dari 5,4%
Oppo, OnePlus, dan Realme26,1%Gabungan pangsa ketiga merek

Dalam perhitungan individu, vivo masih memimpin pasar dengan pangsa 17,8%. Namun, angka itu naik menjadi 19,5% apabila iQOO turut dimasukkan, karena Counterpoint Research memisahkan kontribusi submerek dari merek utamanya.

Oppo terlihat berada di posisi ketiga dalam perhitungan merek tunggal. Akan tetapi, gabungan Oppo dengan OnePlus dan Realme menghasilkan pangsa 26,1%, sehingga kelompok tersebut memimpin pasar secara lebih nyaman.

Persaingan Merek Besar Tetap Ketat

Samsung menguasai 17,6% pasar dan menjadi salah satu pemain besar yang masih meningkatkan pengiriman, dengan pertumbuhan 2%. Xiaomi juga memperbesar pangsanya dari 8% menjadi 9,4%, meski performa Poco bergerak berlawanan.

Pangsa Poco turun dari 5,4% menjadi 4% pada kuartal kedua. Meski begitu, pangsa gabungan Xiaomi dan Poco tetap berada di 13,4%, sama seperti pada kuartal kedua 2025.

Realme dan OnePlus juga sama-sama memperbesar pangsa pasar dibandingkan periode setahun sebelumnya. Pergerakan itu menunjukkan persaingan di India tidak hanya ditentukan oleh merek utama, tetapi juga oleh kekuatan portofolio submerek.

Kenaikan Biaya Memori Menekan Segmen Murah

Counterpoint Research mencatat kenaikan harga rata-rata smartphone telah mencapai sekitar 15% pada akhir kuartal kedua. Kenaikan ini didorong oleh biaya memori dan penyimpanan yang meningkat cepat.

Dampak paling besar terasa pada perangkat di bawah INR 15.000. Pengiriman di segmen tersebut anjlok 45% secara tahunan, memperlihatkan konsumen di kelas harga rendah paling sensitif terhadap kenaikan harga.

Berbeda dengan kelas murah, segmen di atas INR 45.000 relatif stabil. Counterpoint Research mengaitkan ketahanan kategori premium ini dengan meningkatnya penggunaan opsi pembiayaan oleh konsumen.

Di kategori premium, Google menjadi merek dengan pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 68% dibandingkan kuartal kedua 2025. Kinerja itu dikaitkan dengan keputusan Google untuk tidak menaikkan harga perangkatnya.

Apple bergerak ke arah berbeda dengan pengiriman yang turun 3% secara tahunan, walau pangsa pasarnya mencapai 7%. Sementara itu, pangsa merek-merek China pada kuartal kedua menjadi yang terendah untuk periode tersebut sejak 2020.

Counterpoint Research memperkirakan pasar smartphone India dapat turun 13% sepanjang tahun karena harga memori diperkirakan masih akan naik. Dalam kondisi ini, pertumbuhan Nothing menjadi sorotan karena terjadi ketika pasar luas sedang menghadapi tekanan biaya dan pelemahan pengiriman.

Source: www.gsmarena.com
Terkait