Mitos atau Fakta: Apakah Ganti Password Rutin Benar-Benar Tingkatkan Keamanan Akun?

Author: Qoo Media

Banyak orang percaya bahwa mengganti password secara rutin dapat meningkatkan keamanan akun mereka. Namun, pandangan ini ternyata tidak sepenuhnya benar menurut para ahli keamanan siber. Jennifer Golbeck, pakar ilmu komputer di University of Maryland, menyebut kebiasaan mengganti kata sandi secara teratur justru bisa berpotensi melemahkan keamanan akun.

Jennifer mengungkapkan bahwa ketika seseorang dipaksa mengganti password secara berkala, seringkali mereka hanya melakukan modifikasi kecil pada kata sandi lama, misalnya dengan mengganti satu huruf atau angka saja. Praktik ini berisiko membuat password menjadi mudah ditebak oleh peretas yang sudah mengenali pola perubahan tersebut.

Kapan Harus Mengganti Password?

Lorrie Cranor, pakar keamanan siber lain, menegaskan bahwa mengganti password secara berkala tanpa alasan khusus sebenarnya tidak dianjurkan. Namun, terdapat beberapa kondisi yang memang mengharuskan pengguna untuk segera mengganti kata sandi, antara lain:

  1. Terjadi kebocoran data pada situs atau layanan yang Anda gunakan.
  2. Muncul tanda-tanda peretasan akun, seperti notifikasi login di perangkat baru, email reset password mencurigakan, atau aktivitas tidak biasa.
  3. Login menggunakan perangkat umum atau komputer publik.
  4. Kata sandi yang digunakan termasuk lemah atau mudah ditebak.

Dengan mengganti password pada kondisi-kondisi di atas, risiko akses ilegal ke akun dapat diminimalkan secara signifikan.

Membangun Password yang Kuat dan Aman

Para ahli menyarankan agar password tidak hanya diganti saat diduga bocor, tetapi juga harus dibangun dengan karakteristik yang kuat sejak awal. Password ideal memiliki panjang antara 12 hingga 16 karakter yang mengandung kombinasi huruf besar dan kecil, angka, serta simbol. Contohnya seperti frasa “Yellow@banana/#2023” yang lebih mudah diingat dan lebih aman dibandingkan kombinasi acak yang pendek.

Hindari memakai informasi pribadi seperti nama, tanggal lahir, atau kata-kata yang mudah ditebak lainnya. Penting juga untuk tidak menggunakan password yang sama untuk banyak akun, karena hal ini meningkatkan risiko jika satu akun berhasil dibobol.

Tambahan Lapisan Keamanan

Selain membuat kata sandi yang kuat, metode pengamanan tambahan sangat dianjurkan. Menurut Richard Meeus dari Akamai, penggunaan two-factor authentication (2FA) dan teknologi biometrik seperti sidik jari dapat secara signifikan memperkuat pertahanan akun. Dengan metode ini, meskipun password bocor, peretas akan mengalami kesulitan untuk mengakses akun secara penuh.

Untuk membantu mengelola password yang banyak dan kompleks, pengguna bisa memakai aplikasi password manager. Alat ini dapat membuat, menyimpan, dan mengisi password secara otomatis dengan aman, sehingga mengurangi resiko penggunaan password yang lemah atau pengulangan kata sandi.

Bahaya Berbagi Password

National Cyber Security Council juga mengingatkan agar pengguna tidak berbagi password, bahkan sesekali, terutama untuk akun penting seperti email dan perbankan. Berbagi password bisa membuka celah keamanan yang berujung pada pencurian data dan tindakan kriminal siber lainnya.

Kesimpulannya, mengganti password rutin tanpa alasan signifikan tidak mutlak membuat akun lebih aman dan bahkan dapat membawa risiko keamanan tersendiri. Fokus utama sebaiknya pada penciptaan kata sandi yang kuat dan kompleks, penggunaan lapisan keamanan tambahan, serta mengganti password saat ada indikasi ancaman nyata. Dengan cara ini, perlindungan terhadap akun online bisa lebih efektif dan tahan terhadap serangan siber.

Terbaru