Karya Seni Kertas Jadi Primadona, Galeri Raup Untung Besar di Pameran Art Jakarta

Author: Qoo Media

Art Jakarta Papers 2026 menjadi magnet baru bagi kolektor seni dengan fokus pada karya berbasis kertas. Acara ini berlangsung di City Hall, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, menampilkan 28 galeri seni dari berbagai daerah di Indonesia serta satu galeri internasional dari Malaysia.

Format khusus bursa ini memberi peluang bagi medium kertas yang sebelumnya kurang mendapat perhatian di pasar seni rupa utama. Kehadiran Art Jakarta Papers membawa angin segar bagi karya berbasis kertas yang selama ini dianggap berada di pinggiran arus utama.

Penjualan Karya Berbasis Kertas Meningkat Pesat

Berbagai galeri mencatat penjualan yang menjanjikan selama pameran. Christiana Gouw, pendiri CG Artspace, menyampaikan bahwa sekitar 50 persen karya yang dipajang sudah terjual pada hari pertama. Gedungnya menampilkan karya Widi Pangestu secara tunggal karena nilai visual dan konsep yang kuat.

Christiana menambahkan bahwa target pasar Art Jakarta Papers berbeda dari acara seni rupa besar lainnya. Ia menyasar kolektor pemula yang mulai tertarik mengoleksi karya berbasis kertas, bukan kolektor lama dengan karakter berbeda.

Peran Kolektor Muda dan Reputasi Seniman

Devy Ferdianto, pendiri Devfto Printmaking Institute, menilai kolektor muda menjadi motor penggerak utama pasar seni berbasis kertas. Meski demikian, ia menekankan bahwa nilai suatu karya tidak hanya ditentukan oleh mediumnya saja. Reputasi seniman, teknik pembuatan, ukuran karya, dan edisi cetakan tetap menjadi faktor utama.

Di booth Devfto, harga karya seni berkisar antara Rp8 juta sampai Rp36 juta. Karya seperti seri The Book of Clown oleh Goenawan Mohamad dan Duri serta Kupu Kupu karya Garis Edelweiss dijual dengan harga sekitar Rp35 juta.

Tantangan Penyimpanan dan Perawatan Karya

Meski penjualan berjalan baik, Devy mengungkapkan ketakutan kolektor masih ada terkait isu penyimpanan dan perawatan karya kertas. Faktor cuaca, seperti kelembapan dan kurangnya infrastruktur penyimpanan yang memadai di Indonesia, menjadi kekhawatiran utama, bukan kualitas artistik karya itu sendiri.

Isu tersebut menjadi tantangan besar untuk membangun kepercayaan kolektor terhadap karya berbasis kertas agar pasar bisa berkembang lebih stabil.

Relevansi dan Posisi Medium Kertas dalam Seni Rupa Indonesia

Kritikus seni Hendro Wiyanto menilai Art Jakarta Papers memiliki peran penting dalam menantang dominasi media kanvas yang selama ini menjadi tolok ukur seni rupa dua dimensi. Kertas sering kali dianggap rapuh dan bernilai rendah, padahal secara historis medium ini memiliki kedudukan signifikan dalam tradisi seni Asia.

Hendro menekankan bahwa kesempatan nyata pasar karya berbasis kertas akan terwujud jika acara seperti Art Jakarta Papers diadakan secara rutin dan konsisten. Ramainya pengunjung memang menggembirakan, tetapi keberlanjutan pasar menjadi tolok ukur utama keberhasilan.

Galeri dan Kolektor Melihat Peluang Baru di Pasar Seni Kertas

Art Jakarta Papers 2026 membuktikan bahwa medium berbasis kertas mulai mendapatkan perhatian yang layak dalam ekosistem seni rupa Indonesia. Galeri-galeri yang berpartisipasi berhasil memanen cuan dengan daya jual yang meningkat dari kolektor baru.

Dalam beberapa tahun ke depan, diharapkan infrastruktur untuk penyimpanan dan perawatan karya kertas semakin membaik. Hal ini menjadi kunci agar pasar karya berbasis kertas mampu tumbuh tidak hanya dari sisi konsumsi kolektor pemula, tetapi juga dari aspek pengembangan apresiasi dan nilai seni.

Art Jakarta Papers membuka jalan baru bagi kreasi seni rupa kertas untuk tidak hanya dilihat sebagai objek murah dan rapuh, melainkan sebagai medium berkualitas yang layak dihargai dan diinvestasikan oleh kolektor seni di Indonesia.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com
Terbaru