Suzzanna selama ini dikenal sebagai sosok hantu ikonik dalam sinema horor Indonesia. Namun, dalam film terbaru berjudul Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, sutradara Azhar Kinoi Lubis dan aktris Luna Maya menghadirkan sosok tersebut dengan perspektif yang berbeda dan lebih dalam.
Azhar Kinoi Lubis menegaskan bahwa Suzzanna bukan sekadar penampakan menyeramkan. Ia melihat karakter ini sebagai simbol perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan dan pelecehan. Kepada awak media saat press junket pada 25 Februari 2026, Azhar membandingkan Suzzanna dengan sosok superhero wanita seperti Wonder Woman.
Kinoi menjelaskan bahwa ia ingin menghilangkan kesan mistis yang semata-mata menakut-nakuti. “Suzzanna adalah suara perempuan Indonesia yang berani bangkit,” tuturnya dalam acara yang berlangsung di Gondangdia, Jakarta Pusat. Ia menekankan bahwa film ini berupaya menghidupkan kembali esensi Suzzanna sebagai figur kuat dan berdaya, bukan hanya karakter hantu yang menakutkan.
Luna Maya, yang memerankan tokoh ikonik tersebut, turut memberikan perspektifnya. Ia memandang Suzzanna sebagai superhero yang berjuang menghadapi kejahatan, meski tanpa skala besar. “Dia adalah hero untuk dirinya sendiri dan keluarganya,” ujar Luna. Perjuangan ini membuktikan tekad kuat seorang perempuan untuk mempertahankan prinsip dan harga diri.
Selain menggambarkan keteguhan, Luna Maya juga menyoroti pesan keberdayaan yang dibawa oleh Suzzanna. Ia berharap jiwa kuat dalam karakter itu bisa menginspirasi perempuan-perempuan Indonesia agar tetap berani bersuara meski sering dibungkam. “Perempuan harus berdaya dan punya suara yang lantang,” katanya.
Dalam film ini, Soraya Intercine Films menyajikan sisi manusiawi dari Suzzanna, berbeda dari penampilan horor klasiknya. Aktor Reza Rahadian juga turut memerankan tokoh penting dalam cerita yang dijadwalkan tayang pada 18 Maret 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Transformasi Suzzanna dari legenda hantu menjadi sosok simbol kekuatan perempuan memberikan dimensi baru dalam dunia perfilman Indonesia.
Fokus pada representasi perempuan yang berani melawan penindasan menjadikan film ini menarik untuk disimak. Terlepas dari elemen horor, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa membuka ruang dialog tentang pemberdayaan dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan yang kerap dialami perempuan. Pendekatan ini memperkuat posisi Suzzanna sebagai bukan hanya ikon horor, tetapi juga sebagai inspirasi superhero perempuan masa kini.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com