Mengungkap Makna Trek No.29 di Album BTS yang Penuh Jejak Sejarah Korea

Album terbaru BTS yang berjudul ARIRANG menarik perhatian dengan lagu keenamnya, No. 29, yang unik dan penuh makna historis. Lagu berdurasi 1 menit 38 detik ini hanya berisi satu nada panjang tanpa lirik, vokal, atau beat, sehingga menimbulkan tanda tanya di kalangan pendengar.

Leader BTS, RM, menjelaskan bahwa lagu tersebut meniru suara Lonceng Suci Raja Seongdeok, artefak bersejarah Korea Selatan yang ditetapkan sebagai Harta Nasional nomor 29. Lonceng ini dibuat pada tahun 771 Masehi, era Dinasti Silla, dan memiliki resonansi suara yang berlangsung sangat lama, bahkan hingga puluhan kilometer.

Makna Lonceng dalam Lagu No. 29

Suara lonceng tersebut dikenal memiliki resonansi panjang dan membutuhkan waktu lebih dari satu menit untuk benar-benar hilang. RM mengonfirmasi bahwa durasi trek No. 29 disesuaikan agar menyerupai waktu peluruhan bunyi lonceng ini secara akurat. Hal ini memperkuat makna lagu sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Lonceng Suci Raja Seongdeok kini tersimpan di Museum Nasional Gyeongju dan menjadi simbol penting dalam sejarah budaya Korea. Penempatan lagu ini di album ARIRANG juga menjadi titik transisi yang signifikan, menghubungkan bagian album yang berbeda secara musikal dan konseptual.

Struktur Album ARIRANG dan Posisi Lagu No. 29

Album ARIRANG dibagi menjadi dua bagian utama. Lima lagu pertama seperti "Body to Body" dan "Hooligan" memiliki tempo cepat dan nuansa hip-hop yang padat. Lagu No. 29 kemudian menjadi jeda yang tenang sebelum memasuki paruh kedua album dengan lagu-lagu yang lebih melankolis dan reflektif.

Paruh kedua dimulai dengan single utama "SWIM" yang disutradarai oleh Ryan Tedder, menampilkan suara synthesizer yang lembut. Lagu seperti "Merry Go Round" dan "NORMAL" juga membawa tema introspektif, membahas isu seperti disorientasi dan refleksi atas ketenaran.

Simbolisme dan Konteks Budaya

Penggunaan Lonceng Suci Raja Seongdeok dalam album ini mencerminkan usaha BTS mengintegrasikan unsur budaya tradisional Korea dalam karya modern mereka. Billboard menganggap lagu No. 29 sebagai simbol keheningan yang kental, sementara kritikus musik dari Rolling Stone menilai trek ini sebagai pernyataan artistik yang kuat dan orisinal.

Seluruh konsep album ARIRANG juga kental dengan akses budaya Korea. Judulnya sendiri merujuk pada lagu rakyat Korea yang terkenal. Beberapa lagu lain di album ini menyisipkan unsur musik tradisional seperti pansori, menampilkan keberagaman dan kedalaman musikal yang mendalam.

Peluncuran dan Penyebaran Global

ARIRANG pertama kali dibawakan secara langsung di Gwanghwamun Square, Seoul, dengan siaran global melalui Netflix. BTS juga merilis film dokumenter pendamping bertajuk “BTS: THE RETURN,” yang dijadwalkan tayang pada 27 Maret. Ini menunjukkan bagaimana BTS menggabungkan kekuatan musik dengan dokumentasi visual untuk memperkuat pesan budaya dan sejarah mereka.

Kehadiran lagu No. 29 dalam album ARIRANG bukan hanya sebuah eksperimen musik, tetapi merupakan perayaan warisan budaya Korea yang kaya dan unik. Dengan pendekatan inovatif ini, BTS berhasil menghubungkan identitas nasional dengan narasi musikal global, memperkuat posisi mereka sebagai duta budaya modern sekaligus pelestari tradisi.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button