Asisten Pribadi Matthew Perry Divonis 41 Bulan, Jejak Ketamin yang Berujung Maut

Kenneth Iwamasa, asisten pribadi mendiang Matthew Perry, dijatuhi hukuman 41 bulan penjara federal atas perannya dalam memasok dan berulang kali menyuntikkan ketamin kepada sang aktor. Hukuman itu dijatuhkan pada Rabu, 27 Mei 2026, setelah pengadilan California menilai tindakan Iwamasa turut berujung pada dosis fatal yang menewaskan Perry pada Oktober 2023.

Selain hukuman penjara, pria berusia 61 tahun itu juga diwajibkan membayar denda sebesar $10.000 atau sekitar Rp178 juta. Iwamasa menjadi terdakwa kelima sekaligus terakhir yang dijatuhi vonis terkait kasus kematian bintang Friends tersebut.

Peran Iwamasa dalam lingkaran perawatan Perry

Berdasarkan dokumen pengadilan, Iwamasa sudah mengenal Perry sejak 1992. Ia kemudian mulai bekerja sebagai asisten pribadi yang tinggal serumah dengan Perry pada 2022.

Dalam peran itu, Iwamasa menerima bayaran $150.000 atau sekitar Rp2,6 miliar per tahun. Tugasnya mencakup mengoordinasikan perawatan medis Perry dan memastikan sang aktor meminum obat yang diresepkan dokter.

Jaksa menyebut Iwamasa tidak menjalankan tanggung jawab tersebut sebagaimana mestinya. Dalam berkas tuntutan, jaksa menilai ia justru berubah menjadi pihak yang memfasilitasi dan memasok obat-obatan bagi Perry.

Kronologi pasokan ketamin

Kasus ini bermula dari rangkaian kerja sama Iwamasa dengan beberapa orang untuk mendapatkan ketamin bagi Perry sejak September 2023 hingga kematian sang aktor pada 28 Oktober 2023. Di antara mereka ada dokter Salvador Plasencia, konselor kecanduan narkoba Erik Fleming, dan pemasok bernama Jasveen Sangha alias “Ketamine Queen”.

Plasencia disebut memasok 20 vial ketamin, sejumlah tablet, dan jarum suntik kepada Iwamasa dan Perry. Ia juga mengajari Iwamasa cara menyuntikkan ketamin kepada Perry.

Dokumen pengadilan menyebut Plasencia mematok total $57.000 atau sekitar Rp1 miliar untuk jasanya. Angka itu jauh di atas harga pasaran ketamin yang disebut hanya sekitar $15 atau Rp267 ribu per vial pada saat itu.

Dalam salah satu kejadian, Iwamasa melihat sendiri saat Plasencia menyuntik Perry dengan dosis tinggi. Setelah suntikan itu, Perry dilaporkan mendadak kaku dan tidak mampu bergerak maupun berbicara.

Dosis menjelang kematian Perry

Pada Oktober 2023, Iwamasa juga membeli 51 vial ketamin dari Fleming dalam rentang 11 hari. Fleming sendiri mendapat pasokan ketamin dari Sangha di North Hollywood.

Menjelang kematian Perry, Iwamasa berulang kali menyuntikkan ketamin milik Sangha kepada sang aktor. Selama periode itu, ia juga melihat ketergantungan Perry terhadap ketamin semakin parah.

Pengadilan menyebut Iwamasa menemukan Perry tidak sadarkan diri setidaknya dalam dua kesempatan. Ia juga menyaksikan reaksi fatal langsung setelah penyuntikan, saat Perry kembali menjadi kaku dan tidak bisa bicara atau bergerak.

Pada 28 Oktober 2023, Iwamasa menyuntik Perry dengan sedikitnya tiga dosis ketamin milik Sangha. Dosis itulah yang akhirnya menyebabkan kematian sang aktor.

Upaya menutupi jejak

Setelah Perry meninggal dan layanan darurat 911 dipanggil ke kediamannya, polisi Los Angeles menginterogasi Iwamasa. Saat ditanya obat yang dikonsumsi Perry, ia memberikan daftar dokter dan obat resmi yang diresepkan, tetapi sengaja tidak memasukkan ketamin.

Iwamasa juga memberikan urutan kejadian yang menutupi fakta bahwa ia telah menyuntik Perry, termasuk suntikan ketiga yang dilakukan hanya beberapa jam sebelum Perry dinyatakan meninggal. Dokumen pengadilan menyebut ia kemudian membuang botol ketamin dan jarum suntik, lalu menghubungi Fleming untuk mengatakan bahwa ia telah “menghapus dan membersihkan semuanya.”

Iwamasa mengaku bersalah pada Agustus 2024 atas satu dakwaan konspirasi pengedaran ketamin yang mengakibatkan kematian dan cedera fisik parah. Vonis 41 bulan penjara terhadapnya menutup rangkaian hukuman bagi para terdakwa lain dalam kasus yang sama.

Sebagai bagian dari perkara ini, Sangha, Plasencia, dan Fleming juga telah menerima hukuman penjara federal setelah mengaku bersalah atas dakwaan narkotika tingkat federal. Mantan dokter asal San Diego, Mark Chavez, turut dijatuhi hukuman delapan bulan tahanan rumah, 300 jam kerja sosial, dan tiga tahun masa percobaan setelah mengaku bersalah atas konspirasi pengedaran ketamin.

Source: www.medcom.id
Terkait