Wave To Earth Menguasai Teh Botol Hall, Antrean Panjang Warnai Hari Kedua Java Jazz

Author: Qoo Media

Antusiasme besar langsung mengiringi penampilan wave to earth pada hari kedua myBCA International Java Jazz Festival 2026 di Teh Botol Hall, Jakarta. Trio asal Seoul itu menjadi salah satu magnet utama Special Show karena ribuan penonton rela datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik di dekat panggung.

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean sudah mengular sejak beberapa jam sebelum jadwal tampil mereka pada pukul 18.30 WIB. Sejumlah penggemar bahkan tiba sejak pukul 14.30 WIB, memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik wave to earth di tengah padatnya pilihan penampil internasional dan lokal di festival tersebut.

Antrean panjang sebelum lampu panggung menyala

Kerumunan penonton terus bertambah seiring mendekatnya waktu pertunjukan. Situasi itu membuat area sekitar venue terasa padat sejak sore, dengan banyak pengunjung memilih bertahan lama agar tidak kehilangan momen saat trio yang digawangi Daniel Kim, Dong Q, dan John Cha itu naik ke panggung.

Begitu pintu venue dibuka, energi dari antrean panjang langsung berpindah ke dalam hall. Sorak-sorai pecah saat wave to earth tampil, menandai salah satu pertunjukan yang paling dinanti pada gelaran hari kedua Java Jazz 2026.

Lagu-lagu favorit menghidupkan suasana

Wave to earth kemudian membawakan sejumlah lagu yang akrab di telinga penggemar, termasuk “Bad” dan “Heaven and Hell”. Pilihan repertoar itu menjaga tensi penonton tetap tinggi dari awal hingga pertunjukan berjalan.

Momen paling riuh hadir saat “Love” dimainkan. Lagu tersebut langsung memancing penonton bernyanyi bersama dan memenuhi ruangan dengan sorakan yang terdengar sepanjang hall.

Karakter musik yang tenang, tapi kuat

Selama tampil, wave to earth hampir tidak banyak berbicara di sela lagu. Mereka lebih memilih menyambungkan satu nomor ke nomor lain secara mulus, sehingga suasana yang sudah terbentuk sejak awal tetap terjaga tanpa banyak jeda.

Pendekatan itu mempertegas ciri musik mereka yang atmosferik dan reflektif. Meski berakar pada indie pop dan indie rock, trio ini juga menyisipkan sentuhan jazz yang membuat warna musik mereka terasa lebih berlapis dan kaya.

Jazz sebagai warna, bukan sekadar label

Di tangan wave to earth, elemen jazz tidak hadir secara mencolok seperti improvisasi yang biasa diasosiasikan dengan jazz Amerika. Mereka justru mengolahnya secara subtil agar menyatu dengan lanskap suara yang tenang, lo-fi, dan mudah diterima pendengar umum.

Perpaduan itu membuat penampilan mereka terasa utuh di panggung Special Show, yang memang memberi ruang lebih luas dibanding format festival reguler. Durasi yang lebih longgar memungkinkan emosi pertunjukan dibangun bertahap hingga mencapai puncak.

Menjelang akhir penampilan, Daniel Kim sempat menyapa penonton dengan bahasa Indonesia dan mengucapkan, “Terima kasih.” Sambutan kecil itu langsung dibalas sorakan meriah dari penonton yang sejak sore sudah menunggu kehadiran mereka di Java Jazz 2026.

Kehadiran wave to earth juga menegaskan posisi mereka yang terus menguat di kancah internasional. Setelah merampungkan lebih dari 50 pertunjukan dalam rangkaian 0.3 World Tour, mereka juga mencatat pencapaian besar lewat penjualan habis tiga konser utama “love 0.3” di Seoul dalam waktu kurang dari satu menit.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru