Rueibin Chen datang ke Jakarta dengan membawa lebih dari sekadar repertoar piano klasik. Pianis internasional berdarah Taiwan dan berkewarganegaraan Austria itu akan tampil bersama Jakarta Simfonia Orchestra dalam pembawaan Piano Concerto No. 1 karya Johannes Brahms di Aula Simfonia Jakarta.
Bagi Chen, penampilan di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan musik yang lebih luas. Ia menyebut kedatangannya di Jakarta sebagai “gerakan pertama dari sebuah simfoni yang jauh lebih agung,” dan menempatkan konser ini sebagai ruang untuk mempertemukan tradisi musik Barat dengan sensibilitas budaya Timur.
Perjalanan yang Dibentuk oleh Kesepian
Di balik reputasinya sebagai pianis kelas dunia, Chen menempuh jalan panjang yang tidak mudah. Ia meninggalkan Taiwan pada usia 13 tahun untuk belajar di Wina, Austria, tanpa kemampuan berbahasa Jerman dan harus menjalani hidup seorang diri.
Chen mengisahkan bahwa masa itu sangat berat karena semua urusan ia tangani sendiri, mulai dari belajar hingga mempersiapkan kompetisi. Selama sepuluh tahun pertama tinggal di Eropa, ia juga tidak pernah pulang ke rumah karena belum adanya internet dan Wi-Fi yang memudahkan komunikasi seperti sekarang.
Kondisi itu membuat piano menjadi ruang pelarian sekaligus alat untuk bertahan. Dalam keterasingan sebagai remaja Asia di Eropa, ia menemukan cara mengekspresikan emosi lewat musik, bukan lewat kata-kata.
Brahms, Rachmaninoff, dan Jejak Emosi
Pengalaman hidup yang keras justru membentuk kedekatan Chen dengan karya-karya besar seperti Brahms dan Rachmaninoff. Ia merasa kedua komponis itu juga melewati fase hidup yang tidak ringan, sehingga musik mereka terasa sangat personal baginya.
Hubungan emosional itu ikut menjelaskan mengapa Brahms Piano Concerto No. 1 menjadi pilihan utamanya di Jakarta. Karya tersebut tidak hanya menuntut teknik tinggi, tetapi juga memberi ruang untuk mengekspresikan kedalaman rasa yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan musikal Chen.
Teknik Kuat, Akar Timur
Dalam dunia musik klasik, Chen kerap dikaitkan dengan dua julukan yang kontras. Kritikus menyebutnya “Jari-Jari Horowitz” karena permainan yang eksplosif, sekaligus “Jari-Jari Malaikat” karena sentuhan yang halus.
Bagi Chen, perbandingan dengan Vladimir Horowitz adalah bentuk penghormatan besar. Namun ia menegaskan tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang legenda Barat itu, karena teknik yang ia kuasai harus tetap menjadi medium untuk menyalurkan identitasnya sendiri.
Ia menyebut misi pribadinya adalah memadukan kekuatan teknik dengan jiwa, akar budaya Timur, dan energi yang ia miliki saat ini. Dari sana, piano tidak hanya menjadi instrumen pertunjukan, tetapi juga bahasa untuk menghubungkan pengalaman lintas budaya.
Membangun Jembatan Budaya Lewat Musik
Chen memandang dirinya sebagai musikus yang membawa warisan teknik klasik Eropa sekaligus latar budaya Tionghoa. Kombinasi itu membuatnya ingin membangun jembatan antara Timur dan Barat melalui panggung konser.
Ia pernah menyaksikan bagaimana audiens Barat merespons musik yang membawa nuansa Timur dengan rasa penasaran dan imajinasi baru. Di sisi lain, penonton yang hidup jauh dari tanah asalnya dapat merasakan ikatan emosional yang kuat ketika mendengar akar budaya mereka dibawakan di ruang konser bergengsi.
Chen menilai momen seperti itu menunjukkan kekuatan musik yang melampaui bahasa. Saat penonton tersentuh hingga menangis karena mendengar unsur budaya mereka sendiri, ia melihat bukti bahwa musik mampu menyentuh identitas paling dalam.
Harapan untuk Indonesia
Ketertarikan Chen pada Indonesia tidak berhenti pada konser Brahms semata. Ia menilai penonton dan musisi muda di Indonesia memiliki gairah besar terhadap musik klasik, sekaligus hidup di tengah kekayaan akar budaya yang kuat.
Chen juga membuka peluang kolaborasi dengan musisi klasik maupun tradisional Indonesia. Ia bahkan membayangkan pertemuan antara teknik piano Rusia dan ritme mistis dari warisan tradisional Indonesia sebagai sesuatu yang dapat melahirkan energi baru di panggung global.
Dalam pandangannya, kolaborasi semacam itu bisa menciptakan “gempa budaya” yang mengguncang batas-batas estetika musik. Pandangan itu menegaskan bahwa bagi Rueibin Chen, piano bukan hanya alat pertunjukan, melainkan sarana untuk mempertemukan tradisi, emosi, dan identitas dalam satu bahasa yang dapat dipahami lintas negara.
Source: mediaindonesia.com






