Reality Club menilai musik tidak berhenti pada proses merilis lagu, tetapi harus mampu membangun hubungan yang terasa nyata dengan pendengar. Pandangan itu mengemuka dalam diskusi musik bersama Spotify di Jakarta, saat grup indie rock tersebut membahas pentingnya koneksi autentik di tengah ekosistem musik yang makin digital.
Gitaris Reality Club, Nugi Wicaksono, menegaskan bahwa teknologi hanya menjadi alat untuk memperkuat relasi antarmanusia. Ia menyebut seluruh sarana digital, baik daring maupun luring, pada akhirnya tetap dipakai untuk menciptakan kedekatan yang lebih dalam melalui karya musik.
Koneksi manusia tetap jadi tujuan utama
Menurut Nugi, musisi perlu memahami bahwa karya yang dipublikasikan lewat platform digital tetap ditujukan kepada manusia dengan pengalaman dan emosi yang berbeda-beda. Karena itu, kehadiran teknologi tidak boleh menggeser esensi musik sebagai medium yang menghubungkan orang satu sama lain.
Ia menilai semua alat bantu distribusi, promosi, dan konsumsi musik semestinya dipandang sebagai jembatan. Koneksi itu bisa terjadi saat lagu diputar di platform streaming, saat dibawakan di panggung, atau ketika pendengar menemukan makna pribadi dalam sebuah karya.
Gitaris Reality Club lainnya, Faiz Novascotia Saripudin, juga menyoroti pentingnya hubungan emosional yang jujur antara musisi dan pendengar. Menurut dia, sebuah lagu tidak harus langsung mendapat sambutan besar ketika dirilis, selama karya tersebut memiliki kejujuran yang kuat.
Faiz menilai daya tahan musisi di industri sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun keterikatan yang autentik. Ia juga melihat bahwa pendengar masa kini kerap menjadikan musik sebagai bagian dari identitas diri yang ingin mereka tunjukkan kepada lingkungan sekitar.
Pendengar aktif ikut membentuk ekosistem musik
Faiz menggambarkan bahwa sebagian pendengar menggunakan preferensi musik sebagai penanda kepribadian. Dalam pandangannya, cara orang memilih dan menyebutkan band yang mereka dengarkan sering kali terkait dengan citra diri dan rasa keterhubungan dengan komunitas tertentu.
Di sisi lain, data internal Spotify menunjukkan bahwa penggemar yang sangat loyal memiliki pengaruh ekonomi yang besar terhadap musisi. Meski jumlahnya hanya 2 persen dari total pendengar bulanan, kelompok yang disebut super listeners itu menyumbang lebih dari 18 persen streaming.
Kontribusi mereka juga terlihat di penjualan tiket konser, dengan porsi mencapai 50 persen dari total penjualan di platform. Angka ini menunjukkan bahwa intensitas keterikatan pendengar tidak hanya berdampak pada konsumsi digital, tetapi juga pada aktivitas langsung di luar platform.
Data Spotify menunjukkan ruang tumbuh yang masih besar
Spotify mencatat royalti musisi Indonesia tumbuh 16 persen secara tahunan menurut data internal perusahaan. Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa ekosistem musik lokal masih memiliki ruang pengembangan yang kuat, terutama ketika hubungan antara musisi dan pendengar bisa dijaga lebih dekat.
Berikut ringkasan data yang dibagikan Spotify dalam diskusi tersebut:
| Indikator | Data |
|---|---|
| Pertumbuhan royalti musisi Indonesia | 16 persen |
| Proporsi super listeners | 2 persen dari total pendengar bulanan |
| Kontribusi streaming super listeners | Lebih dari 18 persen |
| Kontribusi penjualan tiket konser | 50 persen dari total penjualan di platform |
Vokalis Reality Club, Fathia Izzati, menambahkan bahwa ketertarikan terhadap ekosistem musik Indonesia juga datang dari pelaku industri luar negeri. Ia melihat lingkungan musik di tanah air dinilai suportif dan menarik untuk dilihat lebih jauh oleh pihak eksternal.
Spotify dan musisi dorong interaksi yang lebih luas
Head of Music Spotify Southeast Asia, Kossy Ng, menjelaskan bahwa pengembangan fitur Spotify for Artists terus dilakukan berdasarkan masukan dari musisi dan manajer. Fokus utamanya adalah membantu musisi memahami serta mengelola kelompok super listeners yang punya dampak besar terhadap pertumbuhan karya.
Menurut Kossy, meski jumlahnya kecil, kelompok ini memberi pengaruh luas lewat pemutaran lagu dan daya beli yang tinggi terhadap tiket konser. Karena itu, pengelolaan hubungan dengan pendengar menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan musisi di era streaming.
Reality Club sendiri mendorong lebih banyak titik interaksi agar pendengar mau menjelajahi katalog lagu secara lebih dalam. Dorongan itu juga mencakup perhatian terhadap lagu-lagu yang jarang populer atau B-sides, karena kedekatan yang terbentuk sering kali justru lahir dari penemuan karya yang lebih luas.
