Seniman muda Imes Paskalia menampilkan sekitar 50 karya dalam pameran tunggal bertajuk Matahari dan Bayangan di Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran ini berlangsung hingga 16 Juli 2026 dan menyoroti pengalaman personal, kejujuran, luka, serta proses memahami diri melalui bahasa visual abstrak.
Salah satu karya yang langsung menyambut pengunjung adalah Senja Biru (2025), lukisan cat minyak dengan sapuan jingga, merah muda, hitam, dan putih yang berputar di atas kanvas. Di sudut kanan, bidang biru memberi kontras yang tenang di tengah komposisi warna yang dinamis.
Seni sebagai ruang yang lebih jujur
Imes memandang proses berkarya sebagai cara untuk mengucapkan hal-hal yang sulit disampaikan lewat percakapan. Lulusan LASALLE College of the Arts, Singapura, itu menilai kanvas memberi ruang yang lebih bebas untuk mengekspresikan isi batin tanpa harus berhadapan dengan penilaian langsung.
“Kalau dengan orang, aku merasa tidak pernah bisa sejujur itu. Tapi dengan kanvas, dengan aku berkarya, dengan aku menulis, itu aku benar-benar bisa,” ujarnya usai pembukaan pameran.
Dari catatan harian yang ia tulis, lahir gagasan utama pameran ini. Konsep tersebut kemudian dikembangkan bersama kurator Afrizal Malna menjadi rangkaian karya yang menautkan pengalaman pribadi dengan pembacaan yang lebih luas tentang manusia.
Makna di balik Matahari dan Bayangan
Judul pameran ini berangkat dari refleksi Imes terhadap dirinya sendiri. Ia mengaku selama ini merasa lebih dekat dengan bulan, tetapi kemudian menyadari bahwa yang dicari sebenarnya adalah matahari.
“Selama ini aku merasa selalu belong to the moon. Tapi semakin ke sini aku sadar bahwa yang selama ini aku cari adalah matahari. Tapi aku terlalu takut mendekat ke matahari karena matahari akan menunjukkan bayangan gelap,” katanya.
Pandangan itu menjadi dasar pameran yang tidak hanya berbicara soal terang, tetapi juga sisi gelap yang ikut muncul ketika seseorang berusaha memahami dirinya. Dalam kerangka itu, bayangan tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari proses mengenali diri secara utuh.
Karya-karya yang memetakan pergulatan batin
Gagasan tersebut terlihat dalam sejumlah karya yang ditampilkan. Dalam White Noise (2017), Imes menyusun lapisan warna yang saling bertumpuk hingga membentuk lanskap abstrak dengan kesan kebisingan visual.
Sementara itu, The Soul Fractures (2025) memakai medium arang dan pensil untuk menghadirkan pusaran garis hitam yang menjadi metafora atas jiwa yang berusaha membaca retakan di dalam dirinya. Pendekatan monokrom pada karya ini memberi penekanan pada rasa rapuh sekaligus upaya memahami luka.
Imes juga menyebut bahwa pengalamannya bersinggungan dengan trauma ikut membentuk cara ia berkarya. Ia mengaku pernah mengalami peristiwa traumatis saat SMA yang dampaknya berlanjut hingga masa kuliah, namun memilih mengolahnya menjadi bahasa visual yang terbuka untuk beragam tafsir.
“Ketika aku berkarya, aku bisa jadi apa pun. Kesakitanku tidak ada yang mempertanyakan atau menghakimi,” katanya.
Pembacaan kurator terhadap karya Imes
Afrizal Malna melihat praktik artistik Imes tidak berhenti pada pengakuan personal. Menurutnya, pameran ini mengajak pengunjung membaca cara manusia mengenali diri melalui bayangan, pantulan, dan bentuk representasi yang terus berubah.
Afrizal juga menautkan No Voice Screaming dengan The Scream karya Edvard Munch. Namun, ia menilai karya Imes bergerak ke arah yang berbeda karena lebih menonjolkan rasa sakit, perubahan, dan proses penerimaan diri.
“Dalam karya-karyanya ini Imes tidak sedang mempertontonkan teknologi, tetapi membangun koneksi manusia dengan manusia,” ujar Afrizal. Ia menambahkan bahwa pameran ini menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi ruang untuk memahami diri sekaligus merawat hubungan antarmanusia.
Di ruang pamer, sekitar 50 karya itu membentuk rangkaian yang memperlihatkan bagaimana Imes mengolah ingatan, kegelisahan, dan pencarian identitas menjadi pengalaman visual yang terbuka. Pameran Matahari dan Bayangan kemudian hadir bukan hanya sebagai presentasi karya, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara pengalaman pribadi, tafsir kuratorial, dan respons publik di Jakarta.
Source: lifestyle.bisnis.com






