Di era ketika lagu bisa dirilis dengan mudah lewat platform digital, panggung langsung justru tetap menjadi kebutuhan penting bagi musisi pendatang baru. Gig dan festival memberi ruang yang tidak bisa digantikan oleh unggahan di media sosial.
Lewat penampilan langsung, musisi bisa menjangkau pendengar secara lebih dekat, membangun hubungan dengan penikmat musik, dan mulai mengumpulkan basis penggemar sendiri. Hal itu juga terlihat dari pengalaman tiga finalis Mastercard Artist Accelerator Indonesia, yakni Rimaldi, Jingga Arshabidari, dan Gavendri.
Kesempatan tampil yang membentuk perjalanan musisi baru
Ketiganya menilai kesempatan tampil di depan publik masih menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang musisi muda. Selain untuk memperkenalkan karya, panggung juga dipandang sebagai tempat mengasah kemampuan tampil secara langsung.
Pengalaman itu mereka dapatkan selama mengikuti Mastercard Artist Accelerator Indonesia, program pengembangan bagi musisi muda yang menggabungkan perluasan audiens lewat teknologi digital dan tur langsung. Di program tersebut, kesempatan tampil menjadi salah satu pengalaman yang paling mereka sorot.
Rimaldi menyebut selama program berlangsung para finalis mendapat kesempatan tampil empat kali dan juga tampil secara live di TikTok dengan jumlah penonton yang sangat besar. Menurut dia, pengalaman itu membantu musik baru menjangkau lebih banyak orang sekaligus mulai membangun basis pendengar.
Dalam konferensi pers Finalis Mastercard Artist Accelerator Indonesia di Jakarta, Minggu, (12/7/2026), Rimaldi mengatakan finalis kembali mendapat satu kesempatan tampil lagi dengan durasi yang lebih panjang untuk memperkenalkan musik mereka. Ia menilai setiap panggung membawa tantangan yang berbeda.
| Tahap Penampilan | Lokasi/Format | Tantangan Utama |
|---|---|---|
| Awal program | Krapela | Menampilkan karakter musik masing-masing |
| Pekan kedua | Format lebih sederhana dan minimalis | Membawakan pertunjukan dengan konsep yang lebih simpel |
| Pekan ketiga | Kolaborasi dengan musisi lain | Beradaptasi dalam kerja sama lintas penampil |
| Pekan keempat | Aransemen ulang lagu ciptaan sendiri | Mengubah genre lagu ke pop, jazz, atau gaya lain |
| Final | M Bloc Livehouse | Tampil di hadapan penonton yang lebih besar |
Rimaldi menegaskan tantangan terbesar justru hadir pada minggu terakhir karena para finalis benar-benar dipaksa keluar dari zona nyaman. Perubahan format dari satu pekan ke pekan lain juga membuat panggung menjadi ruang latihan yang terus bergerak.
Jejaring baru dan pelajaran dari sesama musisi
Gavendri melihat kesempatan tampil berulang kali sebagai pengalaman berharga bagi musisi independen. Bagi dia, setiap pertunjukan bukan hanya ajang unjuk karya, tetapi juga kesempatan untuk mengasah kemampuan di depan audiens yang lebih luas.
Ia juga menilai program itu membawanya bertemu banyak orang baru, termasuk pelaku industri musik. Gavendri berharap jejaring yang terbentuk selama program bisa membuka peluang lebih banyak setelah kompetisi berakhir.
Sementara itu, Jingga Arshabidari menilai pengalaman paling penting dari program ini bukan hanya panggung, tetapi juga pertemuan dengan sesama musisi. Sebagai pendatang baru, ia mengaku kerap merasa berjuang sendirian.
Melalui kompetisi tersebut, para peserta bisa saling berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain. Jingga juga mendapat kesempatan bertemu banyak musisi berbakat, termasuk di belakang panggung, untuk sama-sama belajar membuat pertunjukan yang baik.
Karier musik tidak cukup hanya hidup di layar
Senior Vice President & Head of Integrated Marketing & Communications, Southeast Asia, Mastercard, Dheeraj Raina, menilai media sosial memang membuka akses lebih luas bagi musisi untuk merilis karya dan membangun penonton. Namun, jangkauan digital saja belum tentu cukup untuk menopang karier dalam jangka panjang.
Dheeraj mengatakan talenta baru tetap membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh masukan, dan merasakan pengalaman tampil di hadapan penonton. Karena itu, program seperti Mastercard Artist Accelerator dirancang untuk menghadirkan pendampingan sekaligus pengalaman panggung yang menyerupai gig dan festival musik.
“Bagi kami, perjalanan seorang artis bukan sekadar memiliki banyak pengikut di media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka memiliki penggemar yang benar-benar mendukung karya mereka,” katanya.
Ia menambahkan, dukungan yang dimaksud bukan hanya hadir di layar, melainkan juga membeli tiket konser, mengikuti perjalanan karier, bahkan rela datang ke negara lain untuk menyaksikan penampilan mereka. Bagi Mastercard, dukungan semacam itu menjadi tanda karier yang lebih berkelanjutan.
Head of Southeast Asia, SoundOn, Tom Chou, juga menilai perjalanan menjadi musisi saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Musisi tidak hanya dituntut menciptakan dan merekam lagu, tetapi juga membangun komunitas, berbagi cerita di balik karya, menjaga hubungan dengan penonton, dan terus mencari pendengar baru.
Menurut Tom, tuntutan itu menghadirkan peluang sekaligus tantangan, terutama bagi musisi independen yang harus menjalankan banyak peran sekaligus. Karena itu, dukungan yang membantu memperluas jangkauan di berbagai platform digital dan membangun karier yang lebih berkelanjutan tetap dibutuhkan.
