5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menonton The Odyssey

Christopher Nolan kembali menarik perhatian lewat The Odyssey, film adaptasi epos Yunani kuno karya Homer yang akan membawa penonton ke perjalanan Odysseus setelah Perang Troya berakhir. Film ini tidak hanya menjual skala besar, tetapi juga menyiapkan pendekatan yang berbeda dari banyak adaptasi mitologi pada umumnya.

Alih-alih menjadi film perang semata, The Odyssey justru menempatkan perjalanan pulang selama 10 tahun sebagai pusat cerita. Fokusnya ada pada Odysseus, Raja Ithaca yang diperankan Matt Damon, saat berusaha kembali ke Yunani Kuno demi bertemu lagi dengan Penelope yang dimainkan Anne Hathaway dan putranya, Telemachus yang diperankan Tom Holland.

Berikut 5 hal yang perlu diketahui sebelum menonton The Odyssey.

1. Adaptasi epos klasik karya Homer

The Odyssey diangkat dari puisi epik Yunani kuno karya Homer yang usianya sudah lebih dari 2.700 tahun. Kisah ini menjadi lanjutan dari peristiwa setelah Perang Troya yang sebelumnya diceritakan dalam The Iliad.

Berbeda dari The Iliad yang berfokus pada peperangan, The Odyssey mengutamakan perjalanan panjang Odysseus untuk pulang setelah perang selesai. Inilah yang membuat film ini punya fondasi cerita klasik, tetapi dengan arah dramatis yang lebih personal.

2. Banyak makhluk mitologi Yunani akan muncul

Karena bersumber dari epos Yunani kuno, film ini memuat banyak unsur mitologi. Beberapa di antaranya adalah Cyclops bermata satu, Siren, penyihir Circe, nimfa Kalipso, hingga dewa laut Poseidon yang menjadi musuh utama Odysseus.

Dewi Athena yang diperankan Zendaya juga hadir sebagai sosok yang kerap membimbing dan melindungi Odysseus sepanjang perjalanan. Kombinasi tokoh-tokoh itu membuat The Odyssey tetap dekat dengan dunia mitologi yang melekat pada kisah aslinya.

3. Bukan film perang, melainkan perjalanan pulang

Trailer The Odyssey memang dibuka dengan adegan Perang Troya, tetapi perang itu bukan inti cerita. Konflik utamanya justru terletak pada usaha Odysseus menempuh perjalanan pulang setelah bertahun-tahun terpisah dari keluarganya.

Film ini mengikuti perjuangan 10 tahun yang penuh ancaman dari para dewa dan makhluk mitologi. Dari situ, cerita berkembang menjadi kisah tentang kesetiaan, pengorbanan, dan harapan yang dibangun di atas skala petualangan besar.

Fokus ceritaTokoh utamaTujuan
Perjalanan pasca-Perang TroyaOdysseusPulang ke Ithaca dan kembali ke keluarganya

4. Tidak harus membaca bukunya dulu

Penonton tidak wajib membaca The Odyssey atau The Iliad sebelum menonton versi filmnya. Mengetahui latar Perang Troya dan siapa Odysseus sudah cukup sebagai bekal dasar untuk mengikuti alur cerita.

Versi Christopher Nolan tetap mempertahankan bobot kisah aslinya, tetapi tidak dibuat terlalu rumit sampai menyulitkan penonton baru. Karena itu, film ini masih bisa dinikmati bahkan oleh penonton yang belum akrab dengan epos Homer.

5. Jadi film pertama yang direkam 100 persen dengan kamera film IMAX

The Odyssey tercatat sebagai film pertama dalam sejarah perfilman yang direkam 100 persen, atau setiap frame-nya, menggunakan kamera film IMAX. IMAX bekerja sama dengan Nolan dan timnya untuk menciptakan sistem cermin yang memungkinkan kamera menangkap wajah para aktor dari sudut yang lebih dekat.

Nolan menyebut IMAX sebagai format pencitraan berkualitas tertinggi yang pernah dirancang karena resolusinya sangat tinggi, hingga tiga kali lebih tinggi daripada kamera digital. Ia juga menegaskan, “Tidak ada yang dapat menyainginya.”

Meski memakai teknologi itu, Nolan tetap membawa ciri khasnya lewat narasi yang kompleks dan berlapis. Bedanya, kali ini ia memilih bahasa Inggris modern agar ceritanya terasa lebih membumi dan mudah diikuti penonton masa kini.

The Odyssey dijadwalkan tayang pada 15 Juli 2026 di bioskop Indonesia.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait