Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap gejala campak yang terbagi dalam tiga fase penting. Informasi ini disampaikan oleh Ketua IDAI Jabar, Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), dalam seminar media yang diadakan secara daring dari Jakarta.
Fase pertama campak adalah stadium prodromal yang berlangsung selama tiga hingga lima hari. Pada fase ini, penderita mengalami demam tinggi serta gejala “3C”: pilek, batuk, dan mata merah. Dokter biasanya mendeteksi keberadaan bintik putih di area mulut yang disebut Koplik’s spot sebelum ruam muncul sebagai tanda khas campak.
Fase berikutnya adalah stadium erupsi, di mana ruam kemerahan mulai muncul dan menyebar secara bertahap. Ruam ini mula-mula terlihat di kulit sekitar rambut, terutama di belakang telinga, lalu merambat ke batang tubuh, lengan, dan kaki. Tahap ini menandai penyebaran virus campak di kulit penderita.
Fase terakhir adalah konvalesens, yang ditandai dengan perubahan warna ruam menjadi gelap, kemudian mengering dan mengelupas. Proses ini merupakan tanda penyembuhan pada pasien yang terinfeksi campak. Kulit yang mengelupas terlihat bersisik, melambangkan fase pemulihan.
Prof Anggraini menjelaskan bahwa virus campak sangat mudah menular melalui udara lewat percikan batuk, bersin, atau berbicara. Virus bisa bertahan di udara hingga dua jam dan menempel pada permukaan atau partikel debu di lingkungan sekitar. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke 18 orang lain, angka penularan yang hampir setara dengan tuberkulosis.
Faktor seperti lingkungan lembap, kepadatan penduduk tinggi, dan ventilasi yang buruk mempercepat penyebaran virus campak. Masa inkubasi penyakit ini dapat mencapai tiga minggu sebelum gejala muncul sehingga sulit untuk langsung diketahui dan diisolasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko wabah lokal atau kejadian luar biasa (KLB) jika tanpa penanganan tepat.
Untuk mencegah penyebaran campak, imunisasi menjadi kunci utama dalam pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity). Menurut Prof Anggraini, minimal 94 persen populasi harus mendapatkan vaksin campak agar penyakit ini dapat terkendali. Pemerintah Indonesia telah menetapkan jadwal imunisasi campak sebanyak tiga kali.
Jadwal imunisasi itu meliputi usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak memasuki kelas 1 sekolah dasar. Vaksin campak yang digunakan berupa virus yang telah dilemahkan sehingga aman namun efektif dalam merangsang tubuh membentuk antibodi untuk melawan virus asli. Vaksinasi rutin ini sangat penting demi melindungi anak dan masyarakat luas dari risiko KLB.
Dengan peningkatan kesadaran terhadap fase-fase gejala campak dan disiplin menjalankan imunisasi, risiko wabah serta komplikasi serius akibat campak dapat diminimalisir. Vaksinasi terbukti menjadi solusi aman, efektif, dan biaya efisien dalam mengendalikan penyakit yang sangat menular ini. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan anak yang mengalami gejala awal dan memastikan jadwal imunisasi berjalan sesuai rekomendasi kesehatan.
