Laba Industri China Melonjak di Awal Tahun, Namun Guncangan Harga Minyak Jadi Risiko Baru
Laba perusahaan industri China naik 15,2% secara tahunan pada dua bulan pertama tahun ini, menandai pemulihan tajam setelah kenaikan 5,3% pada Desember. Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan penguatan itu didorong oleh aktivitas pabrik yang lebih cepat dan harga produk yang naik.
Kenaikan tersebut memberi sinyal bahwa sektor manufaktur masih mampu bertahan di tengah pelemahan permintaan konsumen dan tekanan kelebihan kapasitas industri. Namun, prospek ke depan mulai dibayangi lonjakan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik yang dapat menekan biaya produksi dan stabilitas pasar energi.
Tekanan dari industri teknologi dan bahan baku
Biro Statistik Nasional menyebut sektor manufaktur berteknologi tinggi menjadi pendorong utama lonjakan laba. Laba di sektor ini melonjak 58,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan dukungan kenaikan pendapatan yang kuat dari produsen pesawat nirawak dan semikonduktor.
- Laba industri manufaktur berteknologi tinggi naik 58,7%.
- Laba produsen logam nonferrous melonjak 148,2%.
- Laba produsen kimia naik 35,9%.
Kinerja kuat juga datang dari produsen bahan baku, terutama logam nonferrous dan kimia. Kenaikan itu menunjukkan sebagian industri masih diuntungkan oleh pemulihan harga dan aktivitas produksi yang lebih padat.
Pemulihan belum merata di seluruh sektor
Kepala statistik NBS, Yu Weining, mengatakan lonjakan laba terutama dipicu oleh percepatan aktivitas pabrik dan kenaikan harga produk. Meski begitu, Yu mengingatkan bahwa pemulihan antar-sektor masih tidak seimbang dan risiko dari ketegangan geopolitik yang meningkat bisa menekan prospek pertumbuhan.
Data setahun penuh sebelumnya menunjukkan laba industri China naik 0,6% dan mengakhiri tiga tahun penurunan berturut-turut. Pemulihan itu terjadi ketika otoritas China menahan persaingan harga yang agresif dan banyak perusahaan meningkatkan ekspor untuk memanfaatkan permintaan luar negeri.
Risiko baru dari pasar minyak global
Dalam perkembangan yang memicu kekhawatiran baru, China berupaya menahan dampak gangguan pengiriman minyak di Timur Tengah setelah serangan AS-Israel terhadap Iran. Teheran kemudian menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi arus energi dunia, bagi sebagian besar kapal komersial.
Harga minyak global yang naik mulai merembes ke ekonomi domestik China, sehingga pemerintah menaikkan batas harga eceran bensin dan solar pada awal pekan ini. Namun, kenaikan itu dibatasi sekitar setengah dari penyesuaian normal untuk menahan dampak ke konsumen.
Mengapa China masih relatif lebih terlindungi
China diperkirakan lebih tahan terhadap lonjakan harga energi dibanding banyak negara lain karena memiliki cadangan minyak yang besar dan sumber energi alternatif. Iran juga masih terus mengirim jutaan barel minyak mentah ke China sejak perang dimulai, sehingga pasokan ke pasar China belum sepenuhnya terganggu.
Meski begitu, kenaikan harga energi tetap bisa menekan biaya produksi, mempersempit margin industri, dan menguji ketahanan pemulihan manufaktur dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi itu membuat lonjakan laba awal tahun ini belum sepenuhnya menjamin tren yang stabil untuk sisa tahun ini.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbc.com








