
Mother’s Day pada 2026 jatuh pada Minggu, 10 Mei, dan peringatannya kembali menyorot sesuatu yang sering luput dari sorotan: kekuatan yang bekerja tanpa suara. Di banyak keluarga, hari itu dirayakan dengan bunga, salam, makanan, telepon, dan unggahan di media sosial, tetapi makna terpentingnya justru ada pada keteguhan yang tidak selalu terlihat.
Pada usia tua dan saat sakit, seorang ibu sering tetap memegang rutinitas sederhana yang penuh arti. Ia berdoa Rosario, membaca Alkitab, menonton program devosi, dan mengingat anak-anaknya di hadapan Tuhan, bahkan ketika orang lain lupa berdoa.
Jejak panjang peringatan untuk para ibu
Mother’s Day memiliki sejarah yang panjang dan beragam. Yunani dan Romawi kuno menggelar festival untuk menghormati dewi-dewi ibu, sementara di Inggris dikenal tradisi “Mothering Sunday” yang mengajak orang kembali ke gereja ibu mereka dan berkumpul bersama keluarga.
Bentuk modern perayaan ini banyak dikaitkan dengan Anna Jarvis. Ia berkampanye di Amerika Serikat setelah kematian ibunya pada 1905, lalu Presiden Woodrow Wilson secara resmi menetapkan Minggu kedua bulan Mei sebagai Mother’s Day pada 1914.
Seiring waktu, peringatan itu menyebar ke banyak negara, termasuk India. Namun, maknanya tidak berhenti pada ucapan selamat dan hadiah, karena hari itu juga mengingatkan pada beban emosional, fisik, dan spiritual yang dipikul para ibu setiap hari.
Di balik sosok ibu, ada manusia biasa
Budaya modern kerap membangun citra ibu yang serba sempurna. Ungkapan seperti “holy mother”, “mother from heaven”, atau “perfect in every way” memang terdengar memuji, tetapi juga bisa berubah menjadi tekanan yang tidak realistis bagi banyak perempuan.
Ibu yang nyata bukan sosok tanpa lelah, tanpa marah, atau tanpa takut. Mereka bisa mengalami kelelahan, kekecewaan, kesepian, dan ketakutan, sambil tetap menanggung luka emosional dan terus mendukung keluarga.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan pengidealan, melainkan pengertian, penghormatan, dan kebersamaan. Keibuan tidak diukur dari kesempurnaan, tetapi dari kehadiran, ketulusan, dan kemampuan tetap memberi cinta dalam kehidupan sehari-hari.
Keibuan melampaui ikatan biologis
Makna keibuan juga tidak berhenti pada melahirkan anak. Rachel Chrastil dalam bukunya How to Be Childless menekankan bahwa perempuan tanpa anak pun bisa hidup bermakna dan memberi dampak besar bagi orang lain.
Sebagian dari mereka menjadi pengasuh, guru, mentor, teman bagi yang kesepian, atau pendamping bagi komunitas dan gerakan sosial. Dalam pengertian ini, sifat keibuan adalah kemampuan melahirkan kehidupan, harapan, keberanian, dan kebaikan pada sesama.
Sikap “motherly” berarti melihat keindahan yang tersembunyi dalam diri orang lain dan membantu menumbuhkannya. Dari sana, kasih ibu dipahami sebagai cara merawat manusia, bukan semata-mata sebagai status biologis.
Pengorbanan yang bekerja dalam diam
St. Óscar Romero menyebut ada “maternal martyrdom” atau kepahlawanan keibuan yang berjalan dalam keseharian. Pengorbanan itu tidak selalu hadir dalam bentuk dramatis, melainkan dalam tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Seorang ibu menggendong, menyusui, memberi makan, cemas, menunggu, memaafkan, dan mencintai tanpa tepuk tangan. Banyak bagian dari keibuan berlangsung dalam diam, jauh dari perhatian publik.
Paus Fransiskus pernah menyebut para ibu sebagai “antidote” terkuat terhadap penyebaran individualisme yang egois. Dalam pandangan ini, ibu menjaga sisi kemanusiaan dengan mengajarkan anak-anak cara mencintai, percaya, berdoa, dan peduli pada orang lain.
Saat iman pertama kali dikenal lewat ibu
Bagi banyak anak, iman tidak pertama kali datang dari buku atau kelas. Iman lebih dulu hadir lewat suara ibu yang berbisik di malam hari, tanda salib, lilin di depan gambar Maria, atau tangan yang terlipat saat rasa takut datang.
Karena itu, para ibu sering menjadi pintu pertama bagi pengalaman rohani dalam keluarga. Doa yang mereka ucapkan menjadi penyangga yang tak terlihat, tetapi terus bekerja dalam perjalanan hidup anak-anaknya.
Di usia tua, kekuatan seperti ini justru tampak makin jelas. Tubuh melemah, tetapi semangat sering tetap menyala, dan itulah sebabnya banyak keluarga ingin ibu mereka tetap bersama mereka sedikit lebih lama.
Saatnya memuliakan tanpa menghapus sisi manusianya
Mother’s Day seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan komersial. Hari ini juga menjadi momen untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu yang masih ada, mengenang ibu yang telah tiada, dan menghormati nenek, pengasuh, guru, saudari, ibu angkat, serta perempuan lain yang memberi kehidupan lewat cinta dan pengorbanan.
Pesan utamanya sederhana: ibu tidak perlu sempurna untuk layak dihormati. Mereka membawa tanggung jawab luar biasa dengan tangan yang biasa-biasa saja, dan justru di situlah letak kekuatannya.
Karena itu, hadiah paling berarti pada Mother’s Day tidak selalu bunga atau benda mahal. Yang paling dibutuhkan sering kali adalah kehadiran, kesediaan mendengar, rasa terima kasih, dan cinta yang nyata.
Source: www.indiancatholicmatters.org








