
Ketegangan Ukraina-Rusia kembali membayangi Roland Garros saat turnamen memasuki semifinal putri, dengan sorotan tajam mengarah ke Marta Kostyuk dan Diana Shnaider. Pertarungan ini tidak hanya soal tiket ke final, tetapi juga tentang bagaimana para pemain dari kawasan yang terdampak perang membawa beban politik dan emosional ke lapangan.
Di Paris, suasananya terasa berbeda karena empat semifinalis datang dari latar belakang yang beragam, tetapi sama-sama memanfaatkan undian yang terbuka lebar. Siapa pun yang paling mampu menjaga fokus dalam tiga hari ke depan akan menjadi juara Grand Slam pertama kali, sesuatu yang hanya sedikit diperkirakan tiga pekan lalu.
Tekanan di luar garis baseline
Kostyuk menjadi salah satu figur yang paling vokal soal perang di Ukraina. Ia bahkan mendedikasikan setiap kemenangannya di Roland Garros untuk negaranya, sambil berulang kali menyebut bahwa penderitaan orang-orang di rumah menjadi sumber motivasinya untuk terus berprestasi.
Sikap itu kontras dengan Shnaider, yang menolak berbicara soal perang atau pandangannya terhadap konflik tersebut. Keputusan itu memicu kritik lanjutan dari Kostyuk, yang menilai para pemain dewasa tentu paham apa yang sedang terjadi karena mereka punya ponsel, Instagram, dan akses berita.
“Bagaimana Anda bisa tidur nyenyak ketika tahu semua ini sedang terjadi dan Anda tidak mengatakan apa-apa?” ujar Kostyuk. Ucapan itu menegaskan bahwa tensi keduanya melampaui kompetisi olahraga biasa.
Latar belakang yang memengaruhi mental bertanding
Bagi banyak pemain dari wilayah yang terdampak konflik atau tekanan besar, perjalanan menuju level elite sering kali dibentuk oleh rasa lapar untuk bertahan dan membuktikan diri. Mantan petenis nomor lima dunia asal Slovakia, Daniela Hantuchova, menilai ada mentalitas bersama yang membantu pemain dari negara-negara tersebut menentang segala rintangan.
Ia mengatakan, dorongan itu lahir dari keadaan yang memaksa mereka mencari jalan keluar lewat olahraga. “Anda tidak mempertanyakan apa pun yang diperintahkan kepada Anda untuk mencapai tujuan,” kata Hantuchova, seraya menambahkan bahwa titik awal seperti itu menciptakan “rasa lapar luar biasa” dan kemauan untuk melakukan apa pun yang diperlukan.
Pandangan itu sejalan dengan cerita Kostyuk tentang bagaimana jarak dari Ukraina tidak menghapus ikatan emosionalnya dengan perang di rumah. Meski mengakui dirinya beruntung memiliki karier yang membuatnya banyak berada jauh dari Ukraina, ia tetap membawa penderitaan di sana sebagai bahan bakar dalam setiap pertandingan.
Semi-final yang padat dan tak terduga
Dengan Shnaider bertemu petenis kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska, di semifinal lainnya, sebaran geografis para semifinalis putri tahun ini tergolong sangat terkonsentrasi. Namun, konsentrasi itu tidak mengurangi warna cerita yang muncul dari masing-masing pemain dan konteks yang menyertai perjalanan mereka ke empat besar.
Keempat semifinalis menunjukkan ketahanan yang nyata setelah memanfaatkan undian yang longgar di Paris. Mereka merebut kesempatan ketika banyak prediksi awal tidak memosisikan mereka sebagai calon kuat juara.
Dalam situasi seperti ini, fokus mental menjadi pembeda terbesar. Roland Garros kini bukan hanya panggung untuk mencari gelar, tetapi juga arena tempat tekanan, identitas, dan ketegangan geopolitik ikut menempel pada setiap pukulan.
Source: www.bbc.com








