Grup K menjadi salah satu grup paling menarik di Piala Dunia karena mempertemukan wakil dari empat konfederasi berbeda. Portugal, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, dan Uzbekistan membawa gaya main yang kontras, dari tradisi Eropa yang matang hingga debut Asia yang penuh tanda tanya.
Pertarungan paling disorot ada pada duel Portugal dan Kolombia, dua tim yang sama-sama diprediksi punya peluang besar ke babak 32 besar. Portugal diperkirakan finis sebagai juara grup, sementara Kolombia menyusul di posisi kedua.
Kesenjangan kekuatan yang jelas
Secara peringkat FIFA, Portugal duduk di urutan 5 dan menjadi tim terkuat di grup ini. Kolombia menyusul di posisi 13, lalu RD Kongo di 46 dan Uzbekistan di 50.
Jarak peringkat itu membuat persaingan Grup K terasa timpang di atas kertas. Namun, RD Kongo dan Uzbekistan tetap disebut bisa menyulitkan lawan-lawannya lewat karakter permainan masing-masing.
Portugal juga datang dengan beban pengalaman yang paling tebal. Tim ini sudah sembilan kali tampil di Piala Dunia, jauh di atas Kolombia yang mencatat tujuh penampilan.
RD Kongo hanya punya satu pengalaman sebelumnya, yaitu pada edisi 1974 saat masih bernama Zaire. Uzbekistan bahkan datang sebagai tim paling baru karena ini menjadi penampilan pertama mereka di Piala Dunia.
Portugal membawa fleksibilitas dan pengalaman
Roberto Martinez menilai Piala Dunia 2026 berbeda dari turnamen lain karena digelar di tiga negara dan diikuti 48 tim. Menurut pelatih Portugal itu, turnamen ini menjadi yang paling “buas” karena banyak faktor di luar kualitas permainan yang ikut menentukan hasil.
Martinez menegaskan bahwa sukses di Piala Dunia tidak bisa disiapkan dengan rumus yang kaku. Ia melihat lawan, situasi pertandingan, dan keberuntungan sebagai elemen yang sama pentingnya dengan kualitas sepak bola.
Pelatih asal Spanyol itu juga sejalan dengan pandangan Carlo Ancelotti bahwa tim paling tangguh lebih sering menang ketimbang tim terbaik. Ia menyebut adu penalti, keputusan di sepertiga akhir, dan momen bola membentur tiang sebagai pembeda yang sering menentukan.
Portugal pun memasuki turnamen dengan rasa optimistis. Skuad bertalenta ini diyakini mampu menembus perempat final.
Martinez dikenal gemar mengubah taktik sesuai kebutuhan dan berani bereksperimen. Ia bisa memakai skema 4-4-3, 4-2-3-1, atau 3-4-2-1.
Pendekatan itu bertumpu pada pemain belakang yang punya naluri menyerang seperti Nuno Mendes. Ia juga mengandalkan Bruno Fernandes dan Bernardo Silva di lini tengah, sambil tidak terlalu memprioritaskan dominasi bola.
Kolombia datang sebagai underdog yang berbahaya
Kolombia menawarkan daya tarik yang berbeda lewat permainan yang memukau dan kualitas individu pemainnya. Penampilan terbaik mereka terjadi pada edisi 2014 saat melangkah sampai perempat final sebelum dihentikan Brasil.
Dalam turnamen ini, Kolombia diposisikan sebagai underdog dari Amerika Selatan. Brasil dan Argentina lebih difavoritkan, tetapi status itu justru memberi keuntungan karena mereka bisa bermain tanpa beban.
Laga Kolombia melawan Portugal berpotensi menjadi penentu juara Grup K. Kolombia bahkan masih punya peluang merebut posisi puncak jika Portugal terpeleset.
Skuad Kolombia akan dipimpin James Rodriguez, yang disebut menjalani Piala Dunia terakhirnya sebelum pensiun. Gelandang itu pernah menjadi bintang utama Kolombia saat meraih Sepatu Emas Piala Dunia 2014 dengan enam gol.
Secara keseluruhan, Rodriguez sudah mencetak 31 gol untuk timnas Kolombia. Di bangku pelatih, ada Nestor Lorenzo asal Argentina yang pernah tampil di Piala Dunia 1990 sebagai bek.
Lorenzo membawa Kolombia ke final Copa America 2024 dan lolos ke Piala Dunia meski melewati kualifikasi yang tidak mulus. Formasi favoritnya adalah 4-2-3-1 dengan bek yang agresif membantu serangan dan gelandang kreatif sebagai poros utama.
Kolombia juga cenderung memakai blok tengah dan mengutamakan transisi. Sebuah pandangan di kubu mereka menegaskan bahwa permainan kolektif dan semangat pantang menyerah lebih penting daripada perdebatan taktik.
RD Kongo datang dengan dorongan dan gangguan sekaligus
RD Kongo lolos ke Piala Dunia 2026 secara dramatis setelah menaklukkan Jamaika 1-0 di playoff. Kemenangan itu disambut gembira oleh rakyat yang sudah lama hidup dalam tekanan perang saudara.
Keberhasilan itu juga sedikit meredakan konflik antara pemerintah dan pemberontak M23. Kedua pihak bahkan menyampaikan ucapan selamat atas lolosnya tim nasional.
Namun, persiapan RD Kongo tidak berjalan mulus. Wabah ebola memaksa rencana pemusatan latihan di Kinshasa dibatalkan dan dipindahkan ke Belgia.
Pemerintah Amerika Serikat juga mewajibkan tim Kongo diisolasi selama 21 hari sebelum masuk ke negara itu. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi Les Leopards jelang tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Pelatih Sebastien Desabre membawa pendekatan yang fleksibel dan tidak kaku pada taktik. Ia lebih menekankan permainan kolektif dan semangat pantang menyerah ketimbang perdebatan skema.
RD Kongo biasanya bermain dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-4-2. Kekuatan utamanya datang dari para pemain diaspora yang berkiprah di Eropa.
Desabre memanggil empat pemain yang tampil di Liga Inggris, yaitu Yoane Wissa, Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, dan Noah Sadiki. Selain itu masih ada nama penting seperti Chancel Mbemba yang menjadi kapten dan sudah lebih dari 100 kali membela timnas, serta Cedric Bakambu di lini depan.
Uzbekistan mencoba menepis status debutan
Uzbekistan datang ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, tetapi status debutan tidak otomatis membuat mereka mudah disingkirkan. Sebagian besar pemain mereka memang tampil di liga lokal, namun beberapa sudah merasakan sepak bola Eropa.
Di antara nama penting itu ada Abbosbek Fayzullayev dan Eldor Shomurodov yang bermain di Liga Turki. Uzbekistan juga punya Abdukodir Khusanov, bek yang menanjak bersama Manchester City.
Tim berjuluk Serigala Putih ini kini dibesut Fabio Cannavaro. Legenda Italia dan kapten saat negaranya juara Piala Dunia 2006 itu menggantikan Timur Kapadze, sosok yang berjasa besar membawa Uzbekistan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kali.
Pergantian itu memunculkan kontroversi karena terkait preferensi taktik. Kapadze dikenal mengusung sepak bola menyerang, sementara itu dinilai kurang cocok untuk kebutuhan Uzbekistan di Piala Dunia.
Cannavaro dipandang lebih memahami strategi bertahan yang menguntungkan tim. Dengan latar itu, Uzbekistan berharap bisa menebus minimnya pengalaman lewat organisasi permainan yang lebih rapi dan disiplin.
Source: www.kompas.id