Rupiah yang sempat nyaris menembus Rp18.200 per dolar AS akhirnya berbalik menguat dan meninggalkan level Rp18 ribu. Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan menaikkan BI Rate 25 basis poin ke 5,5 persen.
Pada perdagangan Rabu, rupiah ditutup di level Rp17.944 per dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63 persen. Namun, pada Kamis sore, rupiah sempat kembali tertekan ke Rp17.988 per dolar AS, sehingga arah pasar masih bergerak dinamis.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai keputusan BI menjadi faktor utama yang memperbaiki sentimen terhadap rupiah. Menurut dia, sinyal bank sentral yang memberi ruang lebih besar untuk menaikkan suku bunga lagi ikut membantu pasar membaca arah kebijakan yang lebih tegas.
Lukman mengatakan, rapat mingguan BI juga memperkuat sinyal bahwa otoritas moneter memiliki kelonggaran untuk kembali mengetatkan kebijakan bila diperlukan. Ia menyebut langkah itu membuat pelaku pasar menilai BI lebih siap menjaga stabilitas nilai tukar.
Efek kebijakan fiskal dan sentimen pasar
Selain faktor moneter, pasar juga merespons kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik Rp3.950 per liter.
Lukman menilai kenaikan harga Pertamax memberi sentimen positif karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara. Dari sisi pasar, langkah ini dipandang dapat membantu memperkuat persepsi bahwa beban fiskal bisa lebih ringan.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra melihat penguatan rupiah tidak hanya disokong oleh suku bunga BI. Ia menduga ada intervensi dari otoritas, karena rupiah dan IHSG sama-sama menguat pada saat yang berdekatan.
Ariston menilai intervensi itu bertujuan mendukung efektivitas kenaikan suku bunga acuan yang diumumkan secara mendadak awal pekan ini. Dengan begitu, kebijakan moneter dan langkah penjagaan pasar bergerak saling menguatkan.
Kepercayaan dan stabilitas jadi sorotan
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau investor yang masih memegang dolar AS untuk mempertimbangkan melepas kepemilikannya. Ia menilai kepercayaan terhadap pemerintah ikut menguat dan berdampak pada pasar keuangan.
Menurut Dasco, sentimen positif itu turut menopang penguatan rupiah. Ia menyampaikan pandangan tersebut di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, sambil menyoroti bahwa pasar kini merespons kombinasi kebijakan dan kepercayaan yang lebih baik.
Sebelum berbalik arah, rupiah memang sempat berada di bawah tekanan berat. Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Senin siang, rupiah berada di Rp18.196 per dolar AS atau melemah 0,89 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Source: www.cnnindonesia.com






