Lima film setelah film pertama, sulit menentukan mana yang paling pantas disebut “Toy Story” terbaik. Yang terasa jelas justru satu hal: rangkaian ini kini berdiri sebagai warisan besar yang utuh, dan “Toy Story 5” datang seperti penutup yang lincah, mengharukan, dan nyaris tak tertahankan.
Film ini bekerja bukan hanya sebagai sekuel, tetapi sebagai cerminan seluruh seri. Di dalamnya ada nostalgia masa kecil, ketegangan ego, slapstick yang liar, dan rasa hangat yang selama ini membuat “Toy Story” berbeda dari animasi keluarga lain.
Tema kehilangan yang kini berubah arah
Selama tiga dekade, “Toy Story” bergerak makin dalam ke tema kehilangan. Film-filmnya memperlihatkan para mainan, dari Woody dan Buzz yang terus bertengkar sampai Jessie yang kini lebih banyak jadi pusat perhatian, menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan pergi.
Di “Toy Story 5”, tema itu bergeser menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan zaman ini: lenyapnya permainan itu sendiri. Bonnie, yang berusia 8 tahun, masih bermain dengan Jessie dan Bullseye, tetapi ia kesulitan berteman dengan anak-anak lain di lingkungan sekitar.
Alasannya sederhana sekaligus menyedihkan. Tidak ada lagi yang bermain dengan mainan, karena anak-anak kini sibuk dengan layar mereka.
Lilypad dan perubahan cara anak berhubungan
Kehadiran Lilypad, tablet anak berbentuk kodok hijau yang bisa bicara, memperkuat perubahan itu. Bonnie cepat terpikat dan merasa bisa mendapat teman dengan cepat lewat koneksi digital.
Dalam waktu singkat, ia sudah mendapat janji bermain. Namun film ini menegaskan bahwa teman yang lahir dari koneksi teknologi tidak sama dengan teman yang berbagi ruang dan benar-benar bermain bersama.
“Toy Story 5” juga membahas apa yang disebut imaginative play, atau bermain dengan daya khayal. Film ini menggambarkannya sebagai dimensi penting ketika dunia di kepala anak dibawa keluar ke dunia nyata.
Saat momen itu muncul, visual film berubah menjadi rangkaian adegan komedi dengan warna fluoresen yang mencolok. Gerak ceritanya terasa seperti lahir langsung dari kepala anak kecil.
Jessie, Woody, dan tim mainan lama
Upaya membawa Bonnie kembali ke dunia bermain tidak mudah. Jessie dan Bullseye akhirnya kembali ke rumah pertanian tempat Emily, anak pertama Jessie, dulu tinggal, lalu bertemu Blaze, anak berusia 9 tahun di sana.
Untuk menggerakkan cerita, Jessie dan Woody harus bekerja keras bersama para mainan lama lainnya. Mereka juga dibantu tiga perangkat teknologi primitif yang berdiri di antara dunia analog dan digital, yakni Smarty Pants, Snappy, dan Atlas.
Ancaman terbesar datang dari sekelompok Buzz Lightyear yang terjebak dalam demo mode. Mereka digabungkan menjadi Multi-Buzz, sebuah pasukan yang dipimpin oleh tokoh yang digambarkan sangat berani.
Andrew Stanton dan lapisan cerita yang padat
Andrew Stanton, yang sebelumnya dikenal lewat “Wall-E” dan kini pertama kali memimpin film “Toy Story”, membawa lapisan cerita yang padat dan ambisius. Ia tidak sekadar membuat pertarungan antara mainan lama dan layar baru.
Film ini tidak memosisikan teknologi sebagai musuh mutlak. Sebaliknya, teknologi digambarkan sebagai ranah metafisik baru dalam semesta anak-anak, meski tetap membawa risiko besar bagi cara mereka tumbuh.
Di tengah kerumitan itu, inti cerita tetap jelas. Jessie dan timnya berusaha membuat Bonnie dan Blaze bisa punya playdate, karena keduanya masih berada di dunia nyata, bukan di dunia virtual.
Joan Cusack memberi Jessie karakter yang keras kepala, hangat, dan jenaka dengan dialog khasnya. Sementara itu, Tom Hanks membuat Woody yang mulai menua terasa rapuh sekaligus tangguh.
Humor, emosi, dan pesan yang tajam
Hubungan romantis Jessie dan Buzz juga memberi lapisan komedi yang lembut. Saat Buzz datang dengan kuda putri bersayap, film ini menampilkan salah satu momen yang paling terasa seperti “Toy Story” pada puncaknya.
Ketegangan ceritanya terus naik sampai ke bagian klimaks yang disebut harus dilihat sendiri. Namun film ini tidak hanya mengandalkan kelucuan dan kemegahan, karena beberapa momennya memukul dengan rasa kehilangan yang kuat.
Pada akhirnya, “Toy Story 5” bertanya hal yang sangat relevan: bagaimana anak-anak akan saling terhubung di era yang mendorong mereka tumbuh terlalu cepat lewat kehidupan virtual. Jawaban film ini tegas dan sederhana, yaitu pelan-pelan, jadilah nyata, dan bermainlah.
Source: variety.com






