
Kekhawatiran orang tua calon siswa baru di Kabupaten Bogor mencuat saat proses pendaftaran ke SMA Negeri 3 Cibinong berjalan dengan ketentuan domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru. Sejumlah orang tua menilai kebijakan itu tidak membantu warga yang benar-benar tinggal dekat sekolah, termasuk mereka yang rumahnya berada sangat dekat dengan lokasi pendidikan.
Salah satu keluhan datang dari Zarkasi, warga Perumahan Bogor Asri Blok AB 1 Nomor 16, Cibinong. Ia mengatakan rumahnya hanya sekitar 50 meter dari SMA Negeri 3 Cibinong dan sudah dimiliki lebih dari 10 tahun.
Domisili nyata berbenturan dengan data KK
Zarkasi menjelaskan bahwa rumah tersebut miliknya dan ia bisa menunjukkan sertifikat kepemilikan. Ia juga menyebut ibunya dimakamkan di lingkungan setempat, sebagai penguat bahwa dirinya benar-benar hidup di kawasan itu.
Masalah muncul karena Kartu Keluarga miliknya masih tercatat di Nanggewer Mekar, yang jaraknya sekitar 1,2 kilometer dari sekolah. Menurut dia, sistem pendaftaran tidak menerima domisili yang sebenarnya karena mengutamakan data KK.
Ia menilai kondisi riil tempat tinggal seharusnya ikut dipertimbangkan. Zarkasi juga berharap sekolah bisa melakukan pengecekan langsung ke lapangan agar anaknya tetap bisa diterima di SMA Negeri 3 Cibinong.
Sekolah hanya jalankan aturan sistem
Wakil Kepala SMA Negeri 3 Cibinong, Iwan, menegaskan pihak sekolah tidak punya kewenangan mengubah data yang sudah masuk dalam sistem. Ia mengatakan sekolah hanya menjalankan ketentuan pemerintah sesuai mekanisme yang berlaku.
Menurut Iwan, sekolah hanya menjadi operator pelaksana dalam proses pendaftaran. Ia menyebut tidak ada pihak yang bisa mengintervensi sistem, termasuk pejabat, tokoh masyarakat, maupun presiden.
Sorotan soal kejujuran dalam penerimaan
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor, KH Achmad Yaudin Sogir, menilai kejujuran harus menjadi dasar utama dalam sistem penerimaan siswa baru. Ia mengatakan calon siswa yang benar memiliki rumah dan berdomisili di wilayah tersebut semestinya tetap mendapat pertimbangan.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat yang jujur tidak dirugikan oleh celah administrasi. Di tengah ketentuan yang ketat, orang tua calon siswa kini berharap ada jalan keluar agar anak mereka tetap bisa bersekolah di negeri yang dekat dengan rumah.









