Ketegangan antara Polandia dan Ukraina kembali menguat setelah simbol kehormatan negara itu ikut terseret ke dalam perdebatan sejarah Perang Dunia II. Donald Tusk memperingatkan bahwa konflik politik antara kedua negara adalah kesalahan strategis yang akan merugikan keduanya, baik secara bisnis, geopolitik, maupun reputasi.
Pemicunya adalah keputusan presiden Polandia Karol Nawrocki mencabut penghargaan tertinggi Polandia, Order of the White Eagle, dari Volodymyr Zelenskyy. Langkah itu memicu reaksi keras dan membuat tiga mantan presiden Ukraina serta sejumlah pejabat senior mengembalikan penghargaan negara mereka kepada Polandia.
Perselisihan lama yang kembali terbuka
Nawrocki mengambil langkah itu setelah Zelenskyy membuat banyak warga Polandia marah dengan menamai sebuah unit tentara Ukraina menggunakan nama Ukrainian Insurgent Army. Kelompok nasionalis itu pernah melakukan pembantaian terhadap warga Polandia selama Perang Dunia II.
Tusk, yang memimpin koalisi pro-Eropa sejak 2023, menilai ikut terseret ke dalam konflik politik Polandia-Ukraina hanya akan memperburuk keadaan. Dalam unggahan di X, ia menegaskan bahwa kesalahan semacam itu lebih buruk daripada kejahatan dalam politik.
Zelenskyy juga berusaha meredakan ketegangan melalui wawancara yang diunggah di X. Ia mengatakan Ukraina dan Polandia tidak bisa menjadi apa pun selain mitra dan sahabat, sambil memperingatkan bahwa pertarungan politik dapat berujung pada eskalasi yang sangat berbahaya.
Ia menambahkan bahwa prajurit Ukraina memilih sendiri nama heroik untuk unit mereka. Namun sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi, ia merasa harus mendukung keputusan itu.
Bayangan perang masih membentuk hubungan bilateral
Zelenskyy juga menekankan bahwa tanpa Ukraina, tidak ada yang akan mampu mempertahankan Polandia. Pernyataan itu menunjukkan betapa hubungan keamanan kedua negara tetap saling terkait di tengah perang yang masih berlangsung.
Di saat yang sama, pertikaian simbolik ini muncul ketika Ukraina terus meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Serangan itu diarahkan ke fasilitas-fasilitas penting jauh di belakang garis depan, termasuk depot minyak di Crimea dan fasilitas transportasi minyak di wilayah Krasnodar, menurut Zelenskyy.
Ia menyebut operasi itu sebagai bagian dari “sanksi jarak jauh” terhadap infrastruktur energi Rusia. Zelenskyy mengatakan kekuatan jarak jauh Ukraina bekerja untuk perdamaian karena Rusia hanya memahami kekuatan.
Crimea hadapi krisis bahan bakar terburuk sejak aneksasi
Di Crimea yang diduduki Rusia, otoritas yang dipasang Kremlin menangguhkan penjualan bensin untuk warga sipil. Kepala Crimea yang ditunjuk Kremlin mengatakan serangan Ukraina menewaskan empat orang dan melukai 28 lainnya dalam semalam.
Mulai saat itu, stasiun pengisian bahan bakar hanya boleh menjual bensin kepada lembaga pemerintah. Wilayah semenanjung itu memang pernah mengalami kelangkaan bahan bakar akibat serangan Ukraina, tetapi krisis kali ini disebut sebagai yang terburuk sejak aneksasi pada 2014.
Media sosial dipenuhi permintaan bahan bakar, sementara sebagian spekulan menjual bensin dengan harga dua kali lipat dari harga pasar. Kondisi itu menunjukkan tekanan ekonomi langsung dari serangan terhadap sektor energi.
Tekanan ke sektor minyak Rusia makin besar
Ukraina dalam beberapa bulan terakhir juga meningkatkan serangan drone ke fasilitas energi di Rusia. Serangan itu menjangkau target jauh dari garis depan, termasuk sebuah kilang besar di Moskow yang dihantam dua kali pekan lalu.
Kiev mengatakan sasaran serangan itu adalah memangkas pendapatan minyak yang dipakai Rusia untuk membiayai perang. Sebagian stasiun bensin di Rusia, negara produsen minyak terbesar ketiga di dunia, bahkan mulai menerapkan pembatasan bahan bakar bulan ini.
Larangan ekspor bahan bakar juga telah berlaku sejak April. Energy Intelligence, firma riset energi yang berbasis di AS, sebelumnya menyebut sekitar sepertiga kapasitas penyulingan minyak Rusia telah berhenti beroperasi akibat serangan Ukraina.
Dampak serangan juga terasa di udara Moskow
Otoritas penerbangan Rusia sempat menutup empat bandara Moskow pada Senin setelah gelombang drone berhasil dicegat. Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan di Telegram bahwa 59 drone yang menuju kota itu telah dihancurkan.
Kyiv mengirim drone ke wilayah Rusia sebagai balasan atas pemboman Moskow terhadap kota-kota Ukraina, meski Sobyanin tidak menyebut drone itu berasal dari Ukraina. Otoritas kemudian mengumumkan pada pukul 5.39 pagi bahwa bandara sudah dibuka kembali.
Di tengah pertempuran yang terus meluas, serangan di medan perang dan ketegangan politik di Eropa Timur kini saling bertemu. Perselisihan simbol sejarah antara Polandia dan Ukraina menambah lapisan baru pada perang yang sudah memberi tekanan besar pada keamanan regional dan hubungan diplomatik kedua negara.
Source: www.theguardian.com






