Pemerintah kembali menunda insentif motor listrik yang sebelumnya dinanti industri dan konsumen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut program itu masih dikaji dan ditunda sebulan.
Penundaan ini membuat janji insentif kendaraan listrik yang sempat disampaikan tahun ini belum juga terealisasi. Padahal, rencana awal program tersebut disebut akan mulai berjalan pada Agustus.
Airlangga mengatakan pemerintah belum memutuskan pelaksanaannya karena pembahasan masih berlangsung. Ia juga menegaskan penundaan itu terjadi karena skema insentif masih dalam proses pengkajian.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengungkap besaran insentif motor listrik yang disiapkan pemerintah. Nilainya Rp 5 juta per unit, lebih kecil dibanding subsidi motor listrik pada 2024 yang mencapai Rp 7 juta.
Purbaya juga menyebut jatah awal insentif itu untuk 100.000 unit motor listrik. Jika kuota habis, pemerintah disebut akan menambah lagi jumlah penerima insentif.
Di tengah penundaan tersebut, industri motor listrik dalam negeri masih menghadapi tekanan. Penjualan sepeda motor listrik pada 2025 tercatat turun 28,6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data Kementerian Perhubungan melalui Sistem Registrasi Uji Tipe mencatat penjualan motor listrik sepanjang 2025 hanya 55.059 unit. Angka itu turun dari 77.078 unit pada 2024, tetapi masih menunjukkan minat masyarakat belum hilang.
Ketidakjelasan subsidi disebut menjadi salah satu faktor utama pelemahan pasar. Tahun lalu, pemerintah sempat menjanjikan insentif motor listrik, namun hingga akhir 2025 tidak ada insentif yang benar-benar diberikan.
Meski tanpa insentif, sebagian produsen motor listrik di Indonesia masih mencari cara untuk menjaga daya saing. Salah satunya lewat skema sewa baterai yang membuat harga on the road motor listrik terlihat lebih kompetitif.
