Rupiah Kembali Menyentuh Rp 17.960, Tekanan Dolar AS dan Sinyal Domestik Belum Reda

Author: Qoo Media

Nilai tukar rupiah kembali berada sangat dekat dengan ambang psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah bergerak di kisaran Rp 17.960 dan melemah 0,57 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan kali ini datang dari dua arah sekaligus, yakni penguatan dolar AS di pasar global dan sentimen domestik yang belum mereda. Dalam tahun kalender berjalan, depresiasi rupiah sudah tercatat 7,66 persen.

Dolar AS makin kuat, aset aman diburu

Di pasar global, indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia atau DXY naik ke 101,48, level tertinggi dalam 13 bulan sejak Mei 2025. Penguatannya mencapai 2 persen dalam sepekan dan 3 persen sepanjang tahun berjalan.

Kenaikan itu dipicu pergeseran arus modal dari saham teknologi ke aset aman atau safe haven. Permintaan terhadap dolar AS dan obligasi pemerintah AS meningkat, sementara saham teknologi dan semikonduktor tertekan sehingga saham global ikut anjlok.

Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank, Ray Attrill, mengatakan dolar AS masih menjadi aset safe haven pilihan. Ia menilai pasar melihat peralihan ke aset aman sebagai momentum yang menguntungkan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS juga ikut memperkuat dolar. Pasar memperkirakan peluang kenaikan 25 bps sebesar 37 persen pada Juli 2026 dan 70 persen pada September 2026.

Tekanan dari dalam negeri belum hilang

Di dalam negeri, pasar juga mencermati pengumuman MSCI soal status pasar saham Indonesia. Faktor lain yang ikut menekan rupiah adalah iklim investasi, arah kebijakan fiskal, dan kekhawatiran investor asing terhadap transparansi data.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai rupiah kembali melemah tajam 100 poin ke Rp 17.960 per dolar AS. Ia menyebut sentimen MSCI menjadi salah satu pemicunya.

Pada Rabu (24/6/2026) dini hari WIB, MSCI mengumumkan perpanjangan evaluasi peninjauan indeks saham Indonesia dan reklasifikasi status pasar saham RI di jajaran emerging market hingga November 2026. MSCI masih menunggu perbaikan terkait transparansi perdagangan saham.

Ibrahim menyebut perhatian investor juga tertuju pada isu free float dan transparansi data. Menurut dia, hal itu menjadi persoalan bagi investor asing meski Indonesia tetap dipertahankan di emerging market.

Fiskal, manufaktur, dan musim dividen ikut menekan

Selain sentimen pasar modal, investor juga menyoroti hengkangnya dua perusahaan komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Perpindahan itu dipandang sebagai sinyal pelemahan daya saing industri manufaktur dan berisiko memicu PHK.

Pasar juga mencermati utang jatuh tempo pemerintah dan defisit fiskal yang berisiko menembus batas maksimal 3 persen. Ibrahim menilai defisit anggaran kemungkinan ikut naik, sementara pagu APBN 2026 menunjukkan defisit maksimal 2,68 persen.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor musiman pada periode Juni. Permintaan dolar AS cenderung meningkat karena pembagian dividen oleh korporasi dan pembayaran utang jatuh tempo pemerintah.

Sebelumnya, rupiah sempat menembus level Rp 18.000 pada 4 Juni lalu. Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan tiga kali dalam sebulan, dengan total 100 basis poin ke level 5,75 persen, tetapi rupiah masih melemah 2,92 persen dari rata-rata sebelum kenaikan suku bunga.

Source: www.kompas.id
Terbaru