Gelombang panas di Philadelphia diperkirakan menjadi faktor besar saat Perancis menghadapi Paraguay dalam perebutan tiket perempat final. Laga di Stadion Lincoln Financial itu akan dimainkan dalam kondisi yang dinilai sangat ekstrem, dengan suhu mencapai 38 derajat celsius dan terasa seperti 40 derajat celsius.
National Weather Service bahkan sudah mengeluarkan peringatan suhu ekstrem untuk area tersebut. Bagi Perancis, tantangannya bukan hanya menghadapi lawan yang sedang percaya diri, tetapi juga menjaga intensitas permainan di cuaca yang menguras tenaga.
Cuaca jadi ujian tambahan
Prakiraan Accuweather menyebut pertandingan yang dimulai pukul 17.00 waktu setempat akan berlangsung di bawah panas yang sangat tinggi. Didier Deschamps mengakui kondisi itu akan berpengaruh pada jalannya laga.
Pelatih Perancis itu mengatakan situasi serupa pernah ia rasakan saat menonton semifinal dan final Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat tahun lalu. Menurutnya, panas memang memberi dampak nyata pada pemain di lapangan.
Deschamps menegaskan timnya tidak bisa memilih kondisi pertandingan. Karena itu, Perancis berusaha beradaptasi dan mengantisipasi semua kemungkinan sejak awal.
Perancis menyiapkan penyeimbang permainan
Di sisi taktik, Deschamps menempatkan Aurélien Tchouaméni dan Adrien Rabiot sebagai figur penting untuk menjaga keseimbangan tim. Keduanya diminta membantu melindungi lini belakang sekaligus mendukung aliran serangan.
Perancis juga masih bertumpu pada Kylian Mbappe sebagai senjata utama di lini depan. Mbappe saat ini bersaing dalam perebutan gelar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan enam gol, tertinggal satu gol dari Lionel Messi yang mengoleksi tujuh gol.
Michael Olise diproyeksikan memberi kreativitas untuk membongkar pertahanan Paraguay yang diprediksi rapat. Dari kubu pemain, Desire Doue juga mengakui panas akan memengaruhi performa, tetapi ia menegaskan skuad Les Bleus sudah siap.
Paraguay datang dengan rasa percaya diri
Perancis memang diunggulkan atas Paraguay, tetapi Les Bleus tidak ingin menganggap enteng lawannya. Doue menegaskan timnya tetap fokus pada permainan sendiri dan tidak mau bernasib seperti Jerman yang disingkirkan Paraguay lewat adu penalti.
Deschamps pun mengingat kembali pengalamannya melawan Paraguay pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Saat itu, Perancis menang lewat gol sudden death Laurent Blanc pada menit ke-114 sebelum akhirnya meraih gelar juara.
Ia menilai duel kali ini akan berbeda karena Paraguay datang dengan kualitas dan semangat tinggi. Deschamps menyoroti Julio Enciso dan Miguel Almiron sebagai dua pemain dengan kemampuan teknik yang menonjol.
Alfaro menilai panas berlaku untuk kedua tim
Dari kubu Paraguay, Gustavo Alfaro mengatakan kemenangan bersejarah atas Jerman sudah ditinggalkan. Fokus timnya kini sepenuhnya tertuju pada Perancis.
Alfaro menekankan pentingnya fleksibilitas taktik, termasuk kemampuan bertahan dalam blok rendah tanpa kehilangan ancaman menyerang. Ia juga menyoroti peran Matías Galarza dan Diego Gómez sebagai pemain serbabisa yang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan berbeda di lapangan.
Soal cuaca, Alfaro menilai panas tidak otomatis menjadi keuntungan bagi Paraguay meski mereka terbiasa bermain di suhu tinggi. Menurutnya, kondisi itu tetap menyulitkan kedua tim, karena laga fase gugur di jam seperti itu bukanlah kebiasaan di Paraguay.
Ia membandingkan situasi di Philadelphia dengan keunggulan Meksiko saat bermain di ketinggian Stadion Azteca, yang didukung latihan panjang di tempat yang sama. Alfaro menilai keuntungan kecil justru dimiliki tim yang paling siap menghadapi situasi ekstrem.
