Kanada Vs Maroko, Singa Atlas Yang Lebih Teruji Di Ujian Besar

Author: Qoo Media

Laga Kanada kontra Maroko di fase 16 besar Piala Dunia 2026 memunculkan satu pembeda yang cukup jelas: Singa Atlas datang dengan ujian yang jauh lebih berat. Maroko sudah menghadapi Brasil dan Belanda, dua lawan yang membuat mereka tampil matang di panggung besar.

Kanada memang tampil mengejutkan dan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kali dalam sejarah mereka. Namun, Maroko membawa pengalaman yang lebih panjang, lebih keras, dan lebih terukur di turnamen ini.

Maroko lebih dulu ditempa lawan besar

Maroko tidak terkalahkan dalam perjalanan menuju babak 16 besar. Mereka menahan Brasil, lalu memaksa Belanda bertarung sampai adu penalti dan menang pada babak 32 besar.

Bagi Kanada, jalan ke fase gugur tidak seberat itu. Tim asuhan Jesse Marsch sempat kalah dari Swiss di fase grup dan hanya ditahan Bosnia Herzegovina, tim yang berperingkat di bawah mereka.

Secara sejarah turnamen, Maroko juga lebih sering tampil di Piala Dunia. Ajang ini menjadi Piala Dunia kedelapan mereka, sementara Kanada baru menjalani yang ketiga.

Statistik yang tidak sepenuhnya searah

Kanada justru unggul dalam produktivitas serangan. Mereka mencetak 9 gol, melepaskan 71 peluang, 29 di antaranya tepat sasaran, dan membukukan xG 8,33, yang menjadi kelima terbaik di antara 48 tim.

Maroko menghasilkan 7 gol, 50 peluang, 21 tembakan tepat sasaran, dan xG 5,55. Namun, angka itu lahir saat mereka menghadapi lawan yang jauh lebih berat, termasuk Brasil yang berperingkat 5 dan Belanda yang berperingkat 8.

Di sisi lain, Maroko lebih dominan dalam penguasaan bola. Mereka mencatat rata-rata 55 persen dan berada di urutan ke-9 dari 48 tim, sedangkan Kanada ada di urutan ke-20 dengan 49 persen.

Dominasi kolektif Singa Atlas

Kekuatan Maroko tidak hanya terlihat dari hasil akhir. Mereka mendikte tiga dari empat pertandingan pertama dan membuat lawan kesulitan berkembang di hampir semua lini.

Belanda, yang dikenal kuat dalam sepak bola menyerang, bahkan hanya mendapat 30 persen distribusi bola saat menghadapi Maroko. Tekanan Maroko juga hidup saat menyerang dan saat bertahan.

Dalam fase defensif, Maroko menjadi tim terkuat kedua setelah Paraguay dalam pressing. Mereka mencatat 218 sentuhan pressing, jauh di atas Kanada yang membukukan 171 dan berada di peringkat ke-13.

Tekanan itu membuat lawan kesulitan menciptakan peluang bersih. Belanda hanya menghasilkan 7 peluang dan 3 tembakan tepat sasaran, sementara Maroko sendiri mencatat 6 peluang on target.

Kanada kuat di sayap, tetapi diuji pada level berbeda

Kanada agresif ketika memasuki sepertiga akhir. Sekitar 62 persen dari total sentuhan mereka memanfaatkan lebar lapangan, dan kedua sisi serangan mereka terlihat sama aktif.

Alistair Johnston dan Tajon Buchanan memberi ancaman dari kanan, sedangkan Richie Laryea dan Liam Millar bergerak tajam di kiri. Jika Alphonso Davies bermain penuh, sisi kiri Kanada bisa menjadi lebih berbahaya.

Masalahnya, Davies belum tampil sebagai starter karena terus dibayangi cedera. Ia hanya turun sebagai pemain pengganti saat Kanada menaklukkan Afrika Selatan pada babak 32 besar.

Pertarungan sayap dan poros tengah

Laga ini juga mempertemukan dua sisi permainan yang menarik. Banyak penikmat sepak bola membayangkan duel antara sayap kiri Kanada yang berisi Davies dan sayap kanan Maroko yang dipimpin Achraf Hakimi.

Hakimi berperan besar sebagai arsitek serangan Maroko. Ia melepaskan 13 peluang hingga babak 32 besar dan mengambil 62 persen dari total percobaan gol Maroko dalam empat laga.

Hakimi juga menjadi pemain Maroko paling efektif dalam manuver lini ke lini, meski frekuensinya masih di bawah bek kanan Kanada, Alistair Johnston. Hakimi mencatat 56 kali, sedangkan Johnston 70 kali.

Namun, kekuatan Maroko tidak bergantung pada satu pemain. Ismael Saibari sudah mencetak tiga gol dan juga menjadi pemain Maroko dengan pressing terbanyak, 171, sedikit di atas catatan Jonathan David yang juga sudah mengoleksi tiga gol dengan 169 pressing.

Di lini tengah, Kanada harus menghadapi poros ganda Neil El Ayanoui dan Ayyoub Boudaddi. Stephen Eustaquio memimpin sektor tengah Kanada, tetapi gelandang-gelandang Maroko dinilai lebih teruji karena sudah menghadapi nama-nama elite seperti Casemiro dan Frenkie de Jong.

Keunggulan pengalaman menjadi pembeda

Maroko datang sebagai tim berperingkat 6 dunia dan baru enam bulan lalu menjuarai Piala Afrika. Mereka juga pernah finis peringkat keempat dunia di Qatar empat tahun silam, sehingga pengalaman bertanding di fase besar lebih kuat.

Kanada berada di peringkat 30 dan belum pernah melalui ujian seberat yang sudah dijalani Maroko. Karena itu, Maroko lebih diunggulkan untuk memenangi laga ini di Houston Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (5/7) pukul 00.00 WIB.

Walau Kanada punya produktivitas yang menarik dan serangan sayap yang aktif, Maroko hadir dengan struktur permainan yang lebih solid, pressing yang lebih rapat, dan lawan yang jauh lebih berat sepanjang turnamen. Itu membuat Singa Atlas terlihat sebagai tim yang lebih siap untuk melangkah lebih jauh.

Source: ambon.antaranews.com
Terbaru